Ragunan Animal Garden, South Jakarta

 

Mendengar kata Kebun Binatang Ragunan mengingatkan aku ketika 23 tahun silam, aku bersama keluarga bertamasya melihat-lihat berbagai macam binatang. Mulai dari yang sebesar itik sampai gajah. Kenangan itu terulang kembali di saat usiaku di seperempat abad ini.

Ketika kakiku menginjakkan pintu masuk kebun, ada hal-hal yang dulu pernah aku lewati bersama keluarga. Namun, aku tak mau berlama-lama mengingat masa laluku, ku langkahkan kaki menyusuri jalan beraspal yang tertata rapi ke setiap sudut.

Kebun Binatang Ragunan terletak di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Luasnya mencapai 140 hektar. Daerahnya secara umum datar, walaupun jalan di sekitar situ sedikit bergelombang. Pepohonan hijau menjadi penutup lahan (landcover) yang dominan yang apabila dilihat dari ukuran pepohonan tersebut bisa diperkirakan kalau pepohonan tersebut terlah berusia tua (puluhan bahkan ratusan tahun). Di bagian selatan kebun binatang ini membentang situ-situ yang menambah indah dan harmonisnya pemandangan. Pengelola kebun binatang menjadikan pula situ-situ tersebut sebagai sarana rekreasi air seperti perahu bebek dan rakit wisata.

Di hari-hari libur banyak wisatawan yang datang dari berbagai belahan Indonesia. Bila dibandingkan dengan taman safari, Kebun Binatang Ragunan memang tidak luas. Namun dengan beragamnya binatang yang ada dan harga tiket masuk yang super murah, Rp.4.000, menarik minat wisatawan untuk menghabiskan masa-masa liburannya bersama binatang-binatang pavoritnya.

Semisal, wisatawan yang sangat menyukai ular, apalagi yang berukuran besar, dapat melihat dengan sepuasnya bahkan bisa berfoto bersamanya. Beberapa pemilik ular mendapatkan rejeki dari wisatawan dengan mengajak para wisatawan foto bersama ular. Harga yang ditawarkannya hanya Rp. 3000 dengan kamera sendiri dan Rp. 20.000 dengan kamera pemilik ular yang langsung jadi. Beberapa binatang lain yang bisa wisatawan naiki seperti Gajah, Onta, Kuda delman, dsb.

Kebun binatang Ragunan bisa menjadi salah satu tempat wisata yang recommended, khususnya untuk warga Jakarta sekitarnya, dan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya. Kamu-kamu yang ingin mengadakan acara reuni teman-teman sekolah, saya yakin kebun bintang ini merupakan tempat yang cocok.

Buat pasangan pengantin baru yang ingin berbulan madu namun belum dikaruniai uang yang cukup, Kebun Binatang Ragunan dijamin bisa memberikan kenangan pertama yang berkesan. Coba saja, begitu romatisnya bila pengantin baru naik gajah berdua sambil membayangkan naik gajah di Bangkok Thailand, atau naik onta berdua sambil membayangkan piramida Mesir, atau naik perahu perahu bebek di situ sambil membayangkan Bali, atau berfoto bersama ular sambil membayangkan sedang berada di hutan Amazon Brazil, atau naik delman berdua sambil membayangkan suasana di Malioboro Yogjakarta, atau mobil kereta keliling bersama wisatawan lain sambil membayangkan sedang naik trem di kota Amsterdam, atau nonton sirkus sambil membayangkan Disneyland Paris, atau lainnya. Hehe..

Wisatawan tidak akan merasa kesulitan untuk membeli makanan dan minuman, karena hampir di setiap sudut terdapat penjajak makanan. Harganya pun tidak jauh berbeda dengan yang di luar kebun binatang. Rasa aman dan nyaman pun akan terasa selama di dalamnya. Hanya saja permasalahan yang sering kali muncul di areal wisata Indonesia adalah masalah kebersihan. Di sana-sini terlihat sampah yang berserakan yang berasal dari sisa-sisa makanan, bahkan di rawa tempat tinggal sang buaya.

