Ekspatriat Terbanyak di Dunia

“Sulaymaniah?” tanyaku sambil sikut-sikutan di pintu angkot.

Tahu bagaimana suasana berebutan naik bus saat mudik, khan? Yah begitulah kondisinya saat saya mau naik angkot. Sulaymaniah adalah jurusan angkot itu, salah satu kawasan industri di Jeddah yang sebagian besar pekerjanya berasal dari Bangladesh, India, dan Pakistan.

Saat itu sekitar jam 10 malam. Saya baru saja selesai cuci mata, ops.. maksudnya jalan-jalan di Corniche Mall daerah Al-Balad. Sebagai mahasiswa perantau, sudah sepatutnya saya prihatin dengan kondisi bangsa, hehe.. maksudnya kondisi kantong yang tipis yang masih memikirkan besok masih bisa makan apa nggak, sehingga saya mesti berhemat ria dalam mengeluarkan sebutir riyal. Apa yang saya lakukan malam itu adalah naik angkot murah meriah, dan yang terpenting adalah selamat sampai asrama tercinta dengan tertawa 😀 ops.. maksudnya tersenyum 🙂

Gbr.(1) Corniche Mall di daerah Al Balad

Mobil riyalen. Begitulah orang menyebutnya yang narik cuma di hari Jumat. Riyalen itu artinya dua riyal. Angkot itu bisa berupa mini bus maupun mobil van yang sebenarnya bukan angkutan umum, tapi dipakai untuk antar jemput karyawan pabrik. Lumayan kan cuma dua riyal, soalnya kalau pakai taksi setidaknya 15 riyal harus melayang dari dompet kulit onta . Hemm, jadi ingat pesan emak,”Angger esih nyekolah, mesti prihatin, ajja ngguang-ngguang duit nggo sing ora-ora, apa maning kowen pan mbojo mengkone” 🙂

Sesaat berada di dalam angkot, terdengar suara teriakan cukup keras dari sang sopir.

“Muhammad, wara’ khomsah! Lish inta arba?” 

Sang sopir meminta penumpang yang duduk di belakang supaya jatah empat kursi itu untuk ditempati lima orang. Karena banyaknya orang yang mau pulang, maka berapapun jumlah penumpangnya masih dibolehkan masuk. Walhasil, saya pun duduk berhimpitan sama orang-orang itu. Hemm, sambil nahan nafas, kok tercium bau aneh yah, kaya bau bawang bombay dipanggang gituh. Saya tengok ke kanan, kiri, bawah, maupun atas nggak ada yang bawa bawang tuh. Hari yang aneh! Yeach.. namanya juga naik riyalen, jadi segala macam bau badan bercampur aduk udah kaya gado-gado 😦

Gbr.(2) Suasana di dalam mini bus riyalen

Setelah sopir tancap gas, mulailah angin malam nan semriwing merasuki celah-celah jendela angkot. Tubuh yang lelah sedikit demi sedikit tiada terasa. Mata yang hidup perlahan-lahan meredup. Awal pikiran melayang kini menjadi tenang. Hati yang galau pun akhirnya dapat dihalau. Halusinasiku mulai merasuki jiwa. Ku merasa seakan-akan berada di sebuah sudut kota India saat sang sopir menekan tombol “play” di radio tape-nya. Terdengarlah alunan lagu nan indah berseri, mengingatkanku akan saat-saat indah itu bersamanya di taman nan indah nun jauh di mata. (#lebay dot com).

“Tum paasse aye, Tum paasse aye

Yun Muskurayee, Tum nena jane kya

Sapne de khaye, Aabto mera dil

Jaane ka sota hai, Kya karoon ha ye

Kuch kuch hota hai”

Kepala bergeleng-geleng, bahu naik turun, perut kembang kempis, dan jempol tangan meliuk-liuk. Begitulah (mungkin) orang-orang di dalam mini bus itu menikmati musik Bollywood. Sekiranya mini bus itu nggak penuh, mungkin mereka akan berdiri sambil menggoyangkan pinggulnya lengkap dengan lompatan ala Shah Rukh Khan, haha.. Hidup di Arab Saudi kok serasa hidup di India ya??

Hadooh…

Memang kalau saya perhatikan, para penumpang yang biasa naik mobil riyalen itu adalah para pekerja pabrik yang berasal dari Bangladesh, India, maupun Pakistan, adapula yang dari Filipina. Sedangkan penumpang berwajah seperti saya sangat-sangat jarang mau naik mobil itu. Ya wajar saja, khan sebagian besar orang-orang kita yang di sini pada nyetir sendiri alias sopir rumahan, keren khan hehe.. 😀

Gbr.(3) Sesaat tiba di Sulaymaniah

Hidup di Arab Saudi, khususnya di Jeddah punya cita rasa tersendiri. Hal yang pasti yakni keberadaan para pendatang dari luar Arab Saudi, sebut saja ekspatriat. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi selalu ketemu mereka. Contoh-sontoh yang sering saya temui, mau tau? 3x (#gaya da’i Maulana).

  • Mau ke kamar kecil di asrama ketemu dengan orang Bangladesh yang sedang ngepel;
  • beli sandwich di bufiah (restoran kecil) sama orang Pakistan;
  • beli softrink di bagalah (toko kecil) sama orang India;
  • naik bus ke kampus yang jadi sopir orang India;
  • petugas kebersihan di jalan raya orang Bangladesh;
  • di lampu merah lihat wanita bercadar hitam, eh sopirnya orang Indonesia;
  • petugas kebersihan di kampus orang Bangladesh dan India;
  • teknisi peralatan dan gedung orang Filipina;
  • dosen yang ngajar di kampus orang Mesir, Turki, Tunisia, dan India;
  • makan di kantin kampus dilayani sama orang Filipina, India, dan Bangladesh;
  • beli sayur mayor dan buah-buahan sama orang Yaman;
  • suster di rumah sakit orang Filipina, India, juga Indonesia;
  • dokternya orang Mesir, India, Filipina, dan Turki;
  • beli laptop sama orang Pakistan atau India;
  • mau makan nasi bukhori sama orang Afganistan atau Pakistan;
  • sopir taksi kebanyakan orang Bangladesh, Pakistan, dan India;
  • beli bensin di pom bensin sama orang Bangladesh dan India;
  • yang jadi SPB (Sales Promotion Boy) di mall orang Filipina dan Mesir;
  • mau bayar belanjaan, kasirnya orang Mesir atau India.
  • pekerja bangunan di kampus kebanyakan orang Sudan atau Somalia;
  • pekerja pabrik di sekitar Sulaymaniah kebanyakan orang Bangladesh dan India;
  • dan mau pesan tiket pulang ke Indonesia pun yang melayani orang India.

