Ekspatriat Terbanyak di Dunia

“Sulaymaniah?” tanyaku sambil sikut-sikutan di pintu angkot.

Tahu bagaimana suasana berebutan naik bus saat mudik, khan? Yah begitulah kondisinya saat saya mau naik angkot. Sulaymaniah adalah jurusan angkot itu, salah satu kawasan industri di Jeddah yang sebagian besar pekerjanya berasal dari Bangladesh, India, dan Pakistan.

Saat itu sekitar jam 10 malam. Saya baru saja selesai cuci mata, ops.. maksudnya jalan-jalan di Corniche Mall daerah Al-Balad. Sebagai mahasiswa perantau, sudah sepatutnya saya prihatin dengan kondisi bangsa, hehe.. maksudnya kondisi kantong yang tipis yang masih memikirkan besok masih bisa makan apa nggak, sehingga saya mesti berhemat ria dalam mengeluarkan sebutir riyal. Apa yang saya lakukan malam itu adalah naik angkot murah meriah, dan yang terpenting adalah selamat sampai asrama tercinta dengan tertawa 😀 ops.. maksudnya tersenyum 🙂

Gbr.(1) Corniche Mall di daerah Al Balad

Mobil riyalen. Begitulah orang menyebutnya yang narik cuma di hari Jumat. Riyalen itu artinya dua riyal. Angkot itu bisa berupa mini bus maupun mobil van yang sebenarnya bukan angkutan umum, tapi dipakai untuk antar jemput karyawan pabrik. Lumayan kan cuma dua riyal, soalnya kalau pakai taksi setidaknya 15 riyal harus melayang dari dompet kulit onta . Hemm, jadi ingat pesan emak,”Angger esih nyekolah, mesti prihatin, ajja ngguang-ngguang duit nggo sing ora-ora, apa maning kowen pan mbojo mengkone” 🙂

Sesaat berada di dalam angkot, terdengar suara teriakan cukup keras dari sang sopir.

“Muhammad, wara’ khomsah! Lish inta arba?” 

Sang sopir meminta penumpang yang duduk di belakang supaya jatah empat kursi itu untuk ditempati lima orang. Karena banyaknya orang yang mau pulang, maka berapapun jumlah penumpangnya masih dibolehkan masuk. Walhasil, saya pun duduk berhimpitan sama orang-orang itu. Hemm, sambil nahan nafas, kok tercium bau aneh yah, kaya bau bawang bombay dipanggang gituh. Saya tengok ke kanan, kiri, bawah, maupun atas nggak ada yang bawa bawang tuh. Hari yang aneh! Yeach.. namanya juga naik riyalen, jadi segala macam bau badan bercampur aduk udah kaya gado-gado 😦

Gbr.(2) Suasana di dalam mini bus riyalen

Setelah sopir tancap gas, mulailah angin malam nan semriwing merasuki celah-celah jendela angkot. Tubuh yang lelah sedikit demi sedikit tiada terasa. Mata yang hidup perlahan-lahan meredup. Awal pikiran melayang kini menjadi tenang. Hati yang galau pun akhirnya dapat dihalau. Halusinasiku mulai merasuki jiwa. Ku merasa seakan-akan berada di sebuah sudut kota India saat sang sopir menekan tombol “play” di radio tape-nya. Terdengarlah alunan lagu nan indah berseri, mengingatkanku akan saat-saat indah itu bersamanya di taman nan indah nun jauh di mata. (#lebay dot com).

“Tum paasse aye, Tum paasse aye

Yun Muskurayee, Tum nena jane kya

Sapne de khaye, Aabto mera dil

Jaane ka sota hai, Kya karoon ha ye

Kuch kuch hota hai”

Kepala bergeleng-geleng, bahu naik turun, perut kembang kempis, dan jempol tangan meliuk-liuk. Begitulah (mungkin) orang-orang di dalam mini bus itu menikmati musik Bollywood. Sekiranya mini bus itu nggak penuh, mungkin mereka akan berdiri sambil menggoyangkan pinggulnya lengkap dengan lompatan ala Shah Rukh Khan, haha.. Hidup di Arab Saudi kok serasa hidup di India ya??

