Mau Naik Mobil Keren?

Sudah setahun kuliah di KAU, kok rasa-rasanya baru saat ini saya ngeh, ternyata mobil-mobil yang masuk ke kampus keren-keren loh. Kenapa baru ngeh sekarang? Aah,,saya tahu karena di tahun awal itu jadwal kuliah padat sekali, berangkat pagi pulang sore, dari asrama ke asrama lagi, ditambah gak punya teman Saudi yang saya kenal di asrama. Hemh..tambah kuper deh.

Mobil keren?? Sebenarnya gak hanya di kampus, tapi juga di parkiran asrama. Di parkiran asrama, mobil-mobil keren berserakan seperti drum-drum bekas yang dijejerkan di pangkalan minyak. Parkirannya gak punya pagar, siapapun bisa mencurinya (#kalau mau dipotong tangannya), dengan kondisi berlumuran debu dan pasir karena pengaruh gurun pasir yang galak. Mungkin kalau dihitung bisa mencapai 500 mobil yang biasa parkir di situ.

Sekali waktu saya pernah diajak oleh teman Saudi ke sebuah mall pakai mobilnya. Dia itu mahasiswa baru untuk S1. Ketika saya dipersilakan masuk ke mobilnya, saya heran (#mulut sambil mangap dan mata mendelik). Kenapa heran?? Hemm,,mungkin karena saya gak pernah naik mobil sebagus ini kali yah. Mobilnya Nissan Maxima tahun 2011, katanya sih harga di Saudi sekitar 100.000 riyal atau sekitar 250 jutaan rupiah, padahal kalo beli di luar Saudi plus pajaknya harga umumnya bisa lebih dari  $ 30.000  hampir mendekati 300 juta rupiah. Saya coba searching di google, mobil maxima sepertinya belum banyak beredar di Indonesia yah.. :p

Maxima Nissan 2011 – Sumber : http://www.google.com

Sewaktu saya berobat di klinik kampus, kata sang dokter saya harus ke rumah sakit besar, lalu diantarlah saya oleh salah seorang staf klinik pakai mobilnya. Accord VTi-L 2.4 A/T yang harganya bisa mencapai setengah milyar. Si petugas itu masih muda, sekitar 30 tahunan. Tampangnya ramah. Dia pun memanggil saya dengan kata “Sir” (#jarang-jarang loh dipanggil Tuan). Setelah duduk di mobilnya, “Loh kok perut saya udah gak sakit lagi?” (#ndesonya kumat), berhubung mobilnya sudah jalan, ya saya cicing wae lah. Aneh, setiba di rumah sakit perut saya kumat lagi, aduuhh.. Hemm,,mungkin karena sudah good bye sama si mobil yah 😀

Accord VTi-L 2.4 A/T – Sumber : http://www.google.com

Di waktu lain, saya diantar ke gedung rektorat oleh salah seorang pegawai jurusan. Tampangnya sih masih muda sekitar 30 tahunan, dan ngakunya sih belum nikah. Hemm,, Lexus GS 300. Wow,,itu mobil mewah loh. Harganya di atas 1 milyar rupiah. Sewaktu naik mobilnya, bibir saya bergerak-gerak gak bisa berhenti (#baca alhamdulillah 1001 kali), maknyos joss, dan weleh weleh (#gaya si Komo).. Dalam hati,” Kok gak berasa naik mobil yah..”(#ndeso abiss..) :p

Lexus GS 300 – Sumber: http://www.google.com

Pengalaman di atas adalah beberapa contoh dan dari situ bisa kita bayangkan betapa mudahnya kita menjumpai mobil-mobil keren di kampus, ataupun di Jeddah. Karena jumlahnya begitu banyak. Satu rumah setidaknya punya dua mobil, satu buat untuk ayah dan satunya untuk anak-anak. Hemh,,Yang bikin saya geleng-geleng kepala adalah kalau yang punya mobil keren itu adalah mahasiswa, lebih-lebih mahasiswa baru.

Jadi kalau gitu, sebutkan satu perbedaan antara Belanda dan Arab Saudi dalam hal transportasi? Mau tau jawabannya?? Mau tau? Kenapa kenapa kenapa? (#gaya da’i Maulana). Jawabnya adalah Belanda itu dikenal sebagai negara sepeda karena  jumlah sepeda hampir sama dengan jumlah orangnya, sedangkan Arab Saudi adalah negara mobil karena jumlah mobil (sepertinya) hampir sama dengan jumlah orangnya. Kenapa bisa gitu?? Salah satu alasannya adalah karena iklimnya yang panas di Arab Saudi, selain itu karena cara pandang hidup yang berbeda antara masyarakat Belanda dengan Arab Saudi, dan masih banyak alasan lain :).

