Lailatul Qodr

Ust. Abbas Aula

PP Darul Qur’an Wal Hadits Bogor

Lalilatul Qodar terdiri dari kata “Lailah” yang artinya malam, rentang waktu yang dimulai dari terbenamnya matahari hingga terbit fajar, dan “Qadr” yang berasal dari akar kata yang serati dengan agung, mulia, ketetapam, ukuran, dan sempit.

Lailatul Qodar adalah malam turunnya Al Quran, seperti diungkapkan dalam Surat Al-Qodr (97) ayat 1 hingga 5. Malam ini disebut pula “Lailatul Mubarakah”. Firman Allah: “Sesungguhnya Kami turunkan Al Qur’an pada malam yang berkah” (QS A Dukhan (44): 3-4).

إِنَّآ أَنزَلۡنَـٰهُ فِى لَيۡلَةٍ۬ مُّبَـٰرَكَةٍ‌ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ (٣) فِيہَا يُفۡرَقُ كُلُّ أَمۡرٍ حَكِيمٍ (٤)

Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya mengutip dari Ibnu Abbas ra, mengatakan bahwa Al Qur’an sebagai keseluruhan kitab yang komplit diturunkan Allah SWT dari tempatnya di Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah-yaitu langit yang paling dekat bumi- pada malam yang disebut Lailatul Qodr. Kemudian, wahyu disampaikan kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur dalam masa kurang lebih 23 tahun.

Lailatul Qodr artinya malam yang agung dan mulia, malam yang gelapnya rohani di bumi dihalau oleh keangungan Al Qur’an yang mulia, yang turun menebarkan cahaya menerangi segala yang wujud ini, dengan membawa kedamaian, ketentraman, dan rahmat bagi kehidupan umat manusia serta alam semesta.

Di malam itu bumi terasa sempit oleh turunnya para malaikat dari langit. Jumlah mereka lebih banyak dari hamparan pasir di pantai dan padang sahara. Mereka hadir menebarkan rahmat, maghfirah, dan kedamaian di hati orang beriman.

Di malam itu, segala urusan duniawi ditentukan yaitu: ajal, rejeki, sengsara atau bahagia, nilai-nilai kebaikan dan keburukan ditetapkan oleh Allah sebagai suatu kepastian dalam hidup ini. Fajar dunia rohani baru segera menyingsingkan dan memisahkan antara kegelapan jahiliyah dengan terang benderangnya sinar Al Qur’an, sebagai pembeda antara yang haq dan bathil.

Menurut Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zalil Qur’an, Lailatul Qodr adalah sebuah festival semesta yang menakjubkan, sebuah pesta rohani dan renungan hati yang penuh kerinduan, malam raya abadi yang keberkahannya datang setiap tahun di bulan Ramadhan, ketika hamba-hamba yang beriman menemukannya dalan pangkuan ibadah kepada Allah, yang nilainya jauh lebih baik dari ibadah seribu bulan.

“Seribu bulan” menurut  Abdullah Yusuf Ali dalam tafsirnya The Holy Qur’an, harus diartikan “waktu tanpa batas”, karena menunjukkan kurun waktu yang sangat panjang. Ketika Rasulullah SAW ditanya Abu Dzar, apakah malam yang mulia ini akan tercabut keberkahannya kelak bila tak ada lagi Rasul sesudah Muhammad, Rasulullah menjawab: “Tidak, ia tetap ada hingga hari kiamat” (HR Ahmad dan Nasa’i). Alhamdulillah..

Malam yang agung ini tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh orang beriman. Seperti dianjurkan Rasulullah SAW, agar pada minggu terakhir Ramadhan umat Islam lebih meningkatkan ibadahnya, membangunkan seluruh keluarganya, dan menghidupkan malam dengan I’tikaf, shalat, istighfar, tasbih, tahmid, tilawatil Qur’an, dan doa.

Sumber: Majalah Insani, Islamic Digest, November 2005

Advertisements

Just Waiting For A Visa (Seri 1)

Sebulan sebelum Ramadhan saat itu, tepatnya di pertengahan Juli, saya sudah berada di Jakarta karena summer course yang saya jalani telah usai. Bersyukur sekali. Pengalaman tak terhitungkan adalah sebuah pemberian-Nya yang akan saya jadikan pelajaran berharga dalam catatan perjalanan hidup sebagai seorang anak Adam. Sejuta pesona dan kenangan indah masih segar di otak kananku. Kata demi kata merangkai sebuah cerita mengalir bak aliran air dari pegunungan menuju muara saya celotehkan ke keluarga, saudara-saudara, maupun kepada teman-teman sebagai pengalaman yang pernah saya rasakan ketika berada di negeri Kincir Angin.

Ramadhan pun datang menghampiri dan mengisi hari demi hari dengan suasana yang sangat berbeda dengan hari-hari biasa. Ramadhan menyuguhkan 1001 macam dinamika kehidupan. Anak-anak bersenang-senang di pagi maupun malam hari. Pagi hari bemain petasan, bersepeda, maupun hanya sekedar jalan-jalan bersama teman-teman gengnya, dan malam harinya memukul bedug memanggil warga sekitar tuk solat taraweh di musholla maupun masjid, bahkan sebelum sang jago berkokok mereka bergerombol membangunkan penduduk yg masih tidur  dengan membunyikan apa saja yang bisa dibawa, mulai dari hajir, marawis, dumbuk, kendang, kaleng rombeng, bahkan tak malas-malas menggerek bedug dengan gerobak yang mereka pinjam dari rumah seorang pedagang kaki lima secara diam-diam. Huhu,, serunya suasana kampungku yang berlokasi di Kramat Jati, Jakarta Timur.

