Awas, Ada Tsunami!

Siang itu, 26 Januari 2011.

Mator kabir, moyah yiji hina..” teriakan itu terdengar keras dari dosen saya. Tak tok tak tok, suara langkah sepatunya menuju ke ruangan dimana saya sedang berpuyeng-puyeng ria mengerjakan ujian. Soalnya bejibun cing!

Setelah ia membuka pintu, saya melihatnya sambil geleng-geleng kepala, lalu lidahku membaca, “Laa haula walaa quwwata illaa billaah.. Prof, what’s happening with you?” tanyaku sambil merasa keheranan. Pakaiannya basah kuyup, ia menggigil kedinginan saat masuk ke ruangan ber-AC yang bersuhu 18° Celcius.

“Toro, have you finished your exam?” tanyanya dengan nada penuh khawatir.

“I haven’t Prof. I still have 30 minutes, right?” jawabku dengan panik karena masih ada beberapa soal yang belum terjawab.

“You must finish it now, because there will be flood around university after one hour. Move, move now!” hah?! Bakalan ada banjir besar? Mata melotot, dan tiba-tiba bulu kuduku merinding, detak jantung bergerak secepat jam weker. Sudah panik dengan ujian ditambah lagi panik dengan informasi akan datang banjir. “Emaaakk..kepriben kiye? Wes adoh-adoh nyekolah neng Jeddah, kok esih bae nemuni banjir..” (#kalau gak tahu artinya, silakan tanya ke orang Tegal)

Dalam waktu kilat, saya isi semua lembar jawaban yang masih kosong. Jurus Einstein langsung saya keluarkan. Hiaattt!!! E=123456789 x +_/2^123456789. Selesai!

Akhirnya selesai juga ujian saya, lalu berlari menghampiri Profesor,”Prof, these are my answers. Be aware and Good bye!”

Saya berjalan tergesa-gesa keluar dari gedung fakultas. Saat saya lihat ke langit, wow seram sekali. Awan tebal gelap memanjang ke arah timur. Ya Allah, mimpi apa semalam. Sebenarnya saya sudah biasa menghadapi hujan di Jakarta, bahkan sewaktu kecil saya suka mandi hujan dengan teman-teman kampung. Kenapa orang-orang sini pada ketakutan ketika akan turun hujan lebat.

Gbr. (1) : Ilustrasi badai hujan yang menyebabkan banjir

Gbr. (2) : Ilustrasi badai hujan bila dilihat dari satelit cuaca GWADI

Di pintu luar fakultas. “Toro, you wanna go with me?” tanya salah seorang dosen lainnya, namanya Pak  Sami.

“Of course, I want.” saya dan Pak Sami menuju mobilnya yang sedang diparkirkan.

Masya Allah, ketinggian air sudah 10 cm dari permukaan tanah. Mobil-mobil yang parkir di basement sudah terendam hanya dalam waktu setengah jam. Luar biasa cepatnya gerakan air itu.

Awalnya ia akan mengantarkan saya ke hostel dimana saya tinggal. Namun di pertengahan jalan, arus air dari Jalan King Abdullah bergerak cepat dengan ketinggian setengah meter dari arah timur. Akhirnya ia meminta saya untuk tetap bersamanya hingga menemui jalan yang tidak tergenangi banjir. Namun, apa hendak dikata. Hari itu benar-benar tidak diduga-duga sebelumnya. Limpasan air yang melewati setiap ruas jalan semakin bertambah besar. Air sedikit demi sedikit memasuki mobil yang saya tumpangi. Awalnya setinggi kaki, lalu dalam waktu singkat tinggi air naik hingga mengenai bokong. Saya dan Pak Sami benar-benar panik, dimana kami akan menepi. Padahal di kanan kiri saya nampak beberapa mobil terbawa arus air, bahkan ada seorang wanita bersama sopirnya terjebak banjir di tengah jalan, ia hanya bisa berteriak,”Ya Allah, Ya Allah..” Maksud hati mau menolongnya, namun bagaimana bisa, kami saja sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada kami. Untungnya sebuah truk besar menghampirinya dan menolong si wanita dan sopirnya. Bisa lihat contoh video saat kejadiannya di

Gbr. (3) : Situasi ketika terjadi banjir bandang Jeddah, mengerikan!