Saya penasaran sekali, sebenarnya berapa sih jumlah pendatang dari tiap-tiap negara itu. Tahun 2007, Andrzej Kapiszewski seorang sosiolog dan diplomat, sekaligus professor di universitas Jagiellonian, Polandia telah melakukan penelitian. Di dalam penelitiannya tercatat bahwa ekspatriat terbesar yang tinggal di negara-negara Teluk terutama Saudi Arabia adalah India, kemudian diikuti oleh negara Pakistan, Mesir, Yaman, Bangladesh, Filipina, Sudan, Sri Lanka, Jordan/Palestina, Indonesia, dan Nepal. Silakan klik Table 1.

Tabel 1. Jumlah ekspatriat terbanyak di negara-negara Teluk (x 1000)

Lagi, di tahun 2010 juga dilakukan penelitian tentang perbandingan antara penduduk asli dan epkspatriat di negara-negara Teluk. Hasilnya cukup mengejutkan. Negara-negara yang luas wilayahnya kecil dan penduduk sedikit seperti UAE, Qatar, dan Kuwait ternyata persentase jumlah ekspatriatnya jauh lebih besar daripada jumlah penduduk aslinya. Tapi, bila dilihat dari jumlah ekspatriat di tiap-tiap negara Teluk itu, Arab Saudi merupakan negara yang paling banyak  memiliki ekspatriat, yakni 7.7 juta jiwa. Silakan klik Tabel 2.

Tabel 2. Perbandingan penduduk asli dan ekspatriat di negara-negara Teluk

Jadi, sampai saat ini, Arab Saudi adalah negara yang jumlah ekspatriatnya terbanyak di negara-negara Teluk. Lalu apakah jumlah itu terbesar di dunia? Hemm.. ternyata nggak. Ada negara-negara lain yang jumlah ekspatriatnya jauh lebih besar. Silakan klik gambar berikut ini.

Gbr.(4) Perbandingan jumlah ekspatriat di dunia

Ow ow.. ternyata jumlah ekspatriat terbanyak di dunia terdapat di Amerika Serikat, lalu Rusia, Jerman, Ukraina, Prancis, dan barulah Arab Saudi. Hemm.. topik ini sebetulnya sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam, suwer dech! apalagi melalui sudut pandang geografi kependudukan. Namun, tanpa mengurangi minat para pembaca, saya membatasi pembahasan ekspatriat di blog ini hanya pada tataran jumlah dan sebaran secara umum saja, terlebih lagi nggak bermaksud untuk mendiskriminasikan suku, bangsa, maupun agama tertentu. Kalau kata orang yang pernah ada di dekat saya mengatakan saya seperti ini,”Kamu itu orangnya cinta damai kokceilahhh..narsis abis dech! 🙂

Kembali ke cerita mengenai keberadaan para ekspatriat di Arab Saudi. Keberadaan mereka di tengah-tengah kehidupan saya bagaikan tujuh warna pelangi. Me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Ada rasa keingintahuan untuk mempelajari budaya mereka. Setidaknya belajar bahasanya. Hemm.. dipikir-pikir kalau mau belajar tujuh bahasa dunia akan mudah banget dong.

Semisal, “apa kabar?” jawabannya,“baik” atau sejenisnya yah.

– Bahasa Arab formalnya,“Kaifa haluk?” jawabannya,“bikhoir”.

– Bahasa Arab gaulnya,“Kif halak?” atau singkatnya,“Kifak?” jawabannya,”kuways”.

– Bahasa Arab Mesirnya,“Zayya ahwalak?” jawabannya,“miyah miyah”.

– Bahasa Inggris,“How are you?” jawabannya,“fine”.

– Bahasa Urdu (India/Pakistan),“Kiya hal he?” atau “Ab kase he?” jawabannya,“Thike”.

– Bahasa Bengali,“Kamunacen?” jawabannya,“Balo ce”.

– Bahasa Filipino,“Kumusta ka?” jawabannya,“Mabuti”.

– Bahasa Turkish,“Nasilsin?” jawabannya,“ince”.

Kan ada istilah “Learning by doing” yaitu belajar dengan melakukan secara langsung atau dipraktekan. Cara itu dinilai efektif dalam memberikan pemahaman kepada si pembelajar. Apalagi diulang-ulang setiap hari bila kita bertemu dengan para ekspatriat itu. Sehari satu kosakata, kira-kira kalau setahun sudah berapa kosakata ya?? Ratuusaaan…

Luar biasa deh tinggal di Jeddah. Keberadaan para ekspatriat dari berbagai negara itu bisa membuat kita lebih mengenal lebih banyak tentang keunikan manusia yang berlatar belakang berbeda-beda. Kalau tinggal di Indonesia, kita akan merasakan keanekaragaman suku bangsa, seperti Jawa, Sunda, Madura, Minang, Batak, Betawi, Ambon, Bugis, Dayak, Papua, dan ribuan suku lainnya. Tercatat, Indonesia punya 1.128 suku bangsa loh. Nah, di Jeddah yang kita jumpai adalah keanegaraman suku bangsa di dunia. Kalau mau tahu lebih aneka ragam lagi, coba saja ke Corniche Mall di Al-Balad, terutama di malam Jum’at (weekend). Tombo ngantuuukk..!! (#tukul mode on) dan dijamin malam itu akan terasa sangat singkat dech, bahkan nanti nggak mau pulang ke rumah 😀 ckckck…

Saya jadi teringat dengan firman Allah SWT dalam Qur’an surat Al-Hujurat (49) ayat 13, tertulis dengan jelas pesan-Nya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Berbedanya diri kita dengan lainnya dari segi suku bangsa bukan menjadi perbedaan tingkat kemuliaan kita di mata Tuhan. Walaupun orang itu kulitnya hitam, kerjanya mencari butir-butir kurma yang tercecer atau mengumpulan tumpahan minyak buminya, namun bila hatinya baik dan ibadahnya rajin, justru dialah yang lebih baik daripada orang-orang yang putih kulitnya, mancung hidungnya, Land Cruiser mobilnya, 4 lantai rumahnya, direktur pekerjaannya, tapi pelit dengan hartanya, sombong perangainya, bahkan nggak mau mengenal adanya Tuhan.