Sebagai warga Indonesia yang baik, seharusnya sisa-sisa makanan kita tidak dibuang di sembarang tempat. Buanglah di tempat yang telah tersedia. Itu sebagai wujud rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita hidup di dunia ini bersama alam, jadi janganlah sekali-kali kita menyakiti alam. Tahukah kamu, penyakit dan bencana yang seringkali kita lihat di televisi, bukankah itu karena kelalain kita sendiri?? Sepengetahuan saya, masyarakat Belanda (saat ini) akan merasa malu sekali apabila mereka membuang sampah sembarangan. Hal-hal yang melanggar aturan, menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Bagaimana dengan kita?? Semoga kita menjadi bagian masyarakat yang bertanggung jawab atas apa-apa yang kita lakukan.

Advertisements

Menteng Park, South Jakarta

 

Menghabiskan akhir pekan di Taman Menteng Jakarta mungkin ide yang pas buat para pecinta traveling maupun maniak fotografi. Selain tempatnya yang tertata rapih dan asri, terdapat lapangan basket dan play ground untuk anak-anak. Juga dilengkapi tempat parkir kendaraan, baik motor maupun mobil yang cukup luas di dalam sebuah gedung bertingkat. Rumah-rumah kaca turut menghiasi keindahan taman, walaupun di dalamnya kosong momplong. Tapi ingat gak, film Get Married yang pemeran utamanya Nirina, betewe rumah kaca itukan salah satu tempat shootingnya mereka loh. Yaudah, gak perlu ngebahas panjang lebar gituan deh hehe..

Konon, sebelum Taman Menteng itu ada, dahulunya merupakan lapangan sepak bola Menteng yang menjadi basecamp para pemain tim Persija. Namun dikarenakan pemanfaatannya sering menimbulkan masalah sosial seperti tawuran antar supporter dan secara fisik tidak tertata rapih, maka Pemda DKI mengalihfungsikan menjadi sebuah taman. Walaupun kala itu sempat menimbulkan polemik antara Menteri Pemuda dan Olah Raga, Adhyaksa Dault dengan Gubernur DKI saat itu, Sutiyoso. Tapi, yoweslah semua itu dah berlalu. Siapa yang punya jabatan tinggi dialah yang berkuasa menentukan segalanya.

Ngomong-ngomong tentang Taman Menteng, saya punya sedikit cerita sekaligus sebagai renungan.

Di sore hari itu, sekitar pukul 3 berdatanganlah para ABG-er dari berbagai penjuru. Umumnya mereka menggunakan sepeda motor, dan ingin menghabiskan waktunya untuk nongkrong-nongkrong sambil foto narsis, tak sedikit pula yang menghabiskan waktunya untuk mengumbar kata-kata lebay, “kamu cantik deh”, “dunia ini serasa milik kita berdua”, de el el, dan sebagian lain ingin berolah raga seperti main basket dan jogging.

Bila saya perhatikan dengan mata hati, ada yang tidak biasa di sana. Ketika saya sedang enak-enaknya duduk dan bersantai, tiba-tiba datanglah tamu tak diundang yang menawarkan kopi, susu, teh, bahkan minuman es. Yah..siapa lagi kalau bukan di pedagang keliling. Tapi bedanya dengan pedagang di tempat lain, mereka menggunakan sepeda lengkap dengan barang-barang dagangan dan selalu berputar-putar di sekitar taman. Setiap orang yang akan dihampiri dan ditawarkan minuman.

Hal yang menurutku unik adalah ada seorang pedagang yang berusia belasan tahun, mungkin sekiranya orangtuanya melihatnya akan mengatakan,”bukannya ngejual barang dagangannya malahan asyik-asyik main basket”. Awalnya sendirian namun lama-kelamaan bergabung dengan anak-anak lain yang memang sengaja ingin bermain basket.

Melihat hal seperti itu aku termenung sejenak, berpikir, selama aku hidup di Jakarta, aku sering merasakan kalau banyak di antara kita pernah  atau bahkan sering menjadi layaknya seorang raja yang dilayani dengan baik oleh para pembantunya.