Nasib kami belum jelas akan selamat atau tidak. Mobil kami benar-benar terseret arus air. Sambil membayangkan kejadian tsunami tahun 2004 lalu di Aceh yang memakan korban ribuan orang tewas. Air mata akhirnya membasahi pipi saya,“Ya Allah, saya masih bujangan nih.” Alhamdulillah, kami berdua diselamatkan Allah, mobilnya tahan banjir, hemm..mungkin karena mobilnya bermerk Ford kale yah.

Sedikit membicarakan banjir di Jeddah memang berbeda dengan banjir yang biasa kita alami di Jakarta khususnya. Banjir di Jeddah mirip dengan tsunami. Kecepatan gerakan airnya tinggi dan membentuk ombak. Kok bisa yah?

Penjelasan mudahnya begini, bahwa setidaknya ada empat hal yang mesti kita perhatikan dengan seksama (#wah hidrologis banget nih hehe) :

(1) Curah hujan, (2) Karakteristik daerah tangkapan air, (3) Saluran drainase, dan (4) Pola penggunaan lahan

(1) Curah hujan saat itu sebesar 111 mm dalam waktu 3 jam loh, bila curah hujan sudah di atas 50 mm patut diwaspadai, terlebih di wilayah Jeddah. Hujan di Jeddah biasanya terjadi di musim dingin sekitar bulan November-Desember-Januari; (2) Karakteristik daerah tangkapan air tersebut terbagi menjadi dua bagian yakni wilayah perkotaan dan wilayah non-perkotaan. Wilayah perkotaan Jeddah secara umum datar dengan kemiringin wilayahnya < 1%, sedangkan di bagian timur Jeddah, non-perkotaan, berupa perbukitan terjal dengan lapisan tanah yang tipis. Lapisan tanah tersebut hanya ada di sekitar lembah (wadi) yang dalamnya hanya beberapa meter. Tekstur tanahnya pasir berlumpur. Selain itu, jumlah vegetasi pepohonan yang tumbuh di perbukitan sangatlah sedikit yang  menyebabkan sedikitnya proses pengikatan air oleh vegetasi maupun oleh tanah; (3) Sistem drainase Kota Jeddah bisa dikatakan buruk karena jumlahnya kurang mampu menampung debit air yang lewat; (4) Pola penggunaan lahan yang tidak mengindahkan hukum alam. Daerah-daerah rendah yang merupakan daerah aliran air kemudian dibangun menjadi permukiman. Jadi wajar saja bila wilayah permukiman itu digenangi oleh banjir yang kedalaman airnya bisa mencapi 3 meter. Kejadian banjir terparah di Jeddah yang pernah tercatat adalah di tahun 2009 tepatnya 25 November. Sebanyak 114 orang tewas karena hantaman tsunami (baca: banjir bandang) yang dalam waktu 3 jam curah hujan mencapai 70 mm (padahal belum seberapa bila dibanding dengan hujan yg di Jakarta). Daerah terparah terdapat di Distrik Guwaizah, sebelah timur kampus King Abdulaziz University (KAU).

Gbr. (4) : Citra ikonos yang menunjukkan wilayah perkotaan (permukiman) yang dibangun di daerah aliran air (garis biru)  yang berlokasi di Distrik Guwaizah

Sekali lagi, banjir yang terjadi di Jeddah itu bagaikan tsunami yang menyapu habis semua yang menghalanginya. Tentunya, kejadian tsunami itu bukan tidak ada sebab. Pasti ada penyebabnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena manusia itu sendiri. Saya coba untuk mengkaitkan kejadian tsunami Jeddah tersebut dengan pesan Allah dalam Qur’an.

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 117)

Dan ternyata, Allah tidak hanya akan menimpakan azab kepada orang-orang yang zalim saja, tetapi juga semuanya.

“Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS al-Anfal [8]: 25)

Imam Ibnu Katsir (w. 1372 H) dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (II/300), berkata bahwa kata fitnah dalam ayat tersebut artinya ikhtibar (ujian) dan mihnah (cobaan).12 Ibnu Katsir menerangkan, dalam ayat ini Allah memberi peringatan akan adanya cobaan yang merata yang menimpa orang yang berbuat buruk dan yang tidak berbuat buruk. Cobaan ini tidak hanya menimpa pelaku maksiat atau pelaku dosa, tetapi merata dan tidak dapat dihindari dan dilenyapkan. Beliau selanjutnya menerangkan pendapat Az-Zubair, Al-Hasan Al-Bashri, dan As-Sudi bahwa ayat ini berkaitan dengan sebagian shahabat yang terlibat dalam Perang Jamal. Selanjutnya, beliau menukil penafsiran Ibnu Abbas, yang dikomentarinya sebagai, “Ini tafsir yang bagus sekali.” (hadza hasan jiddan). Kemudian Ibnu Katsir memaparkan beberapa hadits Nabi SAW yang mendukung makna ayat. Berdasarkan hadits-hadits itu, menurut beliau, peringatan pada ayat ini berlaku umum untuk para shahabat dan selain shahabat, meskipun ayat ini berkenaan dengan shabahat. Selengkapnya silakan baca di sini.

Semoga saja, tidak ada tsunami lagi di Jeddah. Hemm..sekedar info, untuk mengantisipasi bencana tsunami Jeddah, Kerajaan Saudi telah mengalokasikan dana untuk pembangunan beberapa dam dan saluran drainase sebesar 400 juta dollar atau sekitar Rp. 3.600.000.000.000 atau 3.6 triliun rupiah. Hah?? guede buangettt….kalau buat beli kerupuk, kira-kira bisa nutupin Jakarta kale yah.. 😀

Gbr. (5) : Pembangunan saluran drainase untuk menangkal ganasnya tsunami Jeddah

——————————-

Sumber gambar:

(1) http://keluarga-madinah.blogspot.com/

(2) http://hydis.eng.uci.edu/gwadi/

(3) http://salehcomm.wordpress.com/

(4) google earth

(5) http://arabnews.com/saudiarabia/article538670.ece

Arab Water Conference 2012

Ahad, 8 Januari 2012, adalah hari pertama diadakan konferensi keteknikan sumber daya air yang ke-26 di Hotel Hilton Jeddah. Saya bersama teman kelas, Salem namanya, berangkat menuju tempat acara dengan mobilnya, 160 km/jam. Wuess…(#melesat bagai kilat)

Jeddah Hilton Hotel di tepi Laut Merah

By the way, konferensi ini terlesenggara di bawah perlindungan Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Abdullah bin Abdulaziz, Jeddah provinsi di Kerajaan Arab Saudi yang menjadi tuan rumah bagi negara-negara Arab yang termaktubbe (#qolqolah kubroh).

Bendera negara-negara peserta Arab Water 2012

Then, tujuan utama konferensi ini adalah untuk meng-gather-kan para expert terkemuka, spesialis, dan pengambil keputusan dari semua negara Arab dalam mencari solusi atas permasalahan sumber daya air, dan untuk memfasilitasi kolaborasi mereka terhadap solusi berkelanjutan yang efektif. Hemm,, saya jadi ingat dengan pernyataan salah seorang professor X yang mengatakan bahwa masalah di masa yang akan datang adalah bukan lagi masalah perebutan ladang minyak, tapi masalah air terutama di negara-negara Arab. Banyak sekali profesor yang turut serta dalam konferensi, termasuk profesor saya dan beberapa dosen lainnya.

Hemm,, Karena teruntuk negara-negara Arab, sehingga wajah bertampang seperti saya ini bisa dihitung dengan jari. Ada sih salah seorang pemakalah berasal dari Jepang, dan satu lagi profesor dari Itali, selebihnya adalah dari Arab Saudi, Mesir, Jordania, Suriah, dan Sudan.

Di hari pertama konferensi, terlihat beberapa orang Jepang yang mengikuti konferensi. Penampilan mereka rapih, berjas, dasi, dan tentunya bermata sipit. Kalau dipikir-pikir, penampilan saya mirip mereka yah? (#bertanya pda diri sendiri).. Saat Mr. Jepang itu melihat saya berjalan di dekatnya, ia membalik badannya menghadap cermin sambil memandang saya dari cermin. Hehe,, ada yang aneh? Apa jangan-jangan saya dikira anak buahnya Kim Jong-il kali yah, sehingga ia sebel, atau mungkin disangka orang Jepang juga, sehingga ia takut kalau saya minta ditraktir haha,,

