Ruh Madinah? Tafadhol…!

***

Ruh sakan jami’ah?” tanya sang sopir taksi. “Laa, ruh Al-Balad..” jawabku. Loh kok belum ditanya, ia sudah menebak saya mau pergi kemana. Memang saat itu saya sedang di Al-Nasim tempat apartemen sementara mahasiswa asing. Hemm..Sedikit mengulas arti kosa kata itu ya Gan, kata “sakan” itu berarti tempat tinggal, tapi seringnya diartikan sebagai asrama, dan biar lebih keren saya suka pakai istilah apartemen. Sedangkan kata “jami’ah” artinya universitas atau kampus.

Nggak banyak proses tawar-menawar, akhirnya ongkos taksi dari Al-Nasim ke Al-Balad sebesar 15 riyal, deal! Saya dan Wahid berangkat menuju terminal bus Al-Balad dengan niat untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad (s.a.w.) yang berlokasi di Madinah. Wahid ini adalah salah satu teman saya di kampus KAU asal Purwodadi yang juga mendapatkan beasiswa S2 untuk bidang pertanian. Orangnya ramah, suka membantu, dan pastinya pintar. Tapi, sayangnya ia sudah menikah sebelum berangkat ke Jeddah, jadi mohon maaf yah buat para pencari pria single macam ia, “udah laku duluan, hehe..”

Gbr.(1) Saya bersama dengan Gus Wahid di sekitar apartemen mahasiswa

Di tengah perjalanan, saya ngobrol dengan sang sopir itu yang berwajah arab Yaman. Kalau sekilas sih, mirip Osama bin Laden, tapi bedanya ia nggak berjenggot. Orangnya ramah. Bicaranya sangat cepat, seperti berkumur-kumur, seringnya saya kurang paham dengan apa yang ia katakan, sehingga saya hanya bilang,”aiwa”  yang berarti ”yes” di setiap akhir perkataannya. Dan ternyata ia kenal wajah saya karena sebelumnya pernah naik taksinya. Obrolan kami pun mengalir seperti air sungai Ciliwung yang langsung bablas ke laut. Nggak canggung.

Setelah saya beritahu bahwa tujuan perjalanan kami ke Madinah, sang sopir itu hatinya langsung luluh. Karena ia tahu kalau saya ingin menziarahi makam Nabi Muhammad (s.a.w.). Dari pengamatan saya, setiap orang arab yang saya temui bila mendengar kata Nabi Muhammad SAW hatinya langsung luluh dan spontan bilang,”Allahumma sholli ‘ala Muhammad..” Karena mereka benar-benar telah merasakan bahwa kehadiran Nabi Muhammad (s.a.w.) bagaikan cahaya di tengah kegelapan, pula bagaikan cahaya di atas cahaya.

Gbr.(2) Nabi Muhammad (s.a.w.), cahaya di atas cahaya

Ketika sampai di terminal Al-Balad sang sopir tadi menasehati kami. Bila ingin naik taksi ke Madinah sebaiknya pilih sopir yang sudah bapak-bapak dan berbadan besar. Karena ia akan membawa mobil dengan penuh kehati-hatian dan akan berhenti sejenak bila kita mau. Nah, sedangkan bila sopirnya masih muda, biasanya kecepatan rata-ratanya mencapai  160 km/jam. Serasa di sirkuit balap mobil. Maklum saja jiwa muda, pinginnya serba cepat, hemm..atau mungkin stok nyawanya ada 10 kali yah..

Setelah kami turun dari taksi, kami segera menepi ke trotoar dan berusaha menjauh dari sopir-sopir taksi di terminal itu. Belajar dari pengalaman di terminal Kilo Asyroh, supaya terhindar dari serbuan gerombolan sopir taksi alias bang jenggot bermata belo, ekekeke..

Sebenarnya ada alternatif kendaraan lain yang menuju ke Madinah yaitu bus Saptco. Naik bus Saptco bisa dikatakan cukup nyaman dan aman, kecepatan rata-ratanya 100 km/jam, ongkosnya pun cukup murah hanya 55 riyal bila dari Jeddah. Terlebih, penumpang yang akan naik bus itu mesti punya iqomah (residence permit). Tapi yang membuat kami kurang berminat naik bus yaitu (1) lamanya perjalanan sekitar 6 jam, sedangkan pakai taksi itu hanya 4 atau 5 jam, dan (2) jadwal keberangkatannya nggak tepat waktu, bus akan tancap gas  bila semua kursi sudah terisi, jadi ngetemnya lama buanget..

