Muhammadiyah Terbelenggu Wujudul Hilal: Metode Lama yang Mematikan Tajdid Hisab

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI

 

Perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha sering terjadi di Indonesia. Penyebab utama BUKAN perbedaan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi pada perbedaan kriterianya. Kalau mau lebih spesifik merujuk akar masalah, sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. Bila posisi bulan sudah positif di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih sekitar batas kriteria visibilitas hilal (imkan rukyat, batas kemungkinan untuk diamati) atau lebih rendah lagi, dapat dipastikan terjadi perbedaan. Perbedaan terakhir kita alami pada Idul Fitri 1327 H/2006 M dan 1428 H/2007 H serta Idul Adha 1431/2010. Idul Fitri 1432/2011 tahun ini juga hampir dipastikan terjadi perbedaan. Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433/2012, 1434/2013, dan 1435/2014 juga akan beda. Masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, “mari kita saling menghormati”. Adakah solusi permanennya? Ada, Muhammadiyah bersama ormas-ormas Islam harus bersepakati untuk mengubah kriterianya.

Mengapa perbedaan itu pasti terjadi ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk? Kita ambil kasus penentuan Idul Fitri 1432/2011. Pada saat maghrib 29 Ramadhan 1432/29 Agustus 2011 tinggi bulan di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang, tetapi sudah positif. Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya. Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan (“hilal”) sudah wujud di atas ufuk saat maghrib 29 Agustus 2011. Tetapi Ormas lain yang mengamalkan hisab juga, yaitu Persis (Persatuan Islam), mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011 karena mendasarkan pada kriteria imkan rukyat (kemungkinan untuk rukyat) yang pada saat maghrib 29 Agustus 2011 bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati. NU yang mendasarkan pada rukyat masih menunggu hasil rukyat. Tetapi, dalam beberapa kejadian sebelumnya seperti 1427/2006 dan 1428/2007, laporan kesaksian hilal pada saat bulan sangat rendah sering kali ditolak karena tidak mungkin ada rukyat dan seringkali pengamat ternyata keliru menunjukkan arah hilal.

Jadi, selama Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria wujudul hilalnya, kita selalu dihantui adanya perbedaan hari raya dan awal Ramadhan.  Seperti apa sesungguhnya hisab wujudul hilal itu? Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat.  Tentu saja mereka anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.

Oktober 2003 lalu saya diundang Muhammadiyah sebagai narasumber pada Munas Tarjih ke-26 di Padang. Saya diminta memaparkan “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Saya katakan  wujudul hilal hanya ada dalam teori, tidak mungkin bisa teramati. Pada kesempatan lain saya sering mangatakan teori/kriteria wujudul hilal tidak punya landasan kuat dari segi syar’i dan astronomisnya. Dari segi syar’i, tafsir yang merujuk pada QS Yasin 39-40 terkesan dipaksakan (rincinya silakan baca blog sayahttp://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/ ). Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.

Kita ketahui, metode penentuan kalender yang paling kuno adalah hisab urfi (hanya berdasarkan periodik, 30 dan 29 hari berubalang-ulang, yang kini digunakan oleh beberapa kelompok kecil di Sumatera Barat dan Jawa Timur, yang hasilnya berbeda dengan metode hisab atau rukyat modern). Lalu berkembang hisab imkan rukyat(visibilitas hilal, menghitung kemungkinan hilal teramati), tetapi masih menggunakan hisab taqribi (pendekatan) yang akurasinya masih rendah. Muhammadiyah pun sempat menggunakannya pada awal sejarahnya. Kemudian untuk menghindari kerumitan imkan rukyat, digunakan hisab ijtimak qablal ghurub (konjungsi sebelum matahari terbenam) dan hisab wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk yang ditandai bulan terbenam lebih lambat daripada matahari). Kini kriteria ijtimak qablal ghurubdan wujudul hilal mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa kelompok atau negara yang masih kurang keterlibatan ahli hisabnya, seperti oleh Arab Saudi untuk kalender Ummul Quro-nya. Kini para pembuat kalender cenderung menggunakan kriteriaimkan rukyat karena bisa dibandingkan dengan hasil rukyat. Perhitungan imkan rukyat kini sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi. Informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses secara online di internet.