Banjir sepeda di setiap sudut kota di Belanda – Sumber : http://www.socialshutter.blogspot.com

Jadi, sehari-hari lihat mobil-mobil keren seperti itu berseliweran sudah gak heran lagi. Dan kalau mau lebih jelasnya lagi, ketika berjalan menuju gedung jurusan. Pastinya melewati parkiran mobil yang luas. Nah di saat itu, saya mulai menghapal merk mobilnya, mulai dari Camry Toyota, Suzuki, Accord Honda, Daihatsu, Hyundai, KIA, Mazda, Chevrolet, Ford, Land Rover, Maxima-Nissan, Mercedes Benz, BMW, Lexus, beserta tipe-tipenya. Yaa..barangkali nanti kalau ada yang mau kasih mobil ke saya, kan saya sudah tahu sebelumnya, jadi biar bisa milih yang lebih maknyos joss hehe (#mimpi kali ye..aamiin aja deh).

Advertisements

Belajar Masalah Air di Negeri Gurun Pasir

Oleh : Kuswantoro Al-Ihsan

  

Ketika saya memutuskan untuk kuliah S2 di Saudi Arabia, banyak pertanyaan yang muncul dari teman-teman. “Mau belajar Ilmu Qur’an, Hadits, atau Syari’ah?” “Bukan!”, jawab saya. Pertanyaan lainnya muncul, “Kenapa belajar masalah air di Arab Saudi yang semuanya padang pasir? Kenapa gak ambil di Belanda aja?”. Hemmh.. pertanyaan yang cukup menggelitik.

Citra Satelit Saudi Arabia dan sekitarnya dengan gurun pasir Rub Al-Khali di bagian tenggaranya.

Memang rasanya cukup aneh bila belajar masalah air di negara gurun pasir (desert) yang miskin air. Mari kita tengok sedikit tentang gambaran umum negaranya. Dari segi fisik, Saudi Arabia adalah sebuah negara di Timur Tengah yang sebagian besar wilayahnya berupa gurun pasir yang membentang dari barat laut hingga tenggara, dimana Rub Al-Khali adalah salah satu gurun pasir yang terkenal dan terluas di Saudi Arabia. Dengan begitu iklim yang terjadi pun banyak dipengaruhinya.Ditandai dengan panas yang ekstrim di siang hari, kemudian turun drastis di malam harinya.

Curah hujannya sedikit dan tidak menentu. Ryadh (bagian tengah) sebagai ibukota negara memiliki curah hujan tahunan sebesar 95 mm, Jeddah (pesisir barat) hanya 61 mm, sedangkan Dammam (pesisir timur) hanya sebesar 67 mm. Bandingkan dengan Jakarta yang curah hujan tahunannya sebesar 1655 mm. Kondisi iklim Saudi Arabia yang seperti itu disebabkan oleh pengaruh sistem tekanan tinggi subtropis dan banyaknya fluktuasi ketinggian wilayahnya.

Logo King Abdulaziz University (KAU)

Salah satu kampus yang popular di Saudi Arabia adalah King Abdulaziz University (KAU) yang terletak kurang dari 10 km dari Laut Merah dan tidak jauh dari pusat Kota Jeddah. Bila dibandingkan dengan Kota Ryadh, Jeddah memiliki iklim yang cukup bersahabat di musim dingin (winter), walaupun dua tahun terakhir ini (akhir 2009, awal 2011) telah terjadi banjir bandang yang dahsyat.  Di musim panas (summer) Kota Jeddah bersuhu 40°C. Secara umum perbedaan suhu di siang dan malam hari tidak terlalu ektrim. Kelembaban relatif udaranya pun cukup baik, sekitar 55 %. Tentunya tidak lepas dari pengaruh Laut Merah yang memanjang dari utara hingga selatan di bagian barat Saudi Arabia.

KAU berdiri pada tahun 1967 yang sejak awal berdirinya diperuntukkan bagi mahasiswa lokal. Segala aturan kampus mengacu pada aturan negara serta budaya masyarakatnya, seperti kampus lelaki terpisah dengan perempuan, seluruh dosen dan mahasiswanya harus beragama Islam, diwajibkannya berpakaian khas Saudi ketika di kampus, break sejenak untuk segala aktivitas di waktu-waktu sholat, dan masih banyak yang lainnya.