Alangkah bahagianya bila sudah ganteng/cantik, banyak hartanya, baik hatinya, dan ia mau mengenal Tuhannya bahkan rajin ibadahnya. Pastilah Syurga balasannya di akhirat nanti. Hemm.. udah dapet syurga dunia, eh dapet syurga akhirat juga, manteb coy..!!

—————————–

Sumber:

1. Gambar (1), (2), (3) dari   dokumentasi pribadi

2. Gambar (4) dari   http://www.nationmaster.com/..

3. Tabel 1 dari   http://www.un.org/esa/population/..

4. Tabel 2 dari   http://www.eida.gov.ae/userfiles/..

5. Kutipan ayat dari     http://quran.com/

Advertisements

Awas, Ada Tsunami!

Siang itu, 26 Januari 2011.

Mator kabir, moyah yiji hina..” teriakan itu terdengar keras dari dosen saya. Tak tok tak tok, suara langkah sepatunya menuju ke ruangan dimana saya sedang berpuyeng-puyeng ria mengerjakan ujian. Soalnya bejibun cing!

Setelah ia membuka pintu, saya melihatnya sambil geleng-geleng kepala, lalu lidahku membaca, “Laa haula walaa quwwata illaa billaah.. Prof, what’s happening with you?” tanyaku sambil merasa keheranan. Pakaiannya basah kuyup, ia menggigil kedinginan saat masuk ke ruangan ber-AC yang bersuhu 18° Celcius.

“Toro, have you finished your exam?” tanyanya dengan nada penuh khawatir.

“I haven’t Prof. I still have 30 minutes, right?” jawabku dengan panik karena masih ada beberapa soal yang belum terjawab.

“You must finish it now, because there will be flood around university after one hour. Move, move now!” hah?! Bakalan ada banjir besar? Mata melotot, dan tiba-tiba bulu kuduku merinding, detak jantung bergerak secepat jam weker. Sudah panik dengan ujian ditambah lagi panik dengan informasi akan datang banjir. “Emaaakk..kepriben kiye? Wes adoh-adoh nyekolah neng Jeddah, kok esih bae nemuni banjir..” (#kalau gak tahu artinya, silakan tanya ke orang Tegal)

Dalam waktu kilat, saya isi semua lembar jawaban yang masih kosong. Jurus Einstein langsung saya keluarkan. Hiaattt!!! E=123456789 x +_/2^123456789. Selesai!

Akhirnya selesai juga ujian saya, lalu berlari menghampiri Profesor,”Prof, these are my answers. Be aware and Good bye!”

Saya berjalan tergesa-gesa keluar dari gedung fakultas. Saat saya lihat ke langit, wow seram sekali. Awan tebal gelap memanjang ke arah timur. Ya Allah, mimpi apa semalam. Sebenarnya saya sudah biasa menghadapi hujan di Jakarta, bahkan sewaktu kecil saya suka mandi hujan dengan teman-teman kampung. Kenapa orang-orang sini pada ketakutan ketika akan turun hujan lebat.

Gbr. (1) : Ilustrasi badai hujan yang menyebabkan banjir

Gbr. (2) : Ilustrasi badai hujan bila dilihat dari satelit cuaca GWADI

Di pintu luar fakultas. “Toro, you wanna go with me?” tanya salah seorang dosen lainnya, namanya Pak  Sami.

“Of course, I want.” saya dan Pak Sami menuju mobilnya yang sedang diparkirkan.

Masya Allah, ketinggian air sudah 10 cm dari permukaan tanah. Mobil-mobil yang parkir di basement sudah terendam hanya dalam waktu setengah jam. Luar biasa cepatnya gerakan air itu.

Awalnya ia akan mengantarkan saya ke hostel dimana saya tinggal. Namun di pertengahan jalan, arus air dari Jalan King Abdullah bergerak cepat dengan ketinggian setengah meter dari arah timur. Akhirnya ia meminta saya untuk tetap bersamanya hingga menemui jalan yang tidak tergenangi banjir. Namun, apa hendak dikata. Hari itu benar-benar tidak diduga-duga sebelumnya. Limpasan air yang melewati setiap ruas jalan semakin bertambah besar. Air sedikit demi sedikit memasuki mobil yang saya tumpangi. Awalnya setinggi kaki, lalu dalam waktu singkat tinggi air naik hingga mengenai bokong. Saya dan Pak Sami benar-benar panik, dimana kami akan menepi. Padahal di kanan kiri saya nampak beberapa mobil terbawa arus air, bahkan ada seorang wanita bersama sopirnya terjebak banjir di tengah jalan, ia hanya bisa berteriak,”Ya Allah, Ya Allah..” Maksud hati mau menolongnya, namun bagaimana bisa, kami saja sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada kami. Untungnya sebuah truk besar menghampirinya dan menolong si wanita dan sopirnya. Bisa lihat contoh video saat kejadiannya di

Gbr. (3) : Situasi ketika terjadi banjir bandang Jeddah, mengerikan!

Nasib kami belum jelas akan selamat atau tidak. Mobil kami benar-benar terseret arus air. Sambil membayangkan kejadian tsunami tahun 2004 lalu di Aceh yang memakan korban ribuan orang tewas. Air mata akhirnya membasahi pipi saya,“Ya Allah, saya masih bujangan nih.” Alhamdulillah, kami berdua diselamatkan Allah, mobilnya tahan banjir, hemm..mungkin karena mobilnya bermerk Ford kale yah.

Sedikit membicarakan banjir di Jeddah memang berbeda dengan banjir yang biasa kita alami di Jakarta khususnya. Banjir di Jeddah mirip dengan tsunami. Kecepatan gerakan airnya tinggi dan membentuk ombak. Kok bisa yah?