Sebagaimana contohnya ketika kita berada di Taman Menteng, tanpa diperintah lagi salah seorang menawarkan minuman kepada kita (harus bayar). “Ngopi bos..?” atau whatever lah. Yang jelas, kita akan diperlakukan layaknya seorang raja. Namun sebenarnya kita menjadi raja di tengah keterpaksaan orang lain yang rela berlaku seperti pesuruh demi mencari sesuap nasi. “Kalo gak begini, gimana bisa makan dan nyekolahin anak”.

Seorang anak penjual minuman yang membiarkan barang dagangannya dan justru lebih memilih bermain basket, menunjukkan bahwa dia berdagang dan melayani orang lain karena keterpaksaan. Padahal dia ingin sekali seperti anak-anak lain yang menghabiskan akhir pekannya untuk berolahraga dan bermain bukannya untuk berdagang.

Sewaktu saya berada di Belanda. Rasanya cukup sulit untuk mendapatkan makanan maupun minuman, kecuali di toko-toko yang letaknya di centrum (pusat kota) atau di stasiun kereta api. Namun sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia, khususnya di Jakarta. Beberapa langkah dari pintu rumah saja sudah ada warung. Apalagi di tengah jalan, warung-warung kakilima sudah berserakan dimana-mana. Dan di tempat-tempat khusus, semisal taman, seharusnya sepi dari aktivitas jual beli, eh kok malah ramai dengan pedagang keliling. Kenapa bisa begitu?? Wah panjang deh ceritanya buat ngejelasin itu semua. Lain kali aja deh..

Hidup di Jakarta ini terkadang mengasyikkan, namun kalau dipikir-pikir, sebenarnya asyiknya kita itu di atas kesulitan dan keterpaksaan orang lain. Betul gak??

Jadilah orang yang banyak manfaatnya buat orang lain.

Terapi Sedot Lintah


Melihat ibuku yang sering mengeluh kakinya yang terasa perih, nyeri; lehernya yang sering kaku; seringnya badan tidak enak, lemas, pusing, melayang, membuatku berpikir-pikir mencari pengobatan alternatif yang alami dan sangat manjur.

Sebelumnya pernah beberapa kali berobat ke dokter dan meminum obat dari resep dokter A. Karena dianggap resep yang diberikan dokter A kurang pas, maka ibuku coba berobat ke dokter B dan diberikan resep baru. Namun begitulah, dianggap masih kurang pas juga coba beralih ke dokter C dan meminum obat yang diberikan. Alhamdulillah sembuh.

Setelah beberapa bulan kemudian, penyakitnya kambuh lagi. Menurut hasil pemeriksaan, kandungan asam urat dan diabetes ibuku lumayan tinggi. Sehingga itu yang menyebabkan ibuku seperti itu.

Telusur punya telusur via internet, aku menemukan informasi tentang adanya pengobatan alternatif sedot lintah yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumahku yakni di Bangka dekat Pancoran Jakarta. Lalu beberapa hari kemudian aku mengaja ibu untuk melakukan sedot darah dengan lintah. Alhamdulillah, kata ibuku dampaknya sangat terasa. Badannya yang sebelumnya kaku, tidak karuan, nyeri-nyeri panas di kaki dan leher telah hilang dan makan nasi menjadi lebih nikmat. Perubahan itu dirasakan sampai berbulan-bulan, tanpa minum obat apapun. Lalu setelah 2 bulanan, aku mengajaknya lagi untuk melakukan terapi sedot lintah yang kedua kalinya. Hasilnya, alhamdulillah sampai sekarang ibuku sehat wal ‘afiat.

Untuk mengetahui tentang apa itu lintah dan apa manfaatnya, aku coba mengutip beberapa sumber informasi yang menegaskan bahwa lintah merupakan binatang yang sangat bermanfaat bagi kesehatan kita.