Gbr.(3) Bus Saptco sebagai alat transportasi antar-kota

“Medina, Medina.. Ryadh, Ryadh.. Tabuk, Tabuk..” teriakan sopir-sopir taksi yang sedang memburu penumpang itu terdengar dimana-mana. Mereka bergerilya ke berbagai sudut untuk mendapatkan penumpang. Wah, ternyata nggak semua orang arab kerjanya jadi mandor alias makan n tidor, tapi ada juga yang mau bekerja keras kaya begini. Hemm..Mendengar teriakannya saja sudah seram, apalagi kalau saya mendekati mobil-mobilnya, khawatir tragedi Kilo Asyroh terulang lagi, cekakakak..Sehingga saya bilang ke Wahid,”Mas, sepertinya kita butuh waktu lima menit untuk menganalisa situasi dulu yah, setelah itu barulah kita putuskan mau naik apa.” Ini adalah pertama kalinya Mas Wahid naik angkutan umum yang ke Madinah,”Enjih Mas, aku mah manut-manut wae.”

Di tengah proses analisa situasi, tiba-tiba muncul seorang laki-laki arab. Ia berpakaian khas saudi. Berkacamata hitam. Usia kira-kira 50 tahunan. Tingginya 170 cm. Berat badannya sekitar 80 kilo. Tak terlihat langkahnya oleh pantauan kami. Dan tiba-tiba ia sudah berjarak nol komalimameter alias di depan batang hidung kami dan seraya berucap,

“Mau ke Madinah, Tuan-Tuan? tanyanya sambil menebar senyum dan pakai bahasa tangan. Loh, tumben ada sopir arab panggil kami dengan kata “tuan”. Saya heran dengannya karena secara penampilan bapak itu terlihat seperti orang Saudi, namun kok ia bisa berbicara bahasa Indonesia dengan lancar, yaa tapi tetap ada perbedaan dalam pengucapannya.

“Tuan mau ke Madinah? Ayo pergi bersama saya. Saya punya mobil bagus. Saya juga punya teman orang Indonesia. Saya suka dengan orang Indonesia, makanya saya menemui Tuan-Tuan.” Bapak itu terus merayu kami supaya naik ke dalam mobilnya.

Awalnya saya kurang percaya kalau ia adalah sopir taksi. Dan tambah nggak percaya lagi karena tiba-tiba ia menghampiri kami yang sedang berdiri di depan pintu Loket Saptco. ” Hati-hati, bisa jadi dia orang jahat” hatiku bergumam. Tapi, setelah saya dekati mobilnya, barulah saya yakin. Sedan Corolla XLI. Body-nya masih mulus. “Apa benar ini ke Madinah, Pak?” tanyaku untuk lebih meyakinkan lagi.

Gbr.(4) Mobil Corolla XLI 2012 siap meluncur ke Madinah

“Ya Madinah. Jangan khawatir. Tawakkal ‘ala Allah. Saya bawa mobil kecepatannya cuma 120 km/jam tidak lebih. Tafadhol Tuan-Tuan masuk ke dalam mobil saya.” tambahnya untuk membuang keraguan kami. Ia mematok tarif 60 riyal. Tak apalah, mahal sedikit yang penting perjalanan nyaman dan nggak terlalu lama di jalan. Ketika kami bilang “OK”, sopir itu tersenyum sumringah, gigi kuningnya terlihat, dan banyak mengucapkan hamdalah. Biasanya, bila mobilnya sedan jumlah penumpang yang diangkut sebanyak 4 orang, namun saat itu sang sopir hanya membawa 3 orang penumpang. Penumpang ketiganya orang arab Yaman. Itu alasannya, kenapa tarifnya 60 riyal. Biasanya sih 50 riyal tapi jumlah penumpangnya 4 orang. “Alhamdulillah, bisa selonjoran dong..”