Penjelasan mudahnya begini, bahwa setidaknya ada empat hal yang mesti kita perhatikan dengan seksama (#wah hidrologis banget nih hehe) :

(1) Curah hujan, (2) Karakteristik daerah tangkapan air, (3) Saluran drainase, dan (4) Pola penggunaan lahan

(1) Curah hujan saat itu sebesar 111 mm dalam waktu 3 jam loh, bila curah hujan sudah di atas 50 mm patut diwaspadai, terlebih di wilayah Jeddah. Hujan di Jeddah biasanya terjadi di musim dingin sekitar bulan November-Desember-Januari; (2) Karakteristik daerah tangkapan air tersebut terbagi menjadi dua bagian yakni wilayah perkotaan dan wilayah non-perkotaan. Wilayah perkotaan Jeddah secara umum datar dengan kemiringin wilayahnya < 1%, sedangkan di bagian timur Jeddah, non-perkotaan, berupa perbukitan terjal dengan lapisan tanah yang tipis. Lapisan tanah tersebut hanya ada di sekitar lembah (wadi) yang dalamnya hanya beberapa meter. Tekstur tanahnya pasir berlumpur. Selain itu, jumlah vegetasi pepohonan yang tumbuh di perbukitan sangatlah sedikit yang  menyebabkan sedikitnya proses pengikatan air oleh vegetasi maupun oleh tanah; (3) Sistem drainase Kota Jeddah bisa dikatakan buruk karena jumlahnya kurang mampu menampung debit air yang lewat; (4) Pola penggunaan lahan yang tidak mengindahkan hukum alam. Daerah-daerah rendah yang merupakan daerah aliran air kemudian dibangun menjadi permukiman. Jadi wajar saja bila wilayah permukiman itu digenangi oleh banjir yang kedalaman airnya bisa mencapi 3 meter. Kejadian banjir terparah di Jeddah yang pernah tercatat adalah di tahun 2009 tepatnya 25 November. Sebanyak 114 orang tewas karena hantaman tsunami (baca: banjir bandang) yang dalam waktu 3 jam curah hujan mencapai 70 mm (padahal belum seberapa bila dibanding dengan hujan yg di Jakarta). Daerah terparah terdapat di Distrik Guwaizah, sebelah timur kampus King Abdulaziz University (KAU).

Gbr. (4) : Citra ikonos yang menunjukkan wilayah perkotaan (permukiman) yang dibangun di daerah aliran air (garis biru)  yang berlokasi di Distrik Guwaizah

Sekali lagi, banjir yang terjadi di Jeddah itu bagaikan tsunami yang menyapu habis semua yang menghalanginya. Tentunya, kejadian tsunami itu bukan tidak ada sebab. Pasti ada penyebabnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena manusia itu sendiri. Saya coba untuk mengkaitkan kejadian tsunami Jeddah tersebut dengan pesan Allah dalam Qur’an.

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 117)

Dan ternyata, Allah tidak hanya akan menimpakan azab kepada orang-orang yang zalim saja, tetapi juga semuanya.

“Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS al-Anfal [8]: 25)

Imam Ibnu Katsir (w. 1372 H) dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (II/300), berkata bahwa kata fitnah dalam ayat tersebut artinya ikhtibar (ujian) dan mihnah (cobaan).12 Ibnu Katsir menerangkan, dalam ayat ini Allah memberi peringatan akan adanya cobaan yang merata yang menimpa orang yang berbuat buruk dan yang tidak berbuat buruk. Cobaan ini tidak hanya menimpa pelaku maksiat atau pelaku dosa, tetapi merata dan tidak dapat dihindari dan dilenyapkan. Beliau selanjutnya menerangkan pendapat Az-Zubair, Al-Hasan Al-Bashri, dan As-Sudi bahwa ayat ini berkaitan dengan sebagian shahabat yang terlibat dalam Perang Jamal. Selanjutnya, beliau menukil penafsiran Ibnu Abbas, yang dikomentarinya sebagai, “Ini tafsir yang bagus sekali.” (hadza hasan jiddan). Kemudian Ibnu Katsir memaparkan beberapa hadits Nabi SAW yang mendukung makna ayat. Berdasarkan hadits-hadits itu, menurut beliau, peringatan pada ayat ini berlaku umum untuk para shahabat dan selain shahabat, meskipun ayat ini berkenaan dengan shabahat. Selengkapnya silakan baca di sini.

Semoga saja, tidak ada tsunami lagi di Jeddah. Hemm..sekedar info, untuk mengantisipasi bencana tsunami Jeddah, Kerajaan Saudi telah mengalokasikan dana untuk pembangunan beberapa dam dan saluran drainase sebesar 400 juta dollar atau sekitar Rp. 3.600.000.000.000 atau 3.6 triliun rupiah. Hah?? guede buangettt….kalau buat beli kerupuk, kira-kira bisa nutupin Jakarta kale yah.. 😀

Gbr. (5) : Pembangunan saluran drainase untuk menangkal ganasnya tsunami Jeddah

——————————-

Sumber gambar:

(1) http://keluarga-madinah.blogspot.com/

(2) http://hydis.eng.uci.edu/gwadi/

(3) http://salehcomm.wordpress.com/

(4) google earth

(5) http://arabnews.com/saudiarabia/article538670.ece

Sholat Berjamaah Terbanyak di Dunia

Masya Allah, luar biasanya sedapnya makan nasi bukhori plus ayam panggang atau Sayawayah buatan tangan-tangan pakistan maupun afganistan. Hmm, jangan-jangan bisa enak kaya gitu karena sudah tercampur dengan bulu-bulu tangannya yang lebat dan panjang, 😀

Lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba si kasir itu menutup pintu restoran dan menguncinya dari dalam. Lalu ia berdiri di depan pintu itu sambil menatapku dengan tatapan tidak sabar. Saya lihat di sekeliling ternyata cuma saya aja yang makan di restoran. Saya lantas heran, kan saya masih di dalam restoran, kok berani-beraninya ngurung saya di dalam. Wah wah mau cari perkara sama anak Tegal yang dah lama tinggal di lingkungan betawi yah. Saya langsung pasang kuda-kuda silat betawi Condet kampung sebelah. Saya paranin deh tuh si kasir,”Isy fi ya sodiq? Lisy inta gofel al bab? ana bagi akil” ucap saya dengan bahasa arab gadungan, pakai suara keras mirip Mandra deh, karena kalo nadanya lemah gemulai mungkin si kasir itu menganggap saya cuma angin lewat. “ma syufta hada?” lanjut saya sambil mengunyah ayam panggang Syawayah yang lezat disertai air liur yang menetes-netes supaya ia tahu bahwa betapa nikmatnya makan di kala lapar, dan betapa terganggunya saya saat itu :p

Gbr.(1) Nasi plus ayam panggang

Solah yah habib, sur’ah” ucap si kasir itu kepada saya. Ia memberitahukan kepada saya bahwa saatnya sholat magrib. Apa?? Solat magrib dari Hongkong,, Adzan aja belum, wah jangan-jangan tuh orang Islamnya beda yah. Hemm, saya gak mau bikin ribut sama dia, wong saya ini pendatang baru. Jadi mesti hati-hati. Gak banyak pikir, saya percepat gerakan naik-turun bibir dan gigi dengan kecepatan 80 km/jam, haha. Sayang kan, kalau nasi bukhorinya gak habis, 12 riyal gan! harga yang lumayan buat ukuran mahasiswa berkantong tipis. Gak sampai habis, akhirnya saya ucapkan selamat tinggal dengan si Syawayah itu. “Ma’alis ya Syawayah, ana mustahil li akil inta kullu” (#artinya, maafkan saya ayam panggang, saya gak bisa memakan kamu semuanya).

