Belajar Masalah Air di Negeri Gurun Pasir

Oleh : Kuswantoro Al-Ihsan

  

Ketika saya memutuskan untuk kuliah S2 di Saudi Arabia, banyak pertanyaan yang muncul dari teman-teman. “Mau belajar Ilmu Qur’an, Hadits, atau Syari’ah?” “Bukan!”, jawab saya. Pertanyaan lainnya muncul, “Kenapa belajar masalah air di Arab Saudi yang semuanya padang pasir? Kenapa gak ambil di Belanda aja?”. Hemmh.. pertanyaan yang cukup menggelitik.

Citra Satelit Saudi Arabia dan sekitarnya dengan gurun pasir Rub Al-Khali di bagian tenggaranya.

Memang rasanya cukup aneh bila belajar masalah air di negara gurun pasir (desert) yang miskin air. Mari kita tengok sedikit tentang gambaran umum negaranya. Dari segi fisik, Saudi Arabia adalah sebuah negara di Timur Tengah yang sebagian besar wilayahnya berupa gurun pasir yang membentang dari barat laut hingga tenggara, dimana Rub Al-Khali adalah salah satu gurun pasir yang terkenal dan terluas di Saudi Arabia. Dengan begitu iklim yang terjadi pun banyak dipengaruhinya.Ditandai dengan panas yang ekstrim di siang hari, kemudian turun drastis di malam harinya.

Curah hujannya sedikit dan tidak menentu. Ryadh (bagian tengah) sebagai ibukota negara memiliki curah hujan tahunan sebesar 95 mm, Jeddah (pesisir barat) hanya 61 mm, sedangkan Dammam (pesisir timur) hanya sebesar 67 mm. Bandingkan dengan Jakarta yang curah hujan tahunannya sebesar 1655 mm. Kondisi iklim Saudi Arabia yang seperti itu disebabkan oleh pengaruh sistem tekanan tinggi subtropis dan banyaknya fluktuasi ketinggian wilayahnya.

Logo King Abdulaziz University (KAU)

Salah satu kampus yang popular di Saudi Arabia adalah King Abdulaziz University (KAU) yang terletak kurang dari 10 km dari Laut Merah dan tidak jauh dari pusat Kota Jeddah. Bila dibandingkan dengan Kota Ryadh, Jeddah memiliki iklim yang cukup bersahabat di musim dingin (winter), walaupun dua tahun terakhir ini (akhir 2009, awal 2011) telah terjadi banjir bandang yang dahsyat.  Di musim panas (summer) Kota Jeddah bersuhu 40°C. Secara umum perbedaan suhu di siang dan malam hari tidak terlalu ektrim. Kelembaban relatif udaranya pun cukup baik, sekitar 55 %. Tentunya tidak lepas dari pengaruh Laut Merah yang memanjang dari utara hingga selatan di bagian barat Saudi Arabia.

KAU berdiri pada tahun 1967 yang sejak awal berdirinya diperuntukkan bagi mahasiswa lokal. Segala aturan kampus mengacu pada aturan negara serta budaya masyarakatnya, seperti kampus lelaki terpisah dengan perempuan, seluruh dosen dan mahasiswanya harus beragama Islam, diwajibkannya berpakaian khas Saudi ketika di kampus, break sejenak untuk segala aktivitas di waktu-waktu sholat, dan masih banyak yang lainnya.

Gedung perkuliahan

Belajar di KAU, ada banyak hal yang saya dapatkan, di antaranya dana beasiswa bulanan yang jumlahnya lumayan yakni 2900 SR; asrama mahasiswa yang dilengkapi dengan AC, kulkas, dan akses internet wireless  24 jam, lapangan sepak bola, bola basket, kolam renang; restoran yang menyediakan menu makanan khas arab dengan harga diskon; bus kampus yang nyaman dari asrama menuju kampus yang melewati pertokoan dan mall; fasilitas perkuliahan di tiap departemen sangatlah memadai dan tinggal pakai tanpa perlu merogoh riyal lagi seperti mesin cetak (printer) dan mesin fotokopi; ruang kelas yang nyaman dilengkapi dengan AC unlimited dan In Fokus/LCD.