“Okeh, kita berangkat yah, bismillahi tawakkal ‘ala Allah..” ucap sang sopir. Lalu diputarlah kunci mobilnya, mesin mobil pun mulai mengaung. AC pun mulai membelai-belai. Perlahan-lahan mobil bergerak meninggalkan terminal Al-Balad, meninggalkan kumpulan abang jenggot bermata belo yang masih bergerilya. Dan seperti biasa, sang sopir menghidupkan radio tape. Saya pun bersiap-siap untuk merasakan nuansa rohani layaknya perjalanan ke Mekkah. Kursi mobil yang nyaman dan nggak sempit, membuat kami ingin cepat-cepat menutup mata dan membawa angan-angan kami untuk bertemu dengan Nabi Muhammad (s.a.w.). Namun..sesaat kelopak mata kami merapat, tiba-tiba penumpang arab Yaman itu mengajak ngobrol dengan sang sopir. Hemm..sang sopir pun akhirnya nggak jadi menyetel kaset murottal Qur’an. Ia justru menyetel radio sehingga terdengarlah alunan lagu-lagu padang pasir. 

Law bass fi a’einy marra bas               
ha yhes aawam bi shoai le                                        
Law bass fi a’einy marra bas                                  
ha yhes bi eni dayba fi                                                
Law aali taa’ali albi daa                                            
ana rohlo aawam ma aolshi laa                            

”Eleh eleh..kok malah nyetel musik yah. Wah kalau begini caranya, saya nggak bisa mimpi indah deh.” gerutuku ke Wahid. Karena nuansanya nggak kondusif, saya pun ikutan ngobrol. Namun, ngobrol dengan Wahid seakan-akan tukar-pikiran dengan Pak Kiyai. Pemikirannya jauh sekali. Makanya, saya menyebutnya dengan sebutan Gus Wahid.

Perjalanan yang sedang kami tempuh kurang lebih lima jam. Jaraknya kurang lebih 400 kilometer. Hampir sama dengan perjalanan dari Jakarta ke Semarang pakai bus. Jalan yang dilalui lurus dan lengang. Kondisi fisik jalannya mulus, tiada berlubang, tiada kerikil berserakan. Kendaraan yang tampak di depan taksi pun bisa dihitung dengan jari. Sesekali mobil-mobil sedan membalap taksi kami dengan kecepatan bak roket. Sang sopir pun dibuatnya kesal,”Itu barusan syaiton, bukan manusia.” Tiada lama berselang, tiba-tiba sebuah sedan KIA putih  menyerempet taksi kami. Sang sopir kami pun memencet klakson bertubi-tubi. Hingga akhirnya sedan KIA putih itu menepi. Sang sopir kami pun turun dan menghampirinya. Namun saya dan Wahid tiada mau keluar dan memilih tetap berada di dalam mobil sambil menyaksikan mereka dari balik kaca belakang. Kemudian terjadilah pertarungan lidah antara keduanya. Pikiran kami dibuatnya tegang, khawatir akan terjadi pertarungan fisik antara mereka. Namun ternyata tidak. Pertarungan lidah mereka berakhir dengan cipika-cipiki, cium pipi kanan dan cium pipi kiri. ”Syukurlah..”. Ternyata, sopir sedan putih itu anak Saudi. Dugaan saya usianya sekitar 20-an. Sang sopir pun lalu masuk ke dalam taksi lagi dan menceritakan kepada kami,”Huwa miskin..” maksudnya sang sopir tiadatega bila si anak muda itu dilaporkan ke polisi, sehingga ia membiarkan si anak muda itu melanjutkan perjalanannya. ”Ya wajar aja, sama-sama Saudi sih, coba kalau si anak muda itu bukan orang Saudi, pasti sudah dilaporkan.” gumam hati saya.

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Sambil sesekali memandangi gugusan Pegunungan Hijaz di sebelah kanan kami. Seperti melewati jalur barat Sumatera, tampak gugusan Pegunungan Bukit Barisan. Gugusan Pegunungan Hijaz itu memanjang dari arah barat laut ke arah tenggara sepanjang pantai barat Arab Saudi. Percisnya memanjang mulai dari Kota Haql di perbatasan Jordania hingga ke Kota Jizan di perbatasan Yaman.