Hadooh…

Memang kalau saya perhatikan, para penumpang yang biasa naik mobil riyalen itu adalah para pekerja pabrik yang berasal dari Bangladesh, India, maupun Pakistan, adapula yang dari Filipina. Sedangkan penumpang berwajah seperti saya sangat-sangat jarang mau naik mobil itu. Ya wajar saja, khan sebagian besar orang-orang kita yang di sini pada nyetir sendiri alias sopir rumahan, keren khan hehe.. 😀

Gbr.(3) Sesaat tiba di Sulaymaniah

Hidup di Arab Saudi, khususnya di Jeddah punya cita rasa tersendiri. Hal yang pasti yakni keberadaan para pendatang dari luar Arab Saudi, sebut saja ekspatriat. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi selalu ketemu mereka. Contoh-sontoh yang sering saya temui, mau tau? 3x (#gaya da’i Maulana).

  • Mau ke kamar kecil di asrama ketemu dengan orang Bangladesh yang sedang ngepel;
  • beli sandwich di bufiah (restoran kecil) sama orang Pakistan;
  • beli softrink di bagalah (toko kecil) sama orang India;
  • naik bus ke kampus yang jadi sopir orang India;
  • petugas kebersihan di jalan raya orang Bangladesh;
  • di lampu merah lihat wanita bercadar hitam, eh sopirnya orang Indonesia;
  • petugas kebersihan di kampus orang Bangladesh dan India;
  • teknisi peralatan dan gedung orang Filipina;
  • dosen yang ngajar di kampus orang Mesir, Turki, Tunisia, dan India;
  • makan di kantin kampus dilayani sama orang Filipina, India, dan Bangladesh;
  • beli sayur mayor dan buah-buahan sama orang Yaman;
  • suster di rumah sakit orang Filipina, India, juga Indonesia;
  • dokternya orang Mesir, India, Filipina, dan Turki;
  • beli laptop sama orang Pakistan atau India;
  • mau makan nasi bukhori sama orang Afganistan atau Pakistan;
  • sopir taksi kebanyakan orang Bangladesh, Pakistan, dan India;
  • beli bensin di pom bensin sama orang Bangladesh dan India;
  • yang jadi SPB (Sales Promotion Boy) di mall orang Filipina dan Mesir;
  • mau bayar belanjaan, kasirnya orang Mesir atau India.
  • pekerja bangunan di kampus kebanyakan orang Sudan atau Somalia;
  • pekerja pabrik di sekitar Sulaymaniah kebanyakan orang Bangladesh dan India;
  • dan mau pesan tiket pulang ke Indonesia pun yang melayani orang India.

Saya penasaran sekali, sebenarnya berapa sih jumlah pendatang dari tiap-tiap negara itu. Tahun 2007, Andrzej Kapiszewski seorang sosiolog dan diplomat, sekaligus professor di universitas Jagiellonian, Polandia telah melakukan penelitian. Di dalam penelitiannya tercatat bahwa ekspatriat terbesar yang tinggal di negara-negara Teluk terutama Saudi Arabia adalah India, kemudian diikuti oleh negara Pakistan, Mesir, Yaman, Bangladesh, Filipina, Sudan, Sri Lanka, Jordan/Palestina, Indonesia, dan Nepal. Silakan klik Table 1.

Tabel 1. Jumlah ekspatriat terbanyak di negara-negara Teluk (x 1000)

Lagi, di tahun 2010 juga dilakukan penelitian tentang perbandingan antara penduduk asli dan epkspatriat di negara-negara Teluk. Hasilnya cukup mengejutkan. Negara-negara yang luas wilayahnya kecil dan penduduk sedikit seperti UAE, Qatar, dan Kuwait ternyata persentase jumlah ekspatriatnya jauh lebih besar daripada jumlah penduduk aslinya. Tapi, bila dilihat dari jumlah ekspatriat di tiap-tiap negara Teluk itu, Arab Saudi merupakan negara yang paling banyak  memiliki ekspatriat, yakni 7.7 juta jiwa. Silakan klik Tabel 2.

Tabel 2. Perbandingan penduduk asli dan ekspatriat di negara-negara Teluk

Jadi, sampai saat ini, Arab Saudi adalah negara yang jumlah ekspatriatnya terbanyak di negara-negara Teluk. Lalu apakah jumlah itu terbesar di dunia? Hemm.. ternyata nggak. Ada negara-negara lain yang jumlah ekspatriatnya jauh lebih besar. Silakan klik gambar berikut ini.