Saya bersama dengan supervisor Prof. Amro

  Staf pengajar dan mahasiswa

Apa yang saya rasakan selama belajar di KAU seakan-akan seperti belajar di negeri Fir’aun. Bukan karena patung Sphink dan Piramidnya, tapi lebih kepada suasana perkuliahan di kampus. Bayangkan saja, sekitar 50-60 % tenaga pengajarnya berkebangsaan Mesir, selebihnya warga asli Saudi dan Pakistan. Perbedaan yang cukup jelas terlihat antara orang Mesir dan Saudi adalah dari pakaiannya. Para pengajar dari Mesir lebih suka memakai kemeja dan celana panjang, sedangkan pengajar Saudi pasti memakai pakaian kebesaran mereka yakni gamis putih dan sutrah.

Belajar di KAU tidak perlu khawatir akan kualitas dan kredibilitasnya. Karena sebagian besar pengajar bergelar Doktor (Ph.D) lulusan Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. Termasuk pembimbing akademik saya adalah salah seorang keturunan arab Mesir yang pernah belajar di IHE-Rotterdam Belanda selama 9 tahun mulai dari jenjang master, Ph.D, hingga Postdoctoral. Kemudian, hampir seluruh fakultas telah terakreditasi secara internasional, sebut saja seperti Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET), the Council on Occupational Education (COE), The Geological Society of London (GS), United Nations Development Programme (UNDP), The Global Congress on Dental Education (DentED), the Association for Dental Education in Europe (ADEE), Academic Administration Board for MS in Business Administration (AMBA), Canadian Accreditation Board, Liaison Committee on Medical Education, dan  the Chartered Institution for Water and Environmental Management (CIWEM)-United Kingdom yang telah mengakreditasi fakultas saya.

Masjidil Haram dengan Ka’bahnya

Masjidun Nabawi dengan arsitektur interiornya

Payung buka tutup otomatis yang indah

Keuntungan lainnya kuliah di Saudi Arabia, khususnya di KAU, adalah akses yang mudah menuju Kota Suci Mekkah dan Madinah. Dari Jeddah hanya satu jam perjalanan menuju Mekkah, sedangkan ke Madinah 4 jam perjalanan. Kecuali di musim haji, memasuki kedua Kota Suci tersebut tanpa harus menyertakan surat ijin (tasrif) ataupun pemeriksaan oleh polisi. Kapan pun bisa melaksanakan ibadah umroh dengan mudah. Kala musim haji tiba, penduduk Kota Mekkah tak menyia-nyiakan untuk berhaji, tak terkecuali orang-orang di luar Kota Mekkah. Caranya pun bervariasi mulai dari backpacker-an alias gratisan, hingga kelas eksekutif dengan biaya sekitar 4000 riyal atau setara dengan 10 juta rupiah.

Namun, dari keuntungan-keuntungan kuliah di Saudi Arabia tersebut, tentunya ada pula kekurangannya. Mulai dari ribetnya proses mendapatkan visa, baik di kantor yang di Saudi Arabia maupun di Jakarta, lingkungan fisik yang panas dan kering, lingkungan sosial yang monoton, kompetisi akademis yang masih rendah di kalangan mahasiswa, sedikitnya kendaraan umum sehingga pulang pergi seringnya menggunakan taksi yang harganya cukup merogoh saku, hingga bad image untuk ng orang-orang yang bertampang seperti saya, Indonesia. Seringnya mereka menganggap saya sebagai sopir pribadi orang Arab.

Sebagai seorang geografer, kondisi sosial yang seperti itu bukanlah hal yang perlu ditakuti. Justru itu merupakan sebuah tantangan tersendiri. Banyak pengalaman dan ilmu yang diperoleh darinya. Pastinya yang tidak diajarkan di kelas. Bila kita paham dan bahkan bisa mengikuti budaya masyarakat setempat, bad image yang tadinya kita rasakan akan berubah menjadi sesuatu yang membanggakan.

Advertisements

18 responses to “Belajar Masalah Air di Negeri Gurun Pasir

  1. Haha
    Seperti yang saya harapkan dari tulisan seorang Master, tulisannya runtut dan jelas,.. hehe
    Btw, soal birokrasi di Saudi ini, temen ane dari Yordania bilang yang intinya “…orang-orang saudi ini (yang ditunjuk pegawai pemerintahan) dibayar 5000 riyal per bulan hanya untuk bilang TIDAK…”,.. saking jengkelnya si dia,.. hehe

    Eh, kalau dikira Sopir itu bagi ane ndak masalah, tpi ane malah pernah dikira bawa istri tu dengan cara haram,… ini yang kadang bikin jengkel,… generalisasi image seringkali tidak menyenangkan,…