The medicinal leech, as its name suggests, has historically been used for medicinal purposes, mainly to remove “bad blood” from the diseased. Around 1850 this practice fell into disrepute, but H. medicinalisis again becoming of value in medicinal practices. Today this species is used to relieve pressure and restore circulation in tissue grafts where blood accumulation is likely such as severed fingers and ears. The anticoagulant of leeches is also a fertile ground of research for surgeries in which an incision must be kept open. In addition, leech saliva is found to contain powerful antibiotics and anaesthetics which no doubt will prove useful in future medicinal practice (Sawyer, 1986). http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Hirudo_medicinalis.html

Penyakit yang paling banyak disembuhkan dengan terapi lintah ini adalah penyakit jantung koroner, gagal jantung, kebocoran jantung, pembengkakan jantung dan migrain. Bapak Alie terapis lintah yang ditemui detikhealth, Minggu 12 Juli 2009 mengatakan “Lintah dapat meregenerasi syaraf yang mati sehingga terapi ini sangat bagus untuk mengobati penyakit syaraf dan kardiovaskuler, jadi tidak semua penyakit bisa sembuh dengan terapi lintah.” Lintah yang dipergunakan untuk terapi ini adalah lintah jenis Medicinalis yang berasal dari hutan atau sungai di daerah Aceh, karena di daerah tersebut lintah ini masih steril, sedangkan lintah yang terdapat di sawah ataupun lumpur sudah tidak steril lagi. Bisa juga menggunakan lintah Medicinalis yang telah diternakkan. http://www.jimmyzakaria.com/kesehatan/terapi-lintah-dapat-menyembuhkan-penyakit

Ancol Beach, Indonesia

 

Saya yakin semua warga Jakarta pasti mengetahui salah satu tempat wisata yang satu ini, sebut saja Taman Jaya Ancol. Sebuah tempat wisata yang yang dikelola oleh pemerintah DKI sebagai salah satu sumber pendapatan daerah maupun Negara. Lokasinya di pesisir utara DKI Jakarta dan berdampingan dengan Pelabuhan Tanjung Priok.

Pantai di sepanjang TIJ Ancol merupakan pantai landai yang didominasi oleh batuan pasir yang berwarna coklat kehitaman. Pantai tersebut merupakan muara dari sungai besar yang ada di tengah-tengah Jakarta yakni Ci Liwung. Sebagaimana yang kita ketahui, Ci Liwung dari segi kualitas airnya sungguh memprihatinkan. Warnanya yang hitam, bau yang sangat tidak sedap, dan banyak membawa sampah/endapan/sedimen yang berasal dari daerah hulu. Tentunya hal tersebut akan sangat mempengaruhi kualitas air laut di sekitar TIJ Ancol.

Memasuki kawasan TIJ Ancol sungguh terasa sejuk. Walaupun bau tidak sedap tercium hingga menusuk ke pangkal hidung. Bau-bauan tersebut berasal dari genangan-genangan air di setiap saluran air dengan warna yang hitam keruh. Namun angin laut tiada henti-hentinya membisikkan telinga dan nyiur melambai-lambai tanda ajakan kepada setiap pengunjung untuk segera mendekati pantainya.

Dengan biaya sebesar Rp.13.000 rupiah pengunjung bisa memasuki kawasan wisata tersebut. Biaya tersebut tidak termasuk tempat-tempat wisata seperti Sea World, Atlantis, dsb. Di dalamnya setiap pengunjung akan mendapatkan fasilitas wisata gratis seperti bus wisata yang berhenti di setiap shelter yang tersedia, bermain air di pantai walaupun air lautnya keruh dan tidak sebersih Pelabuhan Ratu, parkir kendaraan gratis tapi hati-hati dengan helm motor Anda, WC umum yang lumayan bersih tapi sayang jumlahnya kurang memadai dan terkadang airnya habis, dan biasanya ada hiburan musik di Pantai Indah (dekat Dufan) seperti dangdutan dan musik band.