Pemakalah dari Jepang

Di hari kedua konferensi, orang-orang Jepang itu telah menghilang, hanya saya saja yang bertampang beda. Saya mah pede-pede aja, khan ada si Salem orang asli situ. Jadi kalo ada apa-apa tinggal lapor aja ke dia, hehe. Di saat coffee break, saya pun membaur bersama orang-orang arab, maklum dari pagi perut masih kosong. Disantaplah aneka kue di atas meja-meja itu. Namun, ternyata keberadaan saya di tengah-tengah mereka menjadi buah mata. Saya dikira mereka orang Filipina. Karena setiap kali saya ngobrol, pasti mereka bertanya,”Filipino?”. Ketika saya jawab Indonesia, raut wajahnya menunjukkan ketidakpercayaannya bahwa saya ini adalah Indunisi, hehe. Untungnya, saya bertemu dengan Pak Janwar, mahasiswa S3 di KAU, jadi ke-indunisi-an saya bisa dipercaya haha..


 Mencoba bergaya anak Jepun

Alhamdulillah, benar-benar bersyukur bisa mengikuti konferensi itu. Puas sekali rasanya. Gratis gan! Padahal saya datang ketika acara sedang berlangsung. Saat meja receptionist sudah di depan kacamata (#baca: mata) saya diam saja biarlah si Salem yang maju buat bicara. Mungkin karena mata saya sipit, si receptionist langsung percaya seketika bahwa saya adalah rekan orang-orang Jepang yang tertinggal masuk ke ruang konferensi hehe (#pede abiss,,). Saya tunjukkan kartu mahasiswa, gak lama saya diberi name tag dan dipersilakan masuk bablas tanpa aling-aling. Tapi hemm,,walaupun belum bisa menjadi pemakalah, setidaknya bisa menjadi peserta resmi, bukan ‘kaburan’ (#yee,,emangnya tkw sini yang pada jadi ‘kaburan’).  Beberapa keuntungan materi yang saya dapatkan yakni berupa sertifikat, tas laptop merk Victoria, seminar tools kit, muk, dan pastinya bisa makan-makan sepuasnya sampai perut serasa hamil 9 bln :D, lebih-lebih pelayanannya super  mantap, asli hotel bintang 5 di Jeddah haha (#ndeso banget deh). Selain itu, pengalaman yang berharga sebagai motivasi untuk terus semangat menjadi pribadi yang lebih berkualitas kaya professor-professor itu dan bermanfaat buat semua alias kaya raya,, aamiin.

Seminar tools kit

Belajar Masalah Air di Negeri Gurun Pasir

Oleh : Kuswantoro Al-Ihsan

  

Ketika saya memutuskan untuk kuliah S2 di Saudi Arabia, banyak pertanyaan yang muncul dari teman-teman. “Mau belajar Ilmu Qur’an, Hadits, atau Syari’ah?” “Bukan!”, jawab saya. Pertanyaan lainnya muncul, “Kenapa belajar masalah air di Arab Saudi yang semuanya padang pasir? Kenapa gak ambil di Belanda aja?”. Hemmh.. pertanyaan yang cukup menggelitik.

Citra Satelit Saudi Arabia dan sekitarnya dengan gurun pasir Rub Al-Khali di bagian tenggaranya.

Memang rasanya cukup aneh bila belajar masalah air di negara gurun pasir (desert) yang miskin air. Mari kita tengok sedikit tentang gambaran umum negaranya. Dari segi fisik, Saudi Arabia adalah sebuah negara di Timur Tengah yang sebagian besar wilayahnya berupa gurun pasir yang membentang dari barat laut hingga tenggara, dimana Rub Al-Khali adalah salah satu gurun pasir yang terkenal dan terluas di Saudi Arabia. Dengan begitu iklim yang terjadi pun banyak dipengaruhinya.Ditandai dengan panas yang ekstrim di siang hari, kemudian turun drastis di malam harinya.

Curah hujannya sedikit dan tidak menentu. Ryadh (bagian tengah) sebagai ibukota negara memiliki curah hujan tahunan sebesar 95 mm, Jeddah (pesisir barat) hanya 61 mm, sedangkan Dammam (pesisir timur) hanya sebesar 67 mm. Bandingkan dengan Jakarta yang curah hujan tahunannya sebesar 1655 mm. Kondisi iklim Saudi Arabia yang seperti itu disebabkan oleh pengaruh sistem tekanan tinggi subtropis dan banyaknya fluktuasi ketinggian wilayahnya.