Gbr.(5) Trek perjalanan dari Jeddah ke Madinah

Namun setelah melewati Kota Thuwal, sang sopir membelokkan setirnya ke arah timur. Yang merupakan wilayah tengah gugusan Pegunungan Hijaz dengan ketinggian di atas 900 meter dari permukaan laut. Sejauh mata memandang, di sisi kanan kiri jalan tampak sekumpulan bukit-bukit terjal nan tandus. Bukit-bukit itu terpisah satu dengan lainnya. Puncak bukitnya yang lancip, ketinggiannya berkisar 100 hingga 200 meter dari permukaan jalan raya. Permukaan sebagian perbukitan itu ditutupi oleh bebatuan keras yang berwarna coklat kekuningan, sebagian lainnya ditutupi batu-batu kerikil. Jenis tanaman Acacia dan Haloxylon menjadi penyejuk mata di tengah gersangnya pemandangan alam. Sesekali tampak pula lembah-lembah berpasir coklat keputihan (wadi) yang di sekitarnya tumbuh jenis tanaman Calligonum. Wadi-wadi itu terlihat kering kerontang, tiada air yang tersisa di permukaan. Hal ini lah yang menyebabkan sedikitnya semak belukar. Sebagai efek awal musim panas (summer) di Arab Saudi.

Gbr.(6) Jenis tumbuhan Acacia atau akasia

Kurang lebih setelah satu jam perjalanan, Wahid tertidur. Nampaknya ia kelelahan karena semalaman suntuk skaipan (skype) dengan istri tercinta. Tiba-tiba sang sopir itu mengintip Wahid dari kaca spion dalam. ”Teman Tuan tidur yah? Saya dengar semalam dia ngobrol dengan pacarnya sampai larut malam.” ungkapnya. ”Hemm..bukan dengan pacarnya Pak, tapi dengan istrinya. Maklum, penganten baru..” jelasku. Lalu ia bertanya tentang statusku. ”Saya masih single, Pak!” jawabku dengan wajah sedikit memelas berharap ia menawarkan anak perempuannya untuk saya hehe..Tapi responnya membuat saya bingung. Ia bilang,”Wah saya juga belum nikah, Tuan!” Hah, bujang tua maksud loe?! Lalu ia menambahkan lagi,”Saya belum nikah yang ketiga, empat..” sambil tersenyum lebar. ”Oh my God! Nggak disangka, kerjanya cuma sopir gini tapi pingin punya istri tiga.” hati saya benar-benar kaget.  Hemm..kalau coba dihitung-hitung kerja menjadi sopir taksi Jeddah-Madinah, penghasilan sehari bisa 400 riyal, berarti sebulan setidaknya bisa mencapai 10 ribu riyal atau setara dengan 25 juta rupiah. Wah lumayan juga yah..pantesan ia mau nambah lagi cekakakak..

Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, sang sopir merasa lelah. Akhirnya, kami berhenti di tempat peristirahatan sementara. Namanya Al-Ahlaf. Sebuah restoran yang menyajikan makanan khas arab seperti nasi bukhori (ruz), roti (hubz), ayam panggang (syawayah), ayam bakar (fahem), kurma (tamar), teh (syahi), kopi (qohwah), dan beberapa jenis minuman. Kami pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Perut lapar mesti segera diisi. Kami memesan nasi, roti, dan ayam bakar. Begitu pun dengan sang sopir kami. Ia langsung memesan teh dan kopi khas arab yang rasanya aneh. Oya, nama bapak sopir itu Zahid, asli Madinah. Awalnya saya tanya apakah orang Saudi asli, eh jawabnya,”Saya asli Madinah, bukan Saudi. Madinah lebih dulu ada, baru setelah itu Saudi” sambil senyum nggak jelas. ”Wah, saya nggak ngerti maksudnya, Pak. Hemm..mesti baca sejarah Arab Saudi dulu dong kalo beg beg begitoh..” sambil mencicipi teh anehnya.