Gbr.(4) Perbandingan jumlah ekspatriat di dunia

Ow ow.. ternyata jumlah ekspatriat terbanyak di dunia terdapat di Amerika Serikat, lalu Rusia, Jerman, Ukraina, Prancis, dan barulah Arab Saudi. Hemm.. topik ini sebetulnya sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam, suwer dech! apalagi melalui sudut pandang geografi kependudukan. Namun, tanpa mengurangi minat para pembaca, saya membatasi pembahasan ekspatriat di blog ini hanya pada tataran jumlah dan sebaran secara umum saja, terlebih lagi nggak bermaksud untuk mendiskriminasikan suku, bangsa, maupun agama tertentu. Kalau kata orang yang pernah ada di dekat saya mengatakan saya seperti ini,”Kamu itu orangnya cinta damai kokceilahhh..narsis abis dech! 🙂

Kembali ke cerita mengenai keberadaan para ekspatriat di Arab Saudi. Keberadaan mereka di tengah-tengah kehidupan saya bagaikan tujuh warna pelangi. Me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Ada rasa keingintahuan untuk mempelajari budaya mereka. Setidaknya belajar bahasanya. Hemm.. dipikir-pikir kalau mau belajar tujuh bahasa dunia akan mudah banget dong.

Semisal, “apa kabar?” jawabannya,“baik” atau sejenisnya yah.

– Bahasa Arab formalnya,“Kaifa haluk?” jawabannya,“bikhoir”.

– Bahasa Arab gaulnya,“Kif halak?” atau singkatnya,“Kifak?” jawabannya,”kuways”.

– Bahasa Arab Mesirnya,“Zayya ahwalak?” jawabannya,“miyah miyah”.

– Bahasa Inggris,“How are you?” jawabannya,“fine”.

– Bahasa Urdu (India/Pakistan),“Kiya hal he?” atau “Ab kase he?” jawabannya,“Thike”.

– Bahasa Bengali,“Kamunacen?” jawabannya,“Balo ce”.

– Bahasa Filipino,“Kumusta ka?” jawabannya,“Mabuti”.

– Bahasa Turkish,“Nasilsin?” jawabannya,“ince”.

Kan ada istilah “Learning by doing” yaitu belajar dengan melakukan secara langsung atau dipraktekan. Cara itu dinilai efektif dalam memberikan pemahaman kepada si pembelajar. Apalagi diulang-ulang setiap hari bila kita bertemu dengan para ekspatriat itu. Sehari satu kosakata, kira-kira kalau setahun sudah berapa kosakata ya?? Ratuusaaan…

Luar biasa deh tinggal di Jeddah. Keberadaan para ekspatriat dari berbagai negara itu bisa membuat kita lebih mengenal lebih banyak tentang keunikan manusia yang berlatar belakang berbeda-beda. Kalau tinggal di Indonesia, kita akan merasakan keanekaragaman suku bangsa, seperti Jawa, Sunda, Madura, Minang, Batak, Betawi, Ambon, Bugis, Dayak, Papua, dan ribuan suku lainnya. Tercatat, Indonesia punya 1.128 suku bangsa loh. Nah, di Jeddah yang kita jumpai adalah keanegaraman suku bangsa di dunia. Kalau mau tahu lebih aneka ragam lagi, coba saja ke Corniche Mall di Al-Balad, terutama di malam Jum’at (weekend). Tombo ngantuuukk..!! (#tukul mode on) dan dijamin malam itu akan terasa sangat singkat dech, bahkan nanti nggak mau pulang ke rumah 😀 ckckck…

Saya jadi teringat dengan firman Allah SWT dalam Qur’an surat Al-Hujurat (49) ayat 13, tertulis dengan jelas pesan-Nya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Berbedanya diri kita dengan lainnya dari segi suku bangsa bukan menjadi perbedaan tingkat kemuliaan kita di mata Tuhan. Walaupun orang itu kulitnya hitam, kerjanya mencari butir-butir kurma yang tercecer atau mengumpulan tumpahan minyak buminya, namun bila hatinya baik dan ibadahnya rajin, justru dialah yang lebih baik daripada orang-orang yang putih kulitnya, mancung hidungnya, Land Cruiser mobilnya, 4 lantai rumahnya, direktur pekerjaannya, tapi pelit dengan hartanya, sombong perangainya, bahkan nggak mau mengenal adanya Tuhan.

Alangkah bahagianya bila sudah ganteng/cantik, banyak hartanya, baik hatinya, dan ia mau mengenal Tuhannya bahkan rajin ibadahnya. Pastilah Syurga balasannya di akhirat nanti. Hemm.. udah dapet syurga dunia, eh dapet syurga akhirat juga, manteb coy..!!

—————————–

Sumber:

1. Gambar (1), (2), (3) dari   dokumentasi pribadi

2. Gambar (4) dari   http://www.nationmaster.com/..

3. Tabel 1 dari   http://www.un.org/esa/population/..

4. Tabel 2 dari   http://www.eida.gov.ae/userfiles/..

5. Kutipan ayat dari     http://quran.com/