Bila cuaca tidak hujan, suasananya akan sangat romantis. Semilir angin yang bergerak tiada henti sehingga ombak pantai pun turut berlarian kian kemari. Sebagian besar sepanjang tepi pantainya sudah dibuat tanggul buatan dari bebatuan yang ditumpuk, namun ada beberapa bagian yang tidak ditanggul yang sengaja dibuat untuk sarana bermain pasir dan berbasah-basahan. Pengunjung yang sudah tidak bersabar untuk bermain air laut, akhirnya basah juga. Pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih, hanyut dalam buaian angin laut (awas banyak syetan). Sebuah keluarga bahagia tengah duduk asik di atas bebatuan besar sambil mengulurkan kail pancingnya ke laut. Beberapa orang sedang jogging dengan earphone di telinganya. Sesekali pasangan expatriat berlalu lalang sehingga menambah kekhasan wisatanya. Menghabiskan waktu di tepi pantai untuk membaca buku dan merenung rupanya dilakukan juga oleh beberapa orang guna mendapatkan inspirasi dan spirit baru.

Bila objek wisata pantai tersebut dirasa monoton, pengunjung bisa beranjak ke tempat yang lebih menarik lainnya seperti naik perahu kayu seharga Rp. 10.000, atau pergi ke Gelanggang Samudera, Taman Lumba-lumba,Sea World, Gelanggang Renang Atlantis, Taman Anaik-anak, Putri Duyung Cottage, Ancol Glof Course maupun Dunia Fantasi. Tempat-tempat tersebut dapat pengunjung nikmati asalkan harus merogoh kocek yang dalam terlebih dahulu (hehe…).

Taman Mini Indonesia Indah (TMII), East Jakarta

Alhamdulillah..rumah saya tidak begitu jauh dengan tempat wisata yang sangat terkenal di Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Konon dosen saya pernah bercerita, di era Orde Baru sebelum krisis moneter, banyak turis asing yang berkunjung ke Jakarta untuk mengenal Indonesia dari dekat. Biasanya paket yang ditawarkan adalah di pagi hari ke TMII dan sore harinya ke pantai Ancol sekitarnya. Kenapa demikian? Katanya, kalau pagi harinya ke pantai Ancol kemudian sore harinya ke TMII, bisa-bisa turis-turis asing itu akan kapok untuk datang ke Indonesia lagi. Itu dikarenakan pemandangan pantai Ancol di pagi hari dipenuhi dengan sampah dan bau-bauan yang super tidak sedap (silakan dicoba), dan di siang/sore hari panas matahari sungguh akan melelehkan kulit kita apabila kita berada di areal TMII. Jadi, buat kamu-kamu yang mau jalan-jalan ke TMII, sebaiknya harus sudah direncanakan matang-matang mengenai waktu (timing) tempat-tempat yang akan dikunjungi selama di dalam areal TMII.

Kembali ke topik utama..

Buat para pecinta olah raga pagi, TMII merupakan tempat olah raga yang sangat tepat. Jauhnya dari lalu lintah kendaraan umum, hijaunya pepohonan yang menghiasi di setiap sudut tempat, penuh dengan warna dan aroma, dikelilingi oleh bangunan-bangunan unik, khas, cantik, mempesona, elok, anggun, dan tertata rapih. Udara yang tidak terlalu dingin yang sangat segar berhembus membelai tubuh dan rambut setiap pecinta olah raga. Kabut tipis yang menampakkan dirinya di atas danau buatan yang memanjang di bagian tengah TMII turut menghiasi pandangan sepasang bola mata.

Lekas subuh, berduyun-duyunlah para pecinta olah raga mulai dari balita, anak-anak, remaja, hingga kakek dan nenek memasuki pintu utama TMII, baik itu pintu I, II, maupun III. Dengan merogoh kocek yang murah Rp. 6.000, pecinta olah raga bisa masuk dan menikmati apa saja yang sudah tersedia di areal TMII. Asalkan sebelum jam 7 pagi.