Kemudian kami beranjak ke mobil lagi. Melanjutkan separuh perjalanan. Lega rasanya perut sudah diisi, sudah pipis, dan sudah sholat Zuhur. Saat mobil mulai merangkak ke jalan raya, sang sopir mulai menyetel radio tape-nya. Dan setelah berkali-kali gonta-ganti gelombang radio, akhirnya terdengarlah murottal Qur’an nan merdu. Tipe suara itu pernah kudengar sebelumnya. ”Ya, aku ingat!” Beliau adalah Syaikh Maher Al-Mueaqly. Seorang kelahiran Madinah dan sekarang ini telah diangkat menjadi salah satu imam Masjidil Haram Mekkah. Suara bervibra di setiap akhir kalimat itulah yang menjadi ciri khasnya. Ada energi tersendiri ketika aku mendengarnya, dan tiada membuat ngantuk bagi sang sopir. Suaranya membuat kami khusyuk menyimak ayat demi ayat yang dibaca. ”Nah, ini dia yang saya cari..”

Gugusan Pegunungan Hijaz yang tiada berujung menambah damai nuansa rohani. Dan semakin mendekati Kota Madinah, pemandangan yang tampak pun berubah sedikit demi sedikit.  Bukit-bukit yang sebelumnya didominasi warna coklat kini mulai bermunculan warna hijau. Acacia sudah lebih sering tampak dari balik kaca. Pohon kurma pun sudah bermunculan di sana-sini. Sampai akhirnya terlihatlah gedung-gedung tinggi penuh warna. Hampir semua gedung itu adalah hotel penginapan bagi jamaah umroh maupun haji. Tata kotanya membuat saya kagum. Ternyata, lebih teratur daripada Jeddah maupun Mekkah.

Sesaat menjelang waktu ashar, kami sampai di terminal Madinah. Sang sopir terlihat sedih. Tak tahu kenapa. “Ahlan wasahlan di Madinah. Selamat beribadah. Insha Allah saya nanti mau main ke Indonesia lagi. Saya rindu Puncak dan kambing muda..“ ujarnya sebagai salam perpisahan kami dengannya. Dan setelah kami bayar ongkosnya, ia mencium pipi kanan kiri saya. Begitu juga dengan Wahid. ’Tapi, kenapa orang arab Yaman itu nggak dicium yah?“ hatiku bertanya-tanya. “Kami tunggu di Indonesia ya Pak, saya juga pingin ke Puncak.“ jawab saya. “Mas Toro, neng Puncak ono opo toh?“ Wah ternyata Wahid penasaran. “Di Puncak ada gunung kembar, Mas hehe.. Udah yuk.., nggak usah dipikirin. Sekarang kita mesti cepat-cepat ke Masjid Nabawi, udah adzan tuh“ jawabku sambil merapihkan gamis dan sorban ala Saudi ekekeke..

Masya Allah..perjalanan dari Jeddah ke Madinah kali ini cukup berkesan. Alhamdulillah..berkat kasih sayang Allah, kami dipertemukan dengan sang sopir itu. Ia luar biasa baiknya. Ia nggak seperti sopir-sopir taksi lainnya. Ia benar-benar memperlakukan penumpangnya seperti raja. Kata-kata yang disampaikannya pun penuh kesantunan. Nggak pakai kata “yalla yalla!“ yang terdengarnya kasar, tapi ia pakai kata ”tafadhol” yang konotasinya halus. Apakah karena ia berasal dari Madinah? Konon, hijrahnya Nabi Muhammad (s.a.w.) dari Mekkah ke Madinah karena penduduk Madinah mau menerima dengan baik kedatangan Nabi dan para sahabatnya. Hemm..Ini menunjukkan bahwa perilaku penduduk Madinah dari dulu memang dikenal baik.

Oh Madinah, inilah kota tempat wafatnya Nabi kita..

“Allahumma sholli ’ala sayyidina Muhammad, wa ’ala alihi wasohbihi ajma’in..“

// <![CDATA[
var __chd__ = {'aid':11079,'chaid':'www_objectify_ca'};(function() { var c = document.createElement('script'); c.type = 'text/javascript'; c.async = true;c.src = ( 'https:' == document.location.protocol ? 'https://z&#039;: 'http://p&#039;) + '.chango.com/static/c.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(c, s);})();
// ]]>

Advertisements

Ruh Makkah? Yalla..!