Keluarlah saya dari restoran itu dengan sedikit penyesalan menyisakan si Syawayah itu. Sambil berjalan menuju asrama, saya menyaksikan ada hal yang tidak biasa saya temui di Indonesia. Penasaran, saya lihat jam tangan waktu menujukkan jam 6 kurang 10 menit. Artinya sebentar lagi adzan magrib akan terdengar. Suasana menjadi lebih sepi, jalan raya terlihat lebih lengang, orang-orang yang berlalu-lalang semakin sedikit, toko-toko mulai ditutup, dan si penjaganya pun keluar dari toko menuju ke sebuah tempat. Saya semakin heran, lalu saya buntutilah si penjaga toko yang kulihat itu kemana dia akan pergi. Langkah demi langkah benar-benar saya perhatikan dari kejauhan, gang demi gang dilaluinya saya pun gak mau tertinggal langkah, sampai akhirnya ia berhenti di satu tempat dan terlihat banyak orang pula yang menuju tempat itu. Tempat itu adalah mesjid.

Gbr.(2) Masjid Terapung di pantai Laut Merah Jeddah

Oh kalo gitu, saya baru paham sekarang. Kenapa tadi saya diminta cepat untuk  menghabiskan makanan dan segera keluar dari restoran. Tenyata, kultur yang terbentuk di masyarakat Saudi adalah 15 menit sebelum adzan semua toko ditutup dan bersiap-siap pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Bila setelah adzan masih ada toko yang buka, tidak heran polisi syari’ah akan menegurnya bahkan memberikan sanksi kepada si pemilik toko. Subhanallah, aturannya luar biasa banget nget. Sehingga tak heran setelah 20 menit pasca adzan, suara iqomah bergemuruh saling bersahutan satu sama lainnya dari satu masjid ke masjid lainnya. Anak-anak sampai kakek-kakek , kecuali wanita, sudah membanjiri permadani cantik yang terhampar di dalam masjid. Suara imam yang merdu menambah syahdu dan khusuknya sholat berjamaah. Ayat Qur’an yang dibaca oleh imam adalah ayat-ayat panjang, seringnya jamaah sholat ikut terbawa sedih ketika ayat yang dibaca itu berkaitan dengan azab. Bagi orang-orang Arab, mereka paham makna setiap ayat yang dibaca oleh imam, namun bagi kebanyakan kaum pendatang, tentu untuk memahami itu perlu belajar bahasa Arab dan Qur’an itu sendiri.

Maka dari itulah saya katakan bahwa Arab Saudi adalah negara yang pantas mendapatkan rekor dunia yakni  jumlah orang terbanyak pada sholat berjamaah lima waktu di waktu yang bersamaan. Gak hanya sholat magrib dan isya yang ramai, tapi juga zuhur, ashar, bahkan subuh. Berbeda dengan di Indonesia, khususnya di Jakarta, jamaah sholat ramainya hanya di waktu magrib, waktu isya kebanyakan masih di dalam perjalanan, waktu subuh bangunnya kesiangan, waktu zuhur masih makan siang di kantin, waktu ashar masih asyik di mall, hehe,, bukannya nyindir yah tapi ini berdasarkan pengalaman tinggal di Jakarta.

Suatu ketika saya sedang berdiskusi dengan salah seorang Professor di bidang Integrated Water Resources Management di ruangannya. Sedang serius-seriusnya diskusi, tiba-tiba tedengarlah suara iqomah di masjid kampus. Lalu ia berkata,”Okay we’ll continue after sholah“. Subhanallah,,bersyukur sekali saya telah diingatkan oleh beliau untuk lebih mementingkan urusan dengan Tuhan daripada dengan urusan dunia. Saatnya sholat, ya sholat dulu, jangan ditunda-tunda katanya. Karena itu adalah bagian dari rasa syukur kita kepada Tuhan atas penciptaan kita di dunia.

Gbr.(3) Superhero aja gak mau ketinggalan sholat berjamaah di masjid

Banyak keutamaan sholat berjamaah yang kita dapatkan. Salah satu keutamaan yang terkenal adalah pahala sholat berjamaah itu sebesar 27 kali lipat dibandingkan sholat sendiri. Kalau dipikir-pikir berapa lama sih sholat berjamaah di masjid bila dibandingkan dengan lamanya waktu yang kita habiskan untuk bekerja, fesbukan, YM-an, pleistesionan, bahkan tidur ngorok. Lalu berapa jauh sih jarak dari rumah ke masjid. Satu kilokah, dua kilokah. Palingan juga 100 meter aja. Apalagi tinggal di Indonesia, hampir tiap RT punya masjid atau musholla. Kalaupun di desa, pasti tiap dusun punya satu masjid. Di Arab Saudi,  belum lama ini dikeluarkannya fatwa bahwa sholat berjamaah di masjid hukumnya wajib loh, mengingat pentingnya sholat berjamaah.

Bro’s.. hidup di dunia ini cuma sekali aja loh, manfaatin waktu kita sebenar-benarnya buat ibadah. Kita hidup di dunia ini gak ada kewajiban lain selain untuk menyembah Tuhan kita. Kerja, cari uang itu adalah perantara aja supaya kita bisa tetap makan dan hidup, pantaskah kita melupakan Tuhan? Ya, minimal sholat berjamaah lima waktu di masjid.

————————–

Sumber gambar:

(1) dari     dokumentasi pribadi.

(2) dari     http://www.geolocation.ws/..

(3) dari     http://kang-tejo.blogspot.com

Arab Water Conference 2012

Ahad, 8 Januari 2012, adalah hari pertama diadakan konferensi keteknikan sumber daya air yang ke-26 di Hotel Hilton Jeddah. Saya bersama teman kelas, Salem namanya, berangkat menuju tempat acara dengan mobilnya, 160 km/jam. Wuess…(#melesat bagai kilat)

Jeddah Hilton Hotel di tepi Laut Merah

By the way, konferensi ini terlesenggara di bawah perlindungan Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Abdullah bin Abdulaziz, Jeddah provinsi di Kerajaan Arab Saudi yang menjadi tuan rumah bagi negara-negara Arab yang termaktubbe (#qolqolah kubroh).