Biasanya para pecinta olah raga melakukan joging bersama mengelilingi danau buatan yang di dalamnya terdapat pulau-pulau Indonesia, sebagian lainnya melakukan senam porpi maupun aerobik, sebagian lainnya yang sambil membawa anak dan keluarga melakukan olah raga sendiri di tempat-tempat yang mereka sukai misalnya di halaman rumah-rumah adat Indonesia, atau pun di halaman museum-museum.

Selepas berolah raga, orang-orang akan menuju pasar kaget pagi yang sudah stand-by di dekat pintu-pintu masuk/keluar. Badan kita bisa di-charge lagi dengan berbagai makanan dan minuman yang dijual bebas, mulai dari bubur ayam, aneka roti, aneka soto, ketoprak, bakso, aneka nasi, buah-buahan, sayur-mayur, perlatan rumah tangga, hingga aneka minuman.

Bagi saya, berada di dalam areal TMII amat sayang untuk dilewatkan tanpa hunting foto. Bergegaslah saya menuju tempat-tempat khas dan unik seperti rumah-rumah adat, museum, taman burung, istana anak-anak, keong mas, dan tugu TMII yang berlokasi di bagian barat sambil menggenggam sebuah kamera saku merek BenQ dengan resolusi 6 megapixel. Walaupun belum memiliki kamera DSLR, kamera saku saya telah menjadi teman setia di setiap tempat yang saya kunjungi. Mungkin dari pembaca ada yang ingin menghadiahkan saya sebuah kamera DSLR, ribuan terima kasih akan saya ucapkan, hehe…

WISATA KOTA TUA JAKARTA

“Neng neng neng….” suara itu berbunyi berulang kali membuat aku bergegas menuju loket karcis stasiun kereta api Pondok Cina Depok. Suara itu menandakan bahwa kereta api akan segera tiba di stasiun. Setibanya aku di stasiun itu, waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, aku bertemu dengan temanku, Novan, yang akan pergi menemaniku. Ketika kereta api ekonomi tiba di stasiun, kami segera menaikinya dengan penuh kehati-hatian. Penuh dan ramai. Itulah suasana yang kami rasakan saat berada di dalam kereta api. Walaupun hari itu adalah hari Minggu, ternyata tidak menurunkan gairah masyarakat untuk bepergian dengan kereta api.

Kurang dari sejam, kami pun tiba di stasiun Kota. Legalah hati kami karena bagaimanapun setelah keluar dari pintu kereta api, berarti telah terbebas dari sesaknya tempat, pengapnya udara, ramainya suara pedagang eceran, bahkan terbebasnya diri dari lirikan mata-mata jahat dan manuver tangan-tangan jahil. Begitulah kondisinya manakala kami menaiki kereta api ekonomi jurusan Bogor-Kota. Bagaimana tidak ramai, loh wong harga tiketnya saja cuma Rp 1.500, apalagi gratis buat para pedgang sehingga mereka menggantungkan hidupnya pada kereta api. Aku dan Novan tidak banyak membuang-buang waktu untuk mendiskusikan hal itu, karena sudah menjadi pemandangan sehari-hari, terlebih bagi Novan yang setiap hari menaiki kereta api itu. Jadi sudah menjadi maklum bahwa inilah kondisi negeri kami, Indonesia. Kami pun berjalan menuju pintu keluar stasiun Kota.

Museum Bank Mandiri

Tepat di sebelah barat stasiunKota, terlihat dengan jelas gedung kuno, Museum Bank Mandiri. Lalu lalang mobil, bus, dan motor membuat kami ragu untuk menyeberangi jalan raya itu, karena di lokasi tersebut tidak ada fasilitas penyeberangan. Namun bagaimanapun juga kami harus bisa. Lalu menyeberanglah kami dengan penuh hati-hati.