“Ruh Makkah? yalla sodik!” teriak sang sopir yang menghampiriku saat tiba di terminal. Kata “ruh” di sini bukan berarti ruh yang ada di tubuh manusia. Namun “ruh” yang dimaksud “pergi”. Kata “ruh” itu merupakan bahasa arab yang biasa dipakai untuk sehari-hari atau istilah arabnya ‘amiyah (umum). Sedangkan “yalla” bisa diartikan dengan “ayo!” atau bahasa gaulnya “buruan dong!

Gbr.(1) Taksi resmi yang beroperasi di Jeddah dan sekitarnya.

Perjalanan dari apartemen ke terminal biasanya menggunakan taksi. Taksi yang dimaksud itu bisa berupa taksi yang resmi maupun mobil pribadi. Dan tak jarang dijumpai sebuah mobil Camry mulus menghampiri saya di tepi jalan seberang apartemen. Sang sopir seraya mengucapkan salam.

“Salam alaikum ya habibi.. Wen ruh?” maksudnya menanyakan saya mau pergi ke mana. Bahasa gaulnya kira-kira begini,”Hai say, mo’ kemana nich?”. Sambil menebar senyumnya. Hemm..Saat pertama kalinya, saya heran karena jarang sekali itu terjadi di Jakarta. Kalau di Jakarta saya seringnya disangka orang Amerika. “Jack, ojek ojek..” kalau nggak salah sih begitu, hehe..

“Kilo ‘Asyroh.” jawabku dengan penuh gembira dan nggak berpikir macam-macam. “Yalla ta’al!” ajaknya tanpa banyak omong. Saya pun masuk ke dalam mobil Camry-nya yang masih mulus dan wah banget dech! maklum ndeso.

Karena nggak punya pengalaman sebelumnya, saya naik mobil itu tanpa menanyakan lagi berapa ongkosnya. Sehingga, di tengah perjalanan menuju Kilo Asyroh, sang sopir yang berkulit sawo terlalu matang itu tiba-tiba berkata,”’Isyrin” (dua puluh). Hah, Dua puluh?! Saya nggak paham maksudnya apa. Katanya ongkos naik taksi ke Kilo Asyroh itu dua puluh riyal. “Ow ow.. mahal banget! Kalau dikonversikan ke rupiah setara dengan 50 ribu. Saya pun terkejut ketika dia bilang tarif ongkosnya segitu.

Hati saya nggak bisa menerima begitu saja. “Lisy ‘isyrin? Ma ba’id min hina, Yalla asyroh aiwah!” Tanya saya kepadanya kenapa 20 riyal, karena nggak jauh-jauh amat, lalu saya tawar 10 riyal. Tapi sang sopir tetap ngeyel meminta 20 riyal. Oh, saya baru tahu ternyata inilah trik sang sopir untuk mengelabui si penumpang yaitu dengan cara menaikkan si penumpang terlebih dahulu ke dalam mobilnya, barulah selanjutnya diberitahukan tarifnya.

Lalu saya katakan lagi ke sang sopir,”Lisy inta ma fi kalam ‘isyrin zai kidza fil awwal. Yalla! kholas anzil hina”

Apa yang saya katakan ke sang sopir bahwa kenapa dia nggak bilang kalau ongkosnya 20 riyal di awal-awal sebelum saya naik. Karena hati saya nggak bisa menerima diperlakukan semacam itu, lalu saya minta untuk diturunkan saat itu juga. Hemm..mendengar ancaman saya, sang sopir akhirnya merasa kalah argumen,”Aiwah ma fi musykilah.” sambil mengusap batang hidungnya yang mirip bawang bombay. Ekekeke..

Kilo ‘Asyroh adalah nama suatu daerah di Jeddah yang berarti Kilo Sepuluh atau KM 10 yang di sekitarnya ada sebuah terminal untuk jurusan Mekkah. Tebakan saya terminal di Jeddah itu nggak seramai kalau dibandingkan terminal di Jakarta. Yup, ternyata memang benar. Jumlah bus dan kendaraan umumnya lebih sedikit, sama halnya dengan terminal lainnya seperti Albalad Jeddah. Walaupun terlihat lebih sepi, tapi apa yang saya rasakan ternyata jauh lebih ganas loh, bila dibandingkan di terminal Pulo Gadung. Eit, tapi tunggu dulu, ceritanya belum selesai nih. Bukannya saya mau menakut-nakuti ya.