Muhammdiyah yang tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan (kebekuan pemikiran) dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kelendernya. Mereka cukup puas dengan wujudul hilal, kriteria lama yang secara astronomi dapat dianggap usang. Mereka mematikan tajdid (pembaharuan) yang sebenarnya menjadi nama lembaga think tank mereka, Majelis Tarjih dan Tajdid. Sayang sekali. Sementara ormas Islam lain terus berubah. NU yang pada awalnya cenderung melarang rukyat dengan alat, termasuk kacamata, kini sudah melengkapi diri dengan perangkat lunak astronomi dan teleskop canggih. Mungkin jumlah ahli hisab di NU jauh lebih banyak daripada di Muhammadiyah, walau mereka pengamal rukyat. Sementara Persis (Persatuan Islam), ormas “kecil” yang sangat aktif dengan Dewan Hisab Rukyat-nya berani beberapa kali mengubah kriteria hisabnya. Padahal, Persis  kadang mengidentikan sebagai “saudara kembar” Muhammadiyah karena memang mengandalkan hisab, tanpa menunggu hasil rukyat. Persis beberapa kali mengubah kriterianya, dari ijtimak qablal ghrub, imkan rukyat 2 derajat, wujudul hilal di seluruh wilayah Indonesia, sampai imkan rukyat astronomis yang diterapkan.

Demi penyatuan ummat melalui kalender hijriyah, memang saya sering mengkritisi praktek hisab rukyat di NU, Muhammadiyah, dan Persis. NU dan Persis sangat terbuka terhadap perubahan. Muhammadiyah cenderung resisten dan defensif dalam hal metode hisabnya. Pendapatnya tampak merata dikalangan anggota Muhammadiyah, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal. Itu sudah menjadi keyakinan mereka yang katanya sulit diubah. Gerakan tajdid (pembaharuan) dalam ilmu hisab dimatikannya sendiri. Ketika diajak membahas kriteria imkan rukyat, tampak apriori seolah itu bagian dari rukyat yang terkesan dihindari.

Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi kriteria kelendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!

Sumber:

http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/

Advertisements

Ragunan Animal Garden, South Jakarta

 

Mendengar kata Kebun Binatang Ragunan mengingatkan aku ketika 23 tahun silam, aku bersama keluarga bertamasya melihat-lihat berbagai macam binatang. Mulai dari yang sebesar itik sampai gajah. Kenangan itu terulang kembali di saat usiaku di seperempat abad ini.

Ketika kakiku menginjakkan pintu masuk kebun, ada hal-hal yang dulu pernah aku lewati bersama keluarga. Namun, aku tak mau berlama-lama mengingat masa laluku, ku langkahkan kaki menyusuri jalan beraspal yang tertata rapi ke setiap sudut.

Kebun Binatang Ragunan terletak di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Luasnya mencapai 140 hektar. Daerahnya secara umum datar, walaupun jalan di sekitar situ sedikit bergelombang. Pepohonan hijau menjadi penutup lahan (landcover) yang dominan yang apabila dilihat dari ukuran pepohonan tersebut bisa diperkirakan kalau pepohonan tersebut terlah berusia tua (puluhan bahkan ratusan tahun). Di bagian selatan kebun binatang ini membentang situ-situ yang menambah indah dan harmonisnya pemandangan. Pengelola kebun binatang menjadikan pula situ-situ tersebut sebagai sarana rekreasi air seperti perahu bebek dan rakit wisata.

Di hari-hari libur banyak wisatawan yang datang dari berbagai belahan Indonesia. Bila dibandingkan dengan taman safari, Kebun Binatang Ragunan memang tidak luas. Namun dengan beragamnya binatang yang ada dan harga tiket masuk yang super murah, Rp.4.000, menarik minat wisatawan untuk menghabiskan masa-masa liburannya bersama binatang-binatang pavoritnya.