Bendera negara-negara peserta Arab Water 2012

Then, tujuan utama konferensi ini adalah untuk meng-gather-kan para expert terkemuka, spesialis, dan pengambil keputusan dari semua negara Arab dalam mencari solusi atas permasalahan sumber daya air, dan untuk memfasilitasi kolaborasi mereka terhadap solusi berkelanjutan yang efektif. Hemm,, saya jadi ingat dengan pernyataan salah seorang professor X yang mengatakan bahwa masalah di masa yang akan datang adalah bukan lagi masalah perebutan ladang minyak, tapi masalah air terutama di negara-negara Arab. Banyak sekali profesor yang turut serta dalam konferensi, termasuk profesor saya dan beberapa dosen lainnya.

Hemm,, Karena teruntuk negara-negara Arab, sehingga wajah bertampang seperti saya ini bisa dihitung dengan jari. Ada sih salah seorang pemakalah berasal dari Jepang, dan satu lagi profesor dari Itali, selebihnya adalah dari Arab Saudi, Mesir, Jordania, Suriah, dan Sudan.

Di hari pertama konferensi, terlihat beberapa orang Jepang yang mengikuti konferensi. Penampilan mereka rapih, berjas, dasi, dan tentunya bermata sipit. Kalau dipikir-pikir, penampilan saya mirip mereka yah? (#bertanya pda diri sendiri).. Saat Mr. Jepang itu melihat saya berjalan di dekatnya, ia membalik badannya menghadap cermin sambil memandang saya dari cermin. Hehe,, ada yang aneh? Apa jangan-jangan saya dikira anak buahnya Kim Jong-il kali yah, sehingga ia sebel, atau mungkin disangka orang Jepang juga, sehingga ia takut kalau saya minta ditraktir haha,,

Pemakalah dari Jepang

Di hari kedua konferensi, orang-orang Jepang itu telah menghilang, hanya saya saja yang bertampang beda. Saya mah pede-pede aja, khan ada si Salem orang asli situ. Jadi kalo ada apa-apa tinggal lapor aja ke dia, hehe. Di saat coffee break, saya pun membaur bersama orang-orang arab, maklum dari pagi perut masih kosong. Disantaplah aneka kue di atas meja-meja itu. Namun, ternyata keberadaan saya di tengah-tengah mereka menjadi buah mata. Saya dikira mereka orang Filipina. Karena setiap kali saya ngobrol, pasti mereka bertanya,”Filipino?”. Ketika saya jawab Indonesia, raut wajahnya menunjukkan ketidakpercayaannya bahwa saya ini adalah Indunisi, hehe. Untungnya, saya bertemu dengan Pak Janwar, mahasiswa S3 di KAU, jadi ke-indunisi-an saya bisa dipercaya haha..


 Mencoba bergaya anak Jepun

Alhamdulillah, benar-benar bersyukur bisa mengikuti konferensi itu. Puas sekali rasanya. Gratis gan! Padahal saya datang ketika acara sedang berlangsung. Saat meja receptionist sudah di depan kacamata (#baca: mata) saya diam saja biarlah si Salem yang maju buat bicara. Mungkin karena mata saya sipit, si receptionist langsung percaya seketika bahwa saya adalah rekan orang-orang Jepang yang tertinggal masuk ke ruang konferensi hehe (#pede abiss,,). Saya tunjukkan kartu mahasiswa, gak lama saya diberi name tag dan dipersilakan masuk bablas tanpa aling-aling. Tapi hemm,,walaupun belum bisa menjadi pemakalah, setidaknya bisa menjadi peserta resmi, bukan ‘kaburan’ (#yee,,emangnya tkw sini yang pada jadi ‘kaburan’).  Beberapa keuntungan materi yang saya dapatkan yakni berupa sertifikat, tas laptop merk Victoria, seminar tools kit, muk, dan pastinya bisa makan-makan sepuasnya sampai perut serasa hamil 9 bln :D, lebih-lebih pelayanannya super  mantap, asli hotel bintang 5 di Jeddah haha (#ndeso banget deh). Selain itu, pengalaman yang berharga sebagai motivasi untuk terus semangat menjadi pribadi yang lebih berkualitas kaya professor-professor itu dan bermanfaat buat semua alias kaya raya,, aamiin.

Seminar tools kit

Mau Naik Mobil Keren?

Sudah setahun kuliah di KAU, kok rasa-rasanya baru saat ini saya ngeh, ternyata mobil-mobil yang masuk ke kampus keren-keren loh. Kenapa baru ngeh sekarang? Aah,,saya tahu karena di tahun awal itu jadwal kuliah padat sekali, berangkat pagi pulang sore, dari asrama ke asrama lagi, ditambah gak punya teman Saudi yang saya kenal di asrama. Hemh..tambah kuper deh.

Mobil keren?? Sebenarnya gak hanya di kampus, tapi juga di parkiran asrama. Di parkiran asrama, mobil-mobil keren berserakan seperti drum-drum bekas yang dijejerkan di pangkalan minyak. Parkirannya gak punya pagar, siapapun bisa mencurinya (#kalau mau dipotong tangannya), dengan kondisi berlumuran debu dan pasir karena pengaruh gurun pasir yang galak. Mungkin kalau dihitung bisa mencapai 500 mobil yang biasa parkir di situ.

Sekali waktu saya pernah diajak oleh teman Saudi ke sebuah mall pakai mobilnya. Dia itu mahasiswa baru untuk S1. Ketika saya dipersilakan masuk ke mobilnya, saya heran (#mulut sambil mangap dan mata mendelik). Kenapa heran?? Hemm,,mungkin karena saya gak pernah naik mobil sebagus ini kali yah. Mobilnya Nissan Maxima tahun 2011, katanya sih harga di Saudi sekitar 100.000 riyal atau sekitar 250 jutaan rupiah, padahal kalo beli di luar Saudi plus pajaknya harga umumnya bisa lebih dari  $ 30.000  hampir mendekati 300 juta rupiah. Saya coba searching di google, mobil maxima sepertinya belum banyak beredar di Indonesia yah.. :p