Gbr.(2) Terminal Kilo Asyroh (10) Jeddah

Lanjut ya gan..

Setibanya saya di terminal Kilo Asyroh, saya disambut dengan segerombolan laki-laki bergamis putih dan bersorban, adapula yang tidak memakai sorban. Mereka mendatangi saya secara bersamaan, bahkan saat saya mau keluar dari pintu taksi, mereka menarik-narik tangan saya, yang lebih parah lagi ada yang mengalungkan leher saya dengan tangannya. Waduh, kok saya kaya mainan begini, tarik sana, tarik sini.

“Sodik ta’al, ruh Makkah ala tul” salah satu dari sopir itu merayu saya, katanya ia akan langsung berangkat ke Mekkah tanpa ngetem dulu. “Daqiqah” maksudku agar mereka memberi kesempatan sebentar buat saya untuk memilih mobil mana yang mau saya naiki. Sambil melepaskan genggaman dan rangkulan tangan-tangan besar dan berbulu itu. Diikuti dengan detak jantungku berdebar lebih cepat karena shock dengan perlakukan para sopir itu. “Huuh.. Bang Jenggot.. Bang Jenggot..“ sambil menunduk, nggak berani menatap mata-mata belo mereka. “Duh, sama calon penumpang aja perlakuannya kaya begini, gimana kalo sama pembantu yah??”

Saya mesti cepat ambil keputusan mau naik mobil yang mana. Karena gerombolan itu terus menatapkan mata belonya ke saya. “Baiklah kalo beg beg begitoh..” Saya perhatikan satu persatu mobil-mobil yang berjejer. Layaknya di showroom mobil. Mulai dari ujung kiri. “Ternyata mobilnya keren-keren yaks..” Elantra, Accent, Accord, Corolla, Camry, Maxima, berbagai tipe Hyundai, Chevrolet, bahkan mobil-mobil ber-cc besar pun ikutan nangkring di Kilo Asyroh.

Satu persatu saya datangi, satu demi satu pun sang sopir menghampiri. Mulai dari mobil sedan baru, saat saya tanya berapa ongkosnya, jawabnya,”Khomsata ‘asyroh” atau 15 riyal. Ditawar 10 riyal ternyata nggak mempan dan responnya,”Sayyaroh jadid ya sodik..” katanya mobilnya baru sehingga sang sopir itu pasang tarif mahal. Lalu beralih ke mobil lain, dan jawabannya pun sama 15 riyal. Saya pun tawar lagi dan responnya,”Ya sodik, inta bakhil..” Hah, saya dikata pelit. “Asyroh lazim ya Syeikh..” saya membalas bahwa 10 riyal itu tarif yang biasa untuk pergi ke Mekkah. Huh..ko pasang tarifnya mahal-mahal sih, nggak tahu saya mahasiswa yah, saya kan mesti prihatin. Nggak dapat mobil sedan yang 15 riyal, saya bergerak terus ke kanan hingga akhirnya saya menemui mobil GMC Yukon dan di dalamnya sudah terdapat 6 orang. Sang sopir meneriaki saya,”Habibi, ta’al! ruh Makkah ‘ala tul..” ia akan langsung berangkat ke Mekkah. Ongkosnya 10 riyal. Nah, ini dia yang saya cari. Alhamdulillah akhirnya dapat juga yang murah meriah.

Gbr.(3) Mobil GMC Yukon yang besar dan tahan banting di gurun

Penumpang di dalam mobil itu ada yang berwajah Pakistan, India, Bangladesh, Mesir, juga ada yang berwajah Afrika. Hampir semuanya berpakaian ihram. Saat saya masuk, terlihat semuanya hanya berdiam diri, khusyuk. Ada pula yang sudah mulai ngantuk. Sang sopir yang asli orang Saudi memakai gamis lengkap dengan sorban. Tak lupa pula tasbeh yang melekat di tangan kanannya.