Logo King Abdulaziz University (KAU)

Salah satu kampus yang popular di Saudi Arabia adalah King Abdulaziz University (KAU) yang terletak kurang dari 10 km dari Laut Merah dan tidak jauh dari pusat Kota Jeddah. Bila dibandingkan dengan Kota Ryadh, Jeddah memiliki iklim yang cukup bersahabat di musim dingin (winter), walaupun dua tahun terakhir ini (akhir 2009, awal 2011) telah terjadi banjir bandang yang dahsyat.  Di musim panas (summer) Kota Jeddah bersuhu 40°C. Secara umum perbedaan suhu di siang dan malam hari tidak terlalu ektrim. Kelembaban relatif udaranya pun cukup baik, sekitar 55 %. Tentunya tidak lepas dari pengaruh Laut Merah yang memanjang dari utara hingga selatan di bagian barat Saudi Arabia.

KAU berdiri pada tahun 1967 yang sejak awal berdirinya diperuntukkan bagi mahasiswa lokal. Segala aturan kampus mengacu pada aturan negara serta budaya masyarakatnya, seperti kampus lelaki terpisah dengan perempuan, seluruh dosen dan mahasiswanya harus beragama Islam, diwajibkannya berpakaian khas Saudi ketika di kampus, break sejenak untuk segala aktivitas di waktu-waktu sholat, dan masih banyak yang lainnya.

Gedung perkuliahan

Belajar di KAU, ada banyak hal yang saya dapatkan, di antaranya dana beasiswa bulanan yang jumlahnya lumayan yakni 2900 SR; asrama mahasiswa yang dilengkapi dengan AC, kulkas, dan akses internet wireless  24 jam, lapangan sepak bola, bola basket, kolam renang; restoran yang menyediakan menu makanan khas arab dengan harga diskon; bus kampus yang nyaman dari asrama menuju kampus yang melewati pertokoan dan mall; fasilitas perkuliahan di tiap departemen sangatlah memadai dan tinggal pakai tanpa perlu merogoh riyal lagi seperti mesin cetak (printer) dan mesin fotokopi; ruang kelas yang nyaman dilengkapi dengan AC unlimited dan In Fokus/LCD.

Saya bersama dengan supervisor Prof. Amro

  Staf pengajar dan mahasiswa

Apa yang saya rasakan selama belajar di KAU seakan-akan seperti belajar di negeri Fir’aun. Bukan karena patung Sphink dan Piramidnya, tapi lebih kepada suasana perkuliahan di kampus. Bayangkan saja, sekitar 50-60 % tenaga pengajarnya berkebangsaan Mesir, selebihnya warga asli Saudi dan Pakistan. Perbedaan yang cukup jelas terlihat antara orang Mesir dan Saudi adalah dari pakaiannya. Para pengajar dari Mesir lebih suka memakai kemeja dan celana panjang, sedangkan pengajar Saudi pasti memakai pakaian kebesaran mereka yakni gamis putih dan sutrah.

Belajar di KAU tidak perlu khawatir akan kualitas dan kredibilitasnya. Karena sebagian besar pengajar bergelar Doktor (Ph.D) lulusan Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. Termasuk pembimbing akademik saya adalah salah seorang keturunan arab Mesir yang pernah belajar di IHE-Rotterdam Belanda selama 9 tahun mulai dari jenjang master, Ph.D, hingga Postdoctoral. Kemudian, hampir seluruh fakultas telah terakreditasi secara internasional, sebut saja seperti Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET), the Council on Occupational Education (COE), The Geological Society of London (GS), United Nations Development Programme (UNDP), The Global Congress on Dental Education (DentED), the Association for Dental Education in Europe (ADEE), Academic Administration Board for MS in Business Administration (AMBA), Canadian Accreditation Board, Liaison Committee on Medical Education, dan  the Chartered Institution for Water and Environmental Management (CIWEM)-United Kingdom yang telah mengakreditasi fakultas saya.