Maxima Nissan 2011 – Sumber : http://www.google.com

Sewaktu saya berobat di klinik kampus, kata sang dokter saya harus ke rumah sakit besar, lalu diantarlah saya oleh salah seorang staf klinik pakai mobilnya. Accord VTi-L 2.4 A/T yang harganya bisa mencapai setengah milyar. Si petugas itu masih muda, sekitar 30 tahunan. Tampangnya ramah. Dia pun memanggil saya dengan kata “Sir” (#jarang-jarang loh dipanggil Tuan). Setelah duduk di mobilnya, “Loh kok perut saya udah gak sakit lagi?” (#ndesonya kumat), berhubung mobilnya sudah jalan, ya saya cicing wae lah. Aneh, setiba di rumah sakit perut saya kumat lagi, aduuhh.. Hemm,,mungkin karena sudah good bye sama si mobil yah 😀

Accord VTi-L 2.4 A/T – Sumber : http://www.google.com

Di waktu lain, saya diantar ke gedung rektorat oleh salah seorang pegawai jurusan. Tampangnya sih masih muda sekitar 30 tahunan, dan ngakunya sih belum nikah. Hemm,, Lexus GS 300. Wow,,itu mobil mewah loh. Harganya di atas 1 milyar rupiah. Sewaktu naik mobilnya, bibir saya bergerak-gerak gak bisa berhenti (#baca alhamdulillah 1001 kali), maknyos joss, dan weleh weleh (#gaya si Komo).. Dalam hati,” Kok gak berasa naik mobil yah..”(#ndeso abiss..) :p

Lexus GS 300 – Sumber: http://www.google.com

Pengalaman di atas adalah beberapa contoh dan dari situ bisa kita bayangkan betapa mudahnya kita menjumpai mobil-mobil keren di kampus, ataupun di Jeddah. Karena jumlahnya begitu banyak. Satu rumah setidaknya punya dua mobil, satu buat untuk ayah dan satunya untuk anak-anak. Hemh,,Yang bikin saya geleng-geleng kepala adalah kalau yang punya mobil keren itu adalah mahasiswa, lebih-lebih mahasiswa baru.

Jadi kalau gitu, sebutkan satu perbedaan antara Belanda dan Arab Saudi dalam hal transportasi? Mau tau jawabannya?? Mau tau? Kenapa kenapa kenapa? (#gaya da’i Maulana). Jawabnya adalah Belanda itu dikenal sebagai negara sepeda karena  jumlah sepeda hampir sama dengan jumlah orangnya, sedangkan Arab Saudi adalah negara mobil karena jumlah mobil (sepertinya) hampir sama dengan jumlah orangnya. Kenapa bisa gitu?? Salah satu alasannya adalah karena iklimnya yang panas di Arab Saudi, selain itu karena cara pandang hidup yang berbeda antara masyarakat Belanda dengan Arab Saudi, dan masih banyak alasan lain :).

Banjir sepeda di setiap sudut kota di Belanda – Sumber : http://www.socialshutter.blogspot.com

Jadi, sehari-hari lihat mobil-mobil keren seperti itu berseliweran sudah gak heran lagi. Dan kalau mau lebih jelasnya lagi, ketika berjalan menuju gedung jurusan. Pastinya melewati parkiran mobil yang luas. Nah di saat itu, saya mulai menghapal merk mobilnya, mulai dari Camry Toyota, Suzuki, Accord Honda, Daihatsu, Hyundai, KIA, Mazda, Chevrolet, Ford, Land Rover, Maxima-Nissan, Mercedes Benz, BMW, Lexus, beserta tipe-tipenya. Yaa..barangkali nanti kalau ada yang mau kasih mobil ke saya, kan saya sudah tahu sebelumnya, jadi biar bisa milih yang lebih maknyos joss hehe (#mimpi kali ye..aamiin aja deh).

Belajar Masalah Air di Negeri Gurun Pasir

Oleh : Kuswantoro Al-Ihsan

  

Ketika saya memutuskan untuk kuliah S2 di Saudi Arabia, banyak pertanyaan yang muncul dari teman-teman. “Mau belajar Ilmu Qur’an, Hadits, atau Syari’ah?” “Bukan!”, jawab saya. Pertanyaan lainnya muncul, “Kenapa belajar masalah air di Arab Saudi yang semuanya padang pasir? Kenapa gak ambil di Belanda aja?”. Hemmh.. pertanyaan yang cukup menggelitik.

Citra Satelit Saudi Arabia dan sekitarnya dengan gurun pasir Rub Al-Khali di bagian tenggaranya.

Memang rasanya cukup aneh bila belajar masalah air di negara gurun pasir (desert) yang miskin air. Mari kita tengok sedikit tentang gambaran umum negaranya. Dari segi fisik, Saudi Arabia adalah sebuah negara di Timur Tengah yang sebagian besar wilayahnya berupa gurun pasir yang membentang dari barat laut hingga tenggara, dimana Rub Al-Khali adalah salah satu gurun pasir yang terkenal dan terluas di Saudi Arabia. Dengan begitu iklim yang terjadi pun banyak dipengaruhinya.Ditandai dengan panas yang ekstrim di siang hari, kemudian turun drastis di malam harinya.

Curah hujannya sedikit dan tidak menentu. Ryadh (bagian tengah) sebagai ibukota negara memiliki curah hujan tahunan sebesar 95 mm, Jeddah (pesisir barat) hanya 61 mm, sedangkan Dammam (pesisir timur) hanya sebesar 67 mm. Bandingkan dengan Jakarta yang curah hujan tahunannya sebesar 1655 mm. Kondisi iklim Saudi Arabia yang seperti itu disebabkan oleh pengaruh sistem tekanan tinggi subtropis dan banyaknya fluktuasi ketinggian wilayahnya.

Logo King Abdulaziz University (KAU)

Salah satu kampus yang popular di Saudi Arabia adalah King Abdulaziz University (KAU) yang terletak kurang dari 10 km dari Laut Merah dan tidak jauh dari pusat Kota Jeddah. Bila dibandingkan dengan Kota Ryadh, Jeddah memiliki iklim yang cukup bersahabat di musim dingin (winter), walaupun dua tahun terakhir ini (akhir 2009, awal 2011) telah terjadi banjir bandang yang dahsyat.  Di musim panas (summer) Kota Jeddah bersuhu 40°C. Secara umum perbedaan suhu di siang dan malam hari tidak terlalu ektrim. Kelembaban relatif udaranya pun cukup baik, sekitar 55 %. Tentunya tidak lepas dari pengaruh Laut Merah yang memanjang dari utara hingga selatan di bagian barat Saudi Arabia.