GMC Yukon mulai berjalan secara perlahan. AC mobil mulai semriwingan. Radio tape mulai disetel. Terdengarlah lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dengan suara merdu dan penuh penghayatan. Saya bertanya-tanya dalam hati, siapakah nama syeikh yang membaca Qur’an di kaset itu. Walaupun saya nggak terlalu paham dengan arti setiap ayat Qur’an, namun subhanallah suaranya membuat bulu kudu merinding. Perasaan yang tadinya galau karena perlakuan abang-abang jenggot itu kini luluh dengan alunan ayat-ayat Qur’an.

Setelah 60 detik GMC Yukon meninggalkan terminal Kilo Asyroh, ban-ban GMC Yukon mulai menapaki jalan yang tiada hambatan. Jalan lurus panjang. Jalan sirothol mustaqim alias jalan tol. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya jalan lurus yang tiada bertepi. Bukit-bukit bebatuan pasir nan tandus menghiasi sisi kanan kiri jalan. Sesekali nampak sekumpulan onta dan domba yang sedang dikawani oleh orang arab baduy. Tiada warna yang dominan selain warna coklat bebatuan pasir yang telah lama mengalami pelapukan.

Suasana seperti ini mengingatkan saya akan sebuah nasyid.

Perjalanan masih jauh

Hampir tak bertemu ujung

Namun yakinlah hai kawan

Tujuan mulia pasti ada

 

Usia bukanlah ukuran

Tanpa dibatasi waktu

Walau tiada kesempatan

Cita-cita trus berjalan

 

Nafsu janganlah dibawa dalam perjalanan yang panjang

Banyak yang terhenti penuh sesal

Nafsu janganlah dibawa dalam perjuangan yang mulia

Banyak yang terhenti penuh dosa

Gbr.(4) Suasana jalan tol menuju Mekkah

Subhanallah, Maha suci Allah..

Sungguh luar biasa nuansa ruhani saya saat-saat itu. Seakan-akan saya dalam sebuah mimpi yang indah. Hati terasa damai, hati merasa tenteram. Pikiran tiada disibukkan dengan urusan duniawi. Tiada kemacetan di jalan. Semua penumpang khusyuk sambil berdzikir membaca talbiyah,”Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika lak..” Butiran-butiran tasbeh menjadi saksi atas semua lafazh dzikir. Hingga akhirnya mata saya tertidur, dan benar-benar bermimpi indah.

Di dalam mimpi itu, saya melihat ada seorang bidadari yang parasnya caaantik jelita. Jauh lebih cute daripada Dewi Sandra. Ia berjalan dengan selendang merah jambu, langkah demi langkah berjalan mendekat ke arah ku. Jantungku benar-benar berdebar. Aku pun bertanya pada diri sendiri,“Kenapa jantungku berdebar-debar keras sekali bahkan lebih keras dari pukulan bedug  buka puasa? Apakah ini yang disebut dengan chemistry? Atau, inikah yang namanya cinta?” Kutundukkan pandanganku.  Malunya bukan main. Lebih malu daripada ketahuan kentut di kelas. Tapi, ada tapinya, aku pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin dialah belahan jiwaku yang selama ini kunanti-nanti. Mungkin dialah permaisuri yang sudah disiapkan Allah untukku. Mungkin dialah tulang rusukku yang selama ini kucari-cari. Lalu aku beranikan diri untuk menatapnya. Kuberanikan diri untuk melebarkan bibirku dengan senyum pepsodent. Kuberanikan diri untuk menegurnya. Dan tak lupa kuaktifkan bluetooth hape, siapa tahu dia ingin berbagi nomor hape. Namun saat satu langkah mendekatiku, tiba-tiba ada yang berteriak,

“Yalla yalla sur’ah!” sang sopir itu berteriak ke penumpang untuk segera turun dari mobil. Ternyata, Masjidil Haram sudah di depan mata toh. Alhamdulillah..Kok sebentar sekali perjalanan Jeddah ke Mekkah. Waduh, belum sempat dapat nomor hape bidadari itu, aku sudah terbangun dari mimpi indahku. Diikhlaskan sajalah, kan cuma mimpi. Mudah-mudahan nggak cuma mimpi, tapi bisa menjadi kenyataan nantinya. Aamiin..

Tak banyak buang waktu, saya bergegas menuju halaman Masjidil Haram nan luas dan megah itu. “Labbaika Allahummah labbaik..Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu..”

***