Gedung perkuliahan

Belajar di KAU, ada banyak hal yang saya dapatkan, di antaranya dana beasiswa bulanan yang jumlahnya lumayan yakni 2900 SR; asrama mahasiswa yang dilengkapi dengan AC, kulkas, dan akses internet wireless  24 jam, lapangan sepak bola, bola basket, kolam renang; restoran yang menyediakan menu makanan khas arab dengan harga diskon; bus kampus yang nyaman dari asrama menuju kampus yang melewati pertokoan dan mall; fasilitas perkuliahan di tiap departemen sangatlah memadai dan tinggal pakai tanpa perlu merogoh riyal lagi seperti mesin cetak (printer) dan mesin fotokopi; ruang kelas yang nyaman dilengkapi dengan AC unlimited dan In Fokus/LCD.

Saya bersama dengan supervisor Prof. Amro

  Staf pengajar dan mahasiswa

Apa yang saya rasakan selama belajar di KAU seakan-akan seperti belajar di negeri Fir’aun. Bukan karena patung Sphink dan Piramidnya, tapi lebih kepada suasana perkuliahan di kampus. Bayangkan saja, sekitar 50-60 % tenaga pengajarnya berkebangsaan Mesir, selebihnya warga asli Saudi dan Pakistan. Perbedaan yang cukup jelas terlihat antara orang Mesir dan Saudi adalah dari pakaiannya. Para pengajar dari Mesir lebih suka memakai kemeja dan celana panjang, sedangkan pengajar Saudi pasti memakai pakaian kebesaran mereka yakni gamis putih dan sutrah.

Belajar di KAU tidak perlu khawatir akan kualitas dan kredibilitasnya. Karena sebagian besar pengajar bergelar Doktor (Ph.D) lulusan Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. Termasuk pembimbing akademik saya adalah salah seorang keturunan arab Mesir yang pernah belajar di IHE-Rotterdam Belanda selama 9 tahun mulai dari jenjang master, Ph.D, hingga Postdoctoral. Kemudian, hampir seluruh fakultas telah terakreditasi secara internasional, sebut saja seperti Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET), the Council on Occupational Education (COE), The Geological Society of London (GS), United Nations Development Programme (UNDP), The Global Congress on Dental Education (DentED), the Association for Dental Education in Europe (ADEE), Academic Administration Board for MS in Business Administration (AMBA), Canadian Accreditation Board, Liaison Committee on Medical Education, dan  the Chartered Institution for Water and Environmental Management (CIWEM)-United Kingdom yang telah mengakreditasi fakultas saya.

Masjidil Haram dengan Ka’bahnya

Masjidun Nabawi dengan arsitektur interiornya

Payung buka tutup otomatis yang indah

Keuntungan lainnya kuliah di Saudi Arabia, khususnya di KAU, adalah akses yang mudah menuju Kota Suci Mekkah dan Madinah. Dari Jeddah hanya satu jam perjalanan menuju Mekkah, sedangkan ke Madinah 4 jam perjalanan. Kecuali di musim haji, memasuki kedua Kota Suci tersebut tanpa harus menyertakan surat ijin (tasrif) ataupun pemeriksaan oleh polisi. Kapan pun bisa melaksanakan ibadah umroh dengan mudah. Kala musim haji tiba, penduduk Kota Mekkah tak menyia-nyiakan untuk berhaji, tak terkecuali orang-orang di luar Kota Mekkah. Caranya pun bervariasi mulai dari backpacker-an alias gratisan, hingga kelas eksekutif dengan biaya sekitar 4000 riyal atau setara dengan 10 juta rupiah.

Namun, dari keuntungan-keuntungan kuliah di Saudi Arabia tersebut, tentunya ada pula kekurangannya. Mulai dari ribetnya proses mendapatkan visa, baik di kantor yang di Saudi Arabia maupun di Jakarta, lingkungan fisik yang panas dan kering, lingkungan sosial yang monoton, kompetisi akademis yang masih rendah di kalangan mahasiswa, sedikitnya kendaraan umum sehingga pulang pergi seringnya menggunakan taksi yang harganya cukup merogoh saku, hingga bad image untuk ng orang-orang yang bertampang seperti saya, Indonesia. Seringnya mereka menganggap saya sebagai sopir pribadi orang Arab.

Sebagai seorang geografer, kondisi sosial yang seperti itu bukanlah hal yang perlu ditakuti. Justru itu merupakan sebuah tantangan tersendiri. Banyak pengalaman dan ilmu yang diperoleh darinya. Pastinya yang tidak diajarkan di kelas. Bila kita paham dan bahkan bisa mengikuti budaya masyarakat setempat, bad image yang tadinya kita rasakan akan berubah menjadi sesuatu yang membanggakan.