    Cerita-cerita antum luar biasa,..
    ditunggu tulisan2 berikutnya,…

    • Jazakallah kher akhi atas tanggapannya. Memang hidup di sini harus banyak sabarnya yah..
      Nantikan cerita2 lainnya yah,,syukron

  2. Kus, banyak hal yg bisa dipelajari dari negeri gurun ini, tdk hanya air tp lbh penting adlh sejarah dan kultur asal bangsa ini, shg Islam mesti harus hadir di sini. Ini penting agar umat Islam bisa membedakan antara kultur Islam dengan kultur Arab. Fenomena saat ini justru ada kecenderungan umat Islam (Indonesia khususnya) mencoba mengidentikan perilaku dan kulturnya ke arah Arabian cultur (tata nilai, mode, kreatifitas, perilaku), dg sebuah pembenaran di luar itu berarti ikut dunia kafir (kultur eropa, amerika bahkan kultur indonesia sendiri). Klu ini yg terjadi maka tdk salah pendapat yg mengatakan umat Islam Indonesia ( bangsa secara umum) telah mengalami dis-orientasi karakter, sehingga perlu digalakan dengan masif program pendidikan karakter ke Indonesiaan di setiap jenjang pendidikan di Indonesia (dari PAUD-PT).

    Pertanyaannya adalah apakah tata nilai dan kultur Arab = Islam?
    Apakah tata nilai dan kultur Arab pasti sesuai dg nilai Islam?
    Apakah kultur bangsa di luar Islam pasti bertentangan dg nilai Islam (kafir)?
    Bukankah Islam diturunkan untuk seluruh alam sepanjang jaman sampai akhir jaman?
    Apakah ber-Islam dengan tata nilai dan kultur Indonesia yg sesuai tetap sbg suatu kesalahan?

    Semoga ada yg bisa jawab.

    • Pak Har, trima kasih atas responnya. Wah kalo Pak Har yang komen pastinya menarik deh,,
      Ijinkan saya menjawab pertanyaan2 bapak sekalian di postingan saya selanjutnya ya Pak, saya akan usahakan lebih berisi dan padat serta tepat sasaran..

    • Thanks buat komennya dan pertanyaannya ya Ria. Insya Allah akan dijawab sekalian di postingan selanjutnya,,

  3. Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Mas kuswantoro marco Al-ihsan ,
    salam kenal Mas kuswantoro

    sebelumnya saya memperkenalkan diri : Nama saya Arisona , pekerjaan saya dosen pada Universitas Haluoleo Kendari, sulawesi Tenggara.

    Saya telah menghubungi dua profesor di KAU di jurusan Earth Science geophysika dan telah mengiriman usulan Riset Ph.d dan CV, namun sampai saat ini belum dibalas.

    Saya Mohon Kiranya Mas kuswantoro bisa membantu sekiranya ada jalan untuk melanjutkan s3 di KAU.

    Terimakasih atas bantuannya, semoga Allah SWT membalas kebaikan mas.

    dari Arisona

  4. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Dear Pak/Mas Kuswantoro,

    Pertama, perkenalkan nama saya Onny Nurrahman Marwayana. Saya bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Saya mendengar informasi tentang adanya beasiswa King Abdulaziz University, saya masih lulusan S1 Biologi UGM dan saya ingin mendaftar program S2, MSc in Marine Biology.. Saya sudah daftar online.. Sudah terima username dan password.. Namun saya menemui hambatan saat saya akan melegalisir ijasah dan transkrip nilai..

    Berkenaan dengan hal ini, bersama dengan email ini saya ingin bertanya:
    1. bagaimana cara yang efektif untuk mendapatkan dokumen legalisir tersebut?
    2. adakah kontak person yang bagus untuk saya hubungi? karena saya mengetahui bahwa ada permainan agen/biro yang mematok harga sangat tinggi (hingga 1,2 juta dengan rincian: biaya legalisir dokumen di KemenKumHam dan KemenLu 350rb dan biaya legalisir di kedutaan besar arab saudi 750rb, untuk tranlate ijasah dan transkrip nilai ke bahasa arab di DIKTI 100rb) untuk mendapatkan dokumen tersebut..
    3. bagaimana prosedur yang jelas untuk mendapatkan dokumen legalisir ijasah dan transkrip nilai?
    4. haruskan diterjemahkan ke dalam bahasa arab? karena saya sudah punya dokumen ijasah dan transkrip nilai yang sudah diterjemahkan ke bahasa inggris.. dan saya dapat informasi bahwa dokumen ijasah dan transkrip yang sudah diterjemahkan ke bahasa inggris itu nantinya tidak diterima saat masuk ke tahap legalisasi di kementrian hukum dan ham dan kementerian luar negeri..