Sesampainya di depan pintu masuk Museum Bank Mandiri kami bertemu dengan salah seorang petugas keamanan, satpam. Kami diarahkan untuk melakukan registrasi terlebih dahulu di bagian penerima tamu. Hanya dengan menunjukkan kartu tanda mahasiswa (KTM) atau kartu ATM Mandiri, kami bisa langsung menikmati suasana kuno tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Kuno. Yah begitulah nuansa yang kami rasakan saat memasuki ruangan satu demi satu. Kami cukup dibuat penasaran dengan isi museum itu. Namanya juga museum bank, makanya barang-barang kuno yang dipamerkannya adalah barang-barang yang digunakan untuk keperluan bank seperti ruang kluis yakni sebuah ruangan yang dibangun dengan konstruksi dari baja yang berfungsi untuk menyimpan uang kas dan surat-surat berharga. Di dalam ruang kluis ini terdapat koleksi brandkast yang berjumlah 31 buah dari berbagai merk. Di ruang lainnya terdapat mesin branch seminar yang digunakan sebagai transaksi di teller menggunakan kartu microchip; perforator; stempel bank; mesin teleprinter; mesin ketik; dan ada banyak yang lainnya. Sesuatu yang menarik yakni adanya sepeda kuno yang dapat kami naiki walaupun hanya di tempat sambil berfoto-foto ria.

Museum Bank Indonesia

Lokasinya bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri, tepatnya di sebelah utaranya. Kami hanya berjalan sebentar, tibalah di depan Museum Bank Indonesia (MBI). Dari luar memang nampak seperti bangunan tua dan kuno, namun saat kami coba memasuki gedung itu, ternyata ada suasana yang berbeda seperti museum sebelumnya. Megah dan antic. Megah, layaknya hotel berbintang. Karena saat kami memasuki gedung tersebut, pintu masuknya terbuat dari kaca dengan system buka tutup otomatis (menggunakan sensor), arsitektur interior bangunannya cukup modern. Ada dua orang penerima tamu layaknya kami sedang bertemu dengan customer service bank yang sesuangguhnya.

Konon menurut sejarahnya, gedung tua tersebut merupakan peninggalan dari De Javasche Bank, yang kemudian dimanfaatkan menjadi kantor Bank Indonesia sejak tahun 1953. Namun sudah lama sudah tidak digunakan lagi. Gedung tersebut merupakan gedung bersejarah dan terancam punah. Oleh karenanya, pemerintah menetapkannya sebagai bangunan cagar alam.

Guna memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai fungsi dan peran Bank Indonesia mulai dari awal berdirinya, maka benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah terkait dengan kegiatan Bank Indonesia di masa lampau dirawat dan dikelola.

Setelah gedung tersebut ditetapkan sebagai bangunan bersejarah MBI, maka dilakukanlah renovasi bangunan termasuk bagian interiornya. Hasilnya sangat mengagumkan. Pada tanggal 15 Desember 2006 lalu, telah dilakukan pembukaan museum. Ada sebuah perubahan yang tadinya terkesan kuno, tradional, pengap, dan berdebu, kini gedung tersebut telah disulap menjadi Museum Bank Indonesia dengan nuansa yang modern, ber-AC alias dingin, bersih, penuh warna, unik tanpa menghilangkan nilai-nilai historisnya.

Tanpa banyak berpikir lagi, kami coba memasuki ruangan satu demi satu. Dimulai dari Ruang Peralihan, di dalamnya kami dapat menikmati atraksi permainan interaktif memalui proyektor khusus seperti mata uang yang melayang dan memberikan informasi ketika kami ‘manangkap’ salah satu mata uang tersebut; Ruang Teater yang di dalamnya akan diputar film sejarah Bank Indonesia; Ruang Sejarah Pra-Bank Indonesia didalamnya terdapat peta kuno pada dinding, panel perdagangan, panel static dan plasma TV yang memutarkan film-film sejarah; Ruang Sejarah Bank Indonesia  yang di dalamnya terdapat banyak panel yang menceritakan sejarah Bank Indonesia sejak tahun 1953 hingga tahun 2005; Ruang Numismatik yang berisikan sejarah uang di Indonesia yang ditampilkan dalam berbagai jenis uang unik; terakhir adalah ruang auditorium yang digunakan untuk menyelenggarakan seminar atau diskusi ilmiah.