Semisal, wisatawan yang sangat menyukai ular, apalagi yang berukuran besar, dapat melihat dengan sepuasnya bahkan bisa berfoto bersamanya. Beberapa pemilik ular mendapatkan rejeki dari wisatawan dengan mengajak para wisatawan foto bersama ular. Harga yang ditawarkannya hanya Rp. 3000 dengan kamera sendiri dan Rp. 20.000 dengan kamera pemilik ular yang langsung jadi. Beberapa binatang lain yang bisa wisatawan naiki seperti Gajah, Onta, Kuda delman, dsb.

Kebun binatang Ragunan bisa menjadi salah satu tempat wisata yang recommended, khususnya untuk warga Jakarta sekitarnya, dan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya. Kamu-kamu yang ingin mengadakan acara reuni teman-teman sekolah, saya yakin kebun bintang ini merupakan tempat yang cocok.

Buat pasangan pengantin baru yang ingin berbulan madu namun belum dikaruniai uang yang cukup, Kebun Binatang Ragunan dijamin bisa memberikan kenangan pertama yang berkesan. Coba saja, begitu romatisnya bila pengantin baru naik gajah berdua sambil membayangkan naik gajah di Bangkok Thailand, atau naik onta berdua sambil membayangkan piramida Mesir, atau naik perahu perahu bebek di situ sambil membayangkan Bali, atau berfoto bersama ular sambil membayangkan sedang berada di hutan Amazon Brazil, atau naik delman berdua sambil membayangkan suasana di Malioboro Yogjakarta, atau mobil kereta keliling bersama wisatawan lain sambil membayangkan sedang naik trem di kota Amsterdam, atau nonton sirkus sambil membayangkan Disneyland Paris, atau lainnya. Hehe..

Wisatawan tidak akan merasa kesulitan untuk membeli makanan dan minuman, karena hampir di setiap sudut terdapat penjajak makanan. Harganya pun tidak jauh berbeda dengan yang di luar kebun binatang. Rasa aman dan nyaman pun akan terasa selama di dalamnya. Hanya saja permasalahan yang sering kali muncul di areal wisata Indonesia adalah masalah kebersihan. Di sana-sini terlihat sampah yang berserakan yang berasal dari sisa-sisa makanan, bahkan di rawa tempat tinggal sang buaya.

Sebagai warga Indonesia yang baik, seharusnya sisa-sisa makanan kita tidak dibuang di sembarang tempat. Buanglah di tempat yang telah tersedia. Itu sebagai wujud rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita hidup di dunia ini bersama alam, jadi janganlah sekali-kali kita menyakiti alam. Tahukah kamu, penyakit dan bencana yang seringkali kita lihat di televisi, bukankah itu karena kelalain kita sendiri?? Sepengetahuan saya, masyarakat Belanda (saat ini) akan merasa malu sekali apabila mereka membuang sampah sembarangan. Hal-hal yang melanggar aturan, menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Bagaimana dengan kita?? Semoga kita menjadi bagian masyarakat yang bertanggung jawab atas apa-apa yang kita lakukan.

Menteng Park, South Jakarta

 

Menghabiskan akhir pekan di Taman Menteng Jakarta mungkin ide yang pas buat para pecinta traveling maupun maniak fotografi. Selain tempatnya yang tertata rapih dan asri, terdapat lapangan basket dan play ground untuk anak-anak. Juga dilengkapi tempat parkir kendaraan, baik motor maupun mobil yang cukup luas di dalam sebuah gedung bertingkat. Rumah-rumah kaca turut menghiasi keindahan taman, walaupun di dalamnya kosong momplong. Tapi ingat gak, film Get Married yang pemeran utamanya Nirina, betewe rumah kaca itukan salah satu tempat shootingnya mereka loh. Yaudah, gak perlu ngebahas panjang lebar gituan deh hehe..