    Saya sangat berharap Bapak/Mas bisa mamberikan informasi yang lebih jelas tentang hal ini.. Terima kasih sebelumnya..

    Wassalamu’alaikum wr wb.
    Warm regards,
    Sent by ONM..

    *************
    Onny Nurrahman Marwayana, S.Si.
    Bio-Molecular and Genetic Researcher
    Research Center for Oceanography (P2O)
    Indonesian Institute of Sciences (LIPI)
    Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur
    Jakarta – INDONESIA
    Phone: (021)64713850
    Mobile: 08122540693
    E-mail: onny.smu3@gmail.com

  5. Asswrwb akhi sy mau Tanya beberapa pertanyaan, sy ingin belajar bahasa Arab langsung dari jeddah yaitu dari KAU sy hanya ingin agar bsa lancar dlm berbahasa Arab krna menjadi kebutuhan dasar, sehingga sy ingin dapatkan beasiswa di KAU tpi program bhsa Arab aja.. Kira2 bgmna sy hrs persiapkan diri ya? Apakah bisa program beasiswa hnya untk bhsa Arab?

    • Silakan baca link berikut, kurang lebih persyaratannya sama dengan yg sebelumnya.
      http://ppmi-arabsaudi.org/?p=72

      The Arabic Language Institute for Non Arabic Speakers Scholarships, King Abdulaziz University, Saudi Arabia The General Diploma in Arabic as a Foreign Language is a 60- credit hour program offered in 4 semesters of full-time study.

      The program is intended to develop students’ linguistic competence in all four language skills (Listening – Speaking – Reading and Writing). This will enable them to use the target language by direct contact in real life situations. Students who successfully pass with honors official assessments will be awarded a diploma certificate in Arabic as a foreign language (DCAFL). Our program mainly employs the” Arabic between Your Hands” series, published by the foundation of “Arabic for all”.

      Admission Requirements:

      1. Candidates should be 17-25 years old.

      2. Applicants should provide required documents, and get statement showing his/ her country approval to study in KSA.

      3. Applicants should never receive any other offer of scholarship from any Saudi Institution.

      4. Applicants should provide an official statement of good conduct and never convicted of criminal acts.

      5. Candidates should never be dismissed from any Saudi Educational Institution.

      6. All Documents need to be authenticated in accordance to university regulations.

      7. Candidates need to pass medical inspection.

      8. Applicants should obtain General Secondary Certificate or equivalent.

      Admission Procedures:

      1. Exclusively considered applications are those, successfully completed, conciliating conditions, and submitted before annually announced deadlines.

      2. Applications are to be initially directed to Saudi Embassies/ Consulates all over the world, and the Institute. The Institute will examine them, and send candidatures to the MOHE for final approval.

      3. The relevant board at MOHE will review candidates’ papers and send endorsed lists to the Ministry of Foreign Affairs for issuing entry visas.

      Privileges for Candidates:

      1. Students in AIFL are covered by medical care matching that offered to Saudi Students.

      2. Each student is granted a two-month allowance upon arrival at AIFL, and a three-month allowance at graduation date.

      3. Students are eligible for privileges same as Saudi students studying in Theoretical Sections.

      4. Students are eligible for discounted meals in accordance with University Council regulations.

      5. Students are eligible for university accommodation as well as educational and orientation counseling.

      6. Students traveling by air are granted air-tickets in accordance with university regulations. In case of no tickets issued, KAU grants compensation to students who buy their own tickets immediately upon submitting satisfactory proof.

      Required documents:

      – A Copy of officially certified certificates.

      – A Copy of officially certified transcripts.

      – Letters of recommendation/ nomination for a scholarship award from an officially recognized Institution.

      – A Certificate of Good Conduct (or an equivalent document).

      – A recent medical checkup report.

      – A Copy of a valid passport.

      – 3 recent photos (6×4 cm.).

      – A letter of consent from the applicant’s country of origin.

      – Full permanent and correspondence Addresses.
      Notes:

      Provide required documents in (PDF) files and send to: ali@kau.edu.sa
      Will not consider any request has not completed all the required documents.
      Applications should be sent by deadline: May 15, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s