Masjidil Haram dengan Ka’bahnya

Masjidun Nabawi dengan arsitektur interiornya

Payung buka tutup otomatis yang indah

Keuntungan lainnya kuliah di Saudi Arabia, khususnya di KAU, adalah akses yang mudah menuju Kota Suci Mekkah dan Madinah. Dari Jeddah hanya satu jam perjalanan menuju Mekkah, sedangkan ke Madinah 4 jam perjalanan. Kecuali di musim haji, memasuki kedua Kota Suci tersebut tanpa harus menyertakan surat ijin (tasrif) ataupun pemeriksaan oleh polisi. Kapan pun bisa melaksanakan ibadah umroh dengan mudah. Kala musim haji tiba, penduduk Kota Mekkah tak menyia-nyiakan untuk berhaji, tak terkecuali orang-orang di luar Kota Mekkah. Caranya pun bervariasi mulai dari backpacker-an alias gratisan, hingga kelas eksekutif dengan biaya sekitar 4000 riyal atau setara dengan 10 juta rupiah.

Namun, dari keuntungan-keuntungan kuliah di Saudi Arabia tersebut, tentunya ada pula kekurangannya. Mulai dari ribetnya proses mendapatkan visa, baik di kantor yang di Saudi Arabia maupun di Jakarta, lingkungan fisik yang panas dan kering, lingkungan sosial yang monoton, kompetisi akademis yang masih rendah di kalangan mahasiswa, sedikitnya kendaraan umum sehingga pulang pergi seringnya menggunakan taksi yang harganya cukup merogoh saku, hingga bad image untuk ng orang-orang yang bertampang seperti saya, Indonesia. Seringnya mereka menganggap saya sebagai sopir pribadi orang Arab.

Sebagai seorang geografer, kondisi sosial yang seperti itu bukanlah hal yang perlu ditakuti. Justru itu merupakan sebuah tantangan tersendiri. Banyak pengalaman dan ilmu yang diperoleh darinya. Pastinya yang tidak diajarkan di kelas. Bila kita paham dan bahkan bisa mengikuti budaya masyarakat setempat, bad image yang tadinya kita rasakan akan berubah menjadi sesuatu yang membanggakan.

Why did I choose Jeddah as my study’s destination (Seri 2)

Kenapa saya pilih KAU? Setelah check and re-check masing-masing universitas, ternyata bidang ilmu yang saya inginin itu cuma ada di KAU aja, Hydrology and Water Resource Management. Itu bikin saya lebih cepat ambil keputusan karena gak banyak pilihan. Saya yakin Allah telah kasih jalan buat saya buat bisa kuliah di universitas yang jaraknya gak jauh dari Mekkah (70 kiloan) maupun Madinah (350 kiloan), juga termasuk jajaran universitas populer di Saudi Arabia, bahkan di Timur Tengah, menurut salah satu website.

Keesokan harinya, saya langsung ngontak salah seorang dosen via email yang sekaligus sebagai sekretaris departemen Geografi FMIPA UI, namanya Dr. Rokhmatulloh yang akrab dipanggil dengan Mas Rohmat, untuk kasih kabar tentang beasiswa S2 di KAU beserta persyaratan yang dibutuhin. Alhamdulillah senangnya bukan main, respon beliau positif dan mau membantu nyiapin surat rekomendasi (recommendation letters) dari tiga orang dosen. Thanks a lot Mas Rohmat yang pernah kuliah S2 dan S3 di Jepang, semoga kebaikannya diganjar Allah sama kebaikan yang lebih besar lagi.

Cihuy..

Kurang lebih setelah sepekan lamanya, Mas Rohmat mengirimi saya 3 buah surat rekomendasi via email. Itu membuat semangat menggelora untuk meng-apply dokumen persyaratan ke KAU sesegera mungkin.

Gak pake lama lagi, besok harinya saya apply dokumen-dokumen itu ke alamat email profesor yang tertulis, Prof. Amro Elfeki. Pake segala jurus dan doa supaya bisa diterima. Dan beruntungnya saya, proses seleksi itu gak pake tes wawancara dulu, jadi udah seperti jalan tol aja, bablas lancar. Dan setelah sekitar sebulan lamanya menunggu, akhirnya ada respon begini,

Dear Kuswantoro,

I would like to inform you that you are accepted from the department council, and your papers has been submitted to the board of the university for final acceptance. I will let you know any further details.