Tapii.. ada tapinya nih, sampai berakhirnya Ramadhan itu, calling visa dari kampus KAU belum juga datang. Sedikit cemas. Padahal tahun ajaran baru akan dimulai tepat dua pekan setelah Hari Raya Idul Fitri, yakni 10 Oktober 2009. Huff,, Mau gimana lagi, email-emailan udah sama Prof. Amro, tapi ya begitu,, jawabannya masih menunggu dari kantor imigrasi Saudi. Sabar sabar dan sabar ajalah wahai Kuswantoro. Haha,, rasanya udah seperti detik-detik buka puasa, tangan udah gak tahan pingin cepat-cepat mencekik gelas es kelapa muda, apalagi kalau pake gula jawa, nyummi,,nikmate pooooll dech. Ternyata mau masuk ke Arab Saudi aja susahnya minta apyun dech. Kudu pake jurus sabar 1001 macam.

Hemm, ngomongin tentang masuk Arab Saudi, selain untuk keperluan Umroh dan Haji, orang Indonesia kudu musti punya calling visa dulu. Calling visa itu adalah sejenis surat panggilan yang berasal dari orang/instansi yang berada di Arab Saudi, baik orang Indonesia yang sedang kuliah atau bekerja di sana maupun orang asli Arab Saudi. Biasanya calling visa itu dibuat buat calon mahasiswa, calon TKI, maupun sekedar tamu yang ingin berkunjung ke Arab Saudi untuk keperluan pendidikan maupun bisnis.

Hari demi hari berganti, udara kering panas pun bergerak menuju timur Indonesia yang diikuti udara basah dingin yang bergerak dari arah barat maupun utara Indonesia, tepatnya dari daratan Asia. Musim mulai berganti. Hujan pun mulai menunjukkan taringnya mengusir musim kemarau itu. Suara takbir mulai menggema di seluruh penjuru rumah. Semua orang bersuka cita atas datangnya Hari Raya Idul Fitri. Senang karena udah gak capek-capek puasa lagi (buat yang malez puasa), dan senang karena pakai baju baru (buat anak-anak kecil), dan senang karena bisa bisa pacaran lagi, haha,, Ops, tunggu dulu. Sekarang saya udah insyaf koq, sekarang pikiran saya mah, datangnya Hari Raya Idul Fitri merupakan kesedihan karena berarti meninggalkan bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan dilipatgandakannya pahala amal ibadah kita, dan berarti juga meninggalkan keberkahan-keberkahan lain yang hanya ada di bulan Ramadhan. Cie-cie,, bukan bermaksud sok alim yee..

“Muwadda’ muwadda’ yaa Ramadhan, Ahlan wa sahlan yaa ‘Iedul Fitri”.

“Selamat tinggal bulan Ramadhan, dan selamat datang Hari Raya ‘Idul Fitri”.

Sampai akhirnya, kartu ucapan lebaran saya buat untuk menghilangkan kejenuhan, hehe

Bagi saya, datangnya bulan Syawwal adalah awal untuk tidak bisa berhemat-hemat uang lagi. Kalau di bulan Ramadhan itu, makan sehari dua kali, tapi kalau di hari biasa kan makan bisa sehari tiga atau empat kali. Artinya, beban pengeluaran saya dan ortu akan semakin besar lagi. Lalu bagaimana dengan stok duit saya?? Nah, ntuh dia yang bikin pikiran.

Banyak tetangga saya ngomong, “Enak tuh, pulang dari Belanda pasti bawa uang segondol”.

Haha3x, bawa segondol uang?? Kalau segondol buku catatan sih bener. Buktinya, buku catatan plus materi-materi kuliah selama summer course udah sekardus TV gede 30 inci. Twew wew,,,

Yang jelas, saya bersyukur sekali. Walaupun gak bawa uang segondol, seenggak-enggaknya bisa buat makan sebulan-dua bulan tanpa kerja, hehe.. Gak mau kerja bukan maksudnya pingin malas-malasan, tapi niatnya sih pingin fokus buat persiapan ke Arab, mulai dari intensif bahasa Inggris, bikin proposal penelitian, dan yang terpenting adalah mencari jodoh, haha,, Eh, mencari jodoh atau,,tiiiiiiitt (censored!).

Tapi, lama kelamaan, darah di kepala semakin kental alias stress lantaran ortu mulai dan bahkan sering nagih uang buat belanja sehari-hari lah, buat bayar listrik lah, arisan lah, dan ini itu lah, pokoe lumayan banyak ternyata kebutuhan hidup tinggal bersama ortu.

“Sabar aja Mak dan gak usah khawatir bakalan gak bisa makan, rejeki dah diatur Allah. Insya Allah kalau Toro dah di Arab, bakalan punya uang dan nanti akan dikirim tiap bulannya dech,,”. Tuturku yang berusaha meyakinkan Emak, padahal saya sendiri terkadang sedih dan sering mikirin situasi seperti ini. Padahal, beberapa tawaran Projek di kampus datang menghampir, tapi saya tolak lantaran dengan alasan-alasan itu. Soalnya, saya merasa masih jauh dari pintar buat kuliah di luar negeri. Jadi butuh persiapan yang benar-benar sebelum berangkat ke Arab Saudi.

Lalu apa yang terjadi, apakah calling visanya datang atau masih tetap menunggu?? Tunggu cerita selanjutnya di potingan berikutnya guys..