KAU berdiri pada tahun 1967 yang sejak awal berdirinya diperuntukkan bagi mahasiswa lokal. Segala aturan kampus mengacu pada aturan negara serta budaya masyarakatnya, seperti kampus lelaki terpisah dengan perempuan, seluruh dosen dan mahasiswanya harus beragama Islam, diwajibkannya berpakaian khas Saudi ketika di kampus, break sejenak untuk segala aktivitas di waktu-waktu sholat, dan masih banyak yang lainnya.

Gedung perkuliahan

Belajar di KAU, ada banyak hal yang saya dapatkan, di antaranya dana beasiswa bulanan yang jumlahnya lumayan yakni 2900 SR; asrama mahasiswa yang dilengkapi dengan AC, kulkas, dan akses internet wireless  24 jam, lapangan sepak bola, bola basket, kolam renang; restoran yang menyediakan menu makanan khas arab dengan harga diskon; bus kampus yang nyaman dari asrama menuju kampus yang melewati pertokoan dan mall; fasilitas perkuliahan di tiap departemen sangatlah memadai dan tinggal pakai tanpa perlu merogoh riyal lagi seperti mesin cetak (printer) dan mesin fotokopi; ruang kelas yang nyaman dilengkapi dengan AC unlimited dan In Fokus/LCD.

Saya bersama dengan supervisor Prof. Amro

  Staf pengajar dan mahasiswa

Apa yang saya rasakan selama belajar di KAU seakan-akan seperti belajar di negeri Fir’aun. Bukan karena patung Sphink dan Piramidnya, tapi lebih kepada suasana perkuliahan di kampus. Bayangkan saja, sekitar 50-60 % tenaga pengajarnya berkebangsaan Mesir, selebihnya warga asli Saudi dan Pakistan. Perbedaan yang cukup jelas terlihat antara orang Mesir dan Saudi adalah dari pakaiannya. Para pengajar dari Mesir lebih suka memakai kemeja dan celana panjang, sedangkan pengajar Saudi pasti memakai pakaian kebesaran mereka yakni gamis putih dan sutrah.

Belajar di KAU tidak perlu khawatir akan kualitas dan kredibilitasnya. Karena sebagian besar pengajar bergelar Doktor (Ph.D) lulusan Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. Termasuk pembimbing akademik saya adalah salah seorang keturunan arab Mesir yang pernah belajar di IHE-Rotterdam Belanda selama 9 tahun mulai dari jenjang master, Ph.D, hingga Postdoctoral. Kemudian, hampir seluruh fakultas telah terakreditasi secara internasional, sebut saja seperti Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET), the Council on Occupational Education (COE), The Geological Society of London (GS), United Nations Development Programme (UNDP), The Global Congress on Dental Education (DentED), the Association for Dental Education in Europe (ADEE), Academic Administration Board for MS in Business Administration (AMBA), Canadian Accreditation Board, Liaison Committee on Medical Education, dan  the Chartered Institution for Water and Environmental Management (CIWEM)-United Kingdom yang telah mengakreditasi fakultas saya.

Masjidil Haram dengan Ka’bahnya

Masjidun Nabawi dengan arsitektur interiornya

Payung buka tutup otomatis yang indah

Keuntungan lainnya kuliah di Saudi Arabia, khususnya di KAU, adalah akses yang mudah menuju Kota Suci Mekkah dan Madinah. Dari Jeddah hanya satu jam perjalanan menuju Mekkah, sedangkan ke Madinah 4 jam perjalanan. Kecuali di musim haji, memasuki kedua Kota Suci tersebut tanpa harus menyertakan surat ijin (tasrif) ataupun pemeriksaan oleh polisi. Kapan pun bisa melaksanakan ibadah umroh dengan mudah. Kala musim haji tiba, penduduk Kota Mekkah tak menyia-nyiakan untuk berhaji, tak terkecuali orang-orang di luar Kota Mekkah. Caranya pun bervariasi mulai dari backpacker-an alias gratisan, hingga kelas eksekutif dengan biaya sekitar 4000 riyal atau setara dengan 10 juta rupiah.

Namun, dari keuntungan-keuntungan kuliah di Saudi Arabia tersebut, tentunya ada pula kekurangannya. Mulai dari ribetnya proses mendapatkan visa, baik di kantor yang di Saudi Arabia maupun di Jakarta, lingkungan fisik yang panas dan kering, lingkungan sosial yang monoton, kompetisi akademis yang masih rendah di kalangan mahasiswa, sedikitnya kendaraan umum sehingga pulang pergi seringnya menggunakan taksi yang harganya cukup merogoh saku, hingga bad image untuk ng orang-orang yang bertampang seperti saya, Indonesia. Seringnya mereka menganggap saya sebagai sopir pribadi orang Arab.

Sebagai seorang geografer, kondisi sosial yang seperti itu bukanlah hal yang perlu ditakuti. Justru itu merupakan sebuah tantangan tersendiri. Banyak pengalaman dan ilmu yang diperoleh darinya. Pastinya yang tidak diajarkan di kelas. Bila kita paham dan bahkan bisa mengikuti budaya masyarakat setempat, bad image yang tadinya kita rasakan akan berubah menjadi sesuatu yang membanggakan.

Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI

 

Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan. Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010. Idul Fitri 1432/2011 tahun ini juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012, 1434/2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati”. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya.

Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal.

Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan.  Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat.  Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.

Oktober 2003 lalu saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke-26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan  wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mangatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi syar’i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan (rincinya silakan baca blog sayahttp://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/ ). Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.

Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (hanya berdasarkan periodik, 30 dan 29 hari berubalang-ulang, yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya berbeda dengan metode hisab atau rukyat modern). Lalu berkembang hisab imkan rukyat(visibilitas hilal, menghitung kemungkinan hilal teramati), tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan) yang akurasinya masih rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria ijtimak qablal ghurubdan wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kurang keterlibatan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteriaimkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat kini sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet.

Muhammdiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kelendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamal rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis  kadang mengidentikan sebagai “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub, imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan.

Demi penyatuan ummat melalui kalender hijriyah, memang saya sering mengkritisi praktek hisab rukyat di NU, Muhammadiyah, dan Persis. NU dan Persis sangat terbuka terhadap perubahan. Muhammadiyah cenderung resisten dan defensif dalam hal metode hisabnya. Pendapatnya tampak merata dikalangan anggota Muhammadiyah, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal. Itu sudah menjadi keyakinan mereka yang katanya sulit diubah. Gerakan tajdid (pembaharuan) dalam ilmu hisab dimatikannya sendiri. Ketika diajak membahas kriteria imkan rukyat, tampak apriori seolah itu bagian dari rukyat yang terkesan dihindari.

Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!

Sumber:

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/