Amro

Alhamdulillaaah.. sujud syukur sebagai tanda terima kasih dan senang yang tak terhingga atas semua yang Allah kasih. Rasanya bagaikan ada di samping bidadari yang cantik di tengah-tengah taman bunga nan indah. Pingin rasanya memeluknya hehe,,

Dan pada saat itu, saya masih di Belanda dengan segala kesibukan kuliah dan tugas laboratorium yang gak ada henti-hentinya. Tepatnya di bulan ketiga. Tapi, dengan diterimanya saya di sebagai calon mahasiswa S2 Saudi Arabia, gak ngurangi semangat kuliah saya di fakultas ITC, Universitas Twente, Belanda. Dan saya belum mau kasih kabar ke keluarga yang ada di rumah, tunggu tanggal mainnya aja nanti kalau sudah tiba di Jakarta.

Mimpi oh mimpi.. Apakah saya lagi bermimpi atau ini realita?

Mekkah dengan Masjidil Haram-nya dan Madinah dengan Masjidun Nabawi-nya seakan-akan sudah ada di depan mata saya. Pingin rasanya cepat-cepat meninggalkan Kota Enschede dan buruan masuk Jeddah. Tapi, pertanyaannya adalah apakah gampang masuk Saudi Arabia?? Tunggu cerita selanjutnya di postingan yang akan datang yah guys..

Why did I choose Jeddah as my study’s destination (Seri 1)

Seri 1:

Kegundahan selama berada di Belanda saya rasakan saat menjalani summer course. Gundah bukan karena jauh dari keluarga. Of course, pasti kangenlah sama keluarga di rumah. Tapi bukan itu penyebab utama kegundahan saya. Tau kan gimana suasana kehidupan di Belanda yang liberal dan benar-benar bebas dari aturan agama.  Mungkin buat teman-teman lain itu gak masalah, tapi buat saya itu benar-benar cukup mengganggu stabilitas keimanan, maklum aja iman saya sangat rapuh hehe.. Terlebih, saya masih single, gak ada orang yang bisa ngejaga saya. Saya khawatir iman saya tergadaikan dengan kenikmatan dunia sesaat itu. Bukannya sok suci yah, tapi memang itu yang benar-benar saya rasakan saat itu.

Beberapa bulan menjalani summer course saya punya keinginan untuk bisa berkuliah di tempat yang dekat dengan kota Suci Mekkah maupun Madinah. Karena dengan begitu masa-masa single saya itu bisa dihabiskan selain untuk belajar juga untuk ibadah supaya lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Keinginan itu setiap saat saya curhatin di hadapan Sang Khalik terutama di setiap sujud lima waktu.

Pada suatu malam, saya mencoba mengetuk pintu Om Google untuk bertanya mengenai informasi beasiswa master yang ada di Saudi Arabia. Awalnya saya lihat terlebih dulu nama-nama universitas teratas yang ada di Saudi Arabia. Setelah klik, keluarlah beberapa nama, antara lain King Abdullah University Science and Technology (KAUST), King Fahd University Petroleum and Mineralogy (KFUPM), King Saud University (KSU), Ummul Quro University (UQU),  dan terakhir adalah King Abdulaziz University (KAU). Satu persatu saya cari tahu mengenai lokasinya, setelah itu saya coba search menggunakan kata kunci nama universitas dan gak lupa kata ‘scholarships’. Muncullah beberapa website tentang beasiswa master, tapi masih terlalu umum. Sehingga saya coba mempertajam pencarian dengan menggunakan kata kunci “Water Resource Management Scholarships King Abdulaziz 2010”, dengan akses internet yang begitu cepat di hotel mahasiswa itu sehingga setelah saya enter muncullah website yang benar-benar saya inginkan.

Om Google mengatakan bahwa ada lowongan beasiswa di King Abdulaziz University (KAU) yang berlokasi di Jeddah untuk bidang Water Resource Management tahun ajaran 2009/2010. Wow, alhamdulillah,, bukan main senangnya hati saya, gak sia-sia malam-malam bangun hanya buat tanya Om Google aja.

Kenapa saya lebih memilih KAU daripada kampus lainnya? Nantikan pada postingan selanjutnya ya guys,,