Wah, kami benar-benar puas menikmati MBI. Mungkin apabila museum-museum yang ada di Indonesia dibuat seperti MBI, minat masyarakat untuk mengunjungi museum akan meningkat. Apalagi tidak dipungut biaya sepeser pun.

Museum Fatahillah

Waktu sudah semakin sore, kami bergegas menuju museum lainnya yang sangat terkenal dan sudah lama berdiri, yakni Museum Fatahillah.

Museum ini sudah lama dikenal dengan nama Museum Fatahillah, namun saat ini pemerintah menamakannya Museum Sejarah Jakarta. Lokasinya di sebelah utara MBI, dan untuk mencapainya, kami cukup berjalan kaki beberapa menit. Di sekitar Museum Fatahillah terdapat bangunan kuno lainnya yang tidak dimanfaatkan lagi. Dahulunya bangunan tersebut merupakan kantor dagang, seperti PT. Kerta Niaga yang kini kosong dan terkesan angker.

Berikut ini sejarah singkat mengenai Kota Jakarta yang informasinya berhasil kami dapatkan.

Zaman prasejarah wilayah Jakarta dan sekitarnya (3000 SM-500 M)

Daerah Jakarta dan sekitarnya (Jabotabek) merupakan daerah endapan alluvial yang tebentuk sejak 5000 tahun yang lalu. Di atas daerah endapan alluvial yang subur ini tersebar sekitar seratus buah situs prasejarah yang meninggalkan ribuan temuan artefak ini membuktikan pula bahwa pada zaman prasejarah di daerah ini telah terdapat tempat-tempat permukiman penduduk. Sebagian besar situs prasejarah di daerah Jakarta dan sekitarnya terletak di daerah aliran sungai. Situs-situs permukiman prasejarah ini dapat dikelompokkan menjadi:

A)    situs-situs Masa Bercocok Tanam (3000-1000 SM)  yang terutama menghasilkan alat batu neolitik, dan

B)    situs-situs Masa Perundagian (1000 SM-500 M) yang terutama menghasilkan alat-alat logam (perunggu dan besi).

Beberapa tempat permukiman merupakan pula pusat-pusat kegiatan industri (perbengkelan). Situs Kelapadua merupakan sebuah contoh situs perbengkelan neolitik yangmenghasilkan alat-alat berupa beliung persegi yang diupam. Daaerah Buni, Bekasi, merupakan situs perbengkelan pusat pembuatan benda-benda gerabah. Sedangkan situs Pejaten, Pasarminggu, merupakan sebuah situs perbengkelan logam yang terutama menghasilkan kapak perunggu.

Tatanan kehidupan berbudaya masyarakat prasejarah di daerah Jakarta dan sekitarnya tampak telah memberikan landasan dan peranan yang penting ketika proses akulturasi antara unsur-unsur kebudayaan setempat dan unsur-unsur kebudayaan luar (khususnya kebudayaan India) berlangsung di daerah ini.

Jelaskan informasinya….sampai jumpa lagi.

Stay Hungry, Stay Foolish – Steve Jobs

Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

*Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik*
Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.

Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab:“Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkatsaya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya *tidak melihat manfaatnya*. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun *memutuskan berhenti kuliah*, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga *nebeng* tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa *ingin tahu dan intuisi*, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa *titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang*. Anda harus percaya dengan intuisi,takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyakperbedaan dalam kehidupan saya.

*Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.*
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz (Steve Wozniak) dan saya mengawali Apple di*garasi* orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan *saya dipecat*. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.

Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi *tokoh publik yang gagal*, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- *saya masih menyukai pekerjaan saya*. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah *kejadian terbaik* yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itumengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama *NeXT*, lalu * Pixar*, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya *kembali lagi ke Apple*, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena s*aya menyukai apa yang saya lakukan*. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun asangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. *Jangan berhenti*.

*Cerita Ketiga Saya: Kematian*
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir
segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. *Mengingat kematian* adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “*Stay Hungry. Stay Foolish*.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. * Stay Hungry. Stay Foolish*.

Sumber: http://rhanu. web.id/