Konon, sebelum Taman Menteng itu ada, dahulunya merupakan lapangan sepak bola Menteng yang menjadi basecamp para pemain tim Persija. Namun dikarenakan pemanfaatannya sering menimbulkan masalah sosial seperti tawuran antar supporter dan secara fisik tidak tertata rapih, maka Pemda DKI mengalihfungsikan menjadi sebuah taman. Walaupun kala itu sempat menimbulkan polemik antara Menteri Pemuda dan Olah Raga, Adhyaksa Dault dengan Gubernur DKI saat itu, Sutiyoso. Tapi, yoweslah semua itu dah berlalu. Siapa yang punya jabatan tinggi dialah yang berkuasa menentukan segalanya.

Ngomong-ngomong tentang Taman Menteng, saya punya sedikit cerita sekaligus sebagai renungan.

Di sore hari itu, sekitar pukul 3 berdatanganlah para ABG-er dari berbagai penjuru. Umumnya mereka menggunakan sepeda motor, dan ingin menghabiskan waktunya untuk nongkrong-nongkrong sambil foto narsis, tak sedikit pula yang menghabiskan waktunya untuk mengumbar kata-kata lebay, “kamu cantik deh”, “dunia ini serasa milik kita berdua”, de el el, dan sebagian lain ingin berolah raga seperti main basket dan jogging.

Bila saya perhatikan dengan mata hati, ada yang tidak biasa di sana. Ketika saya sedang enak-enaknya duduk dan bersantai, tiba-tiba datanglah tamu tak diundang yang menawarkan kopi, susu, teh, bahkan minuman es. Yah..siapa lagi kalau bukan di pedagang keliling. Tapi bedanya dengan pedagang di tempat lain, mereka menggunakan sepeda lengkap dengan barang-barang dagangan dan selalu berputar-putar di sekitar taman. Setiap orang yang akan dihampiri dan ditawarkan minuman.

Hal yang menurutku unik adalah ada seorang pedagang yang berusia belasan tahun, mungkin sekiranya orangtuanya melihatnya akan mengatakan,”bukannya ngejual barang dagangannya malahan asyik-asyik main basket”. Awalnya sendirian namun lama-kelamaan bergabung dengan anak-anak lain yang memang sengaja ingin bermain basket.

Melihat hal seperti itu aku termenung sejenak, berpikir, selama aku hidup di Jakarta, aku sering merasakan kalau banyak di antara kita pernah  atau bahkan sering menjadi layaknya seorang raja yang dilayani dengan baik oleh para pembantunya.

Sebagaimana contohnya ketika kita berada di Taman Menteng, tanpa diperintah lagi salah seorang menawarkan minuman kepada kita (harus bayar). “Ngopi bos..?” atau whatever lah. Yang jelas, kita akan diperlakukan layaknya seorang raja. Namun sebenarnya kita menjadi raja di tengah keterpaksaan orang lain yang rela berlaku seperti pesuruh demi mencari sesuap nasi. “Kalo gak begini, gimana bisa makan dan nyekolahin anak”.

Seorang anak penjual minuman yang membiarkan barang dagangannya dan justru lebih memilih bermain basket, menunjukkan bahwa dia berdagang dan melayani orang lain karena keterpaksaan. Padahal dia ingin sekali seperti anak-anak lain yang menghabiskan akhir pekannya untuk berolahraga dan bermain bukannya untuk berdagang.

Sewaktu saya berada di Belanda. Rasanya cukup sulit untuk mendapatkan makanan maupun minuman, kecuali di toko-toko yang letaknya di centrum (pusat kota) atau di stasiun kereta api. Namun sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia, khususnya di Jakarta. Beberapa langkah dari pintu rumah saja sudah ada warung. Apalagi di tengah jalan, warung-warung kakilima sudah berserakan dimana-mana. Dan di tempat-tempat khusus, semisal taman, seharusnya sepi dari aktivitas jual beli, eh kok malah ramai dengan pedagang keliling. Kenapa bisa begitu?? Wah panjang deh ceritanya buat ngejelasin itu semua. Lain kali aja deh..

Hidup di Jakarta ini terkadang mengasyikkan, namun kalau dipikir-pikir, sebenarnya asyiknya kita itu di atas kesulitan dan keterpaksaan orang lain. Betul gak??

Jadilah orang yang banyak manfaatnya buat orang lain.

Terapi Sedot Lintah


Melihat ibuku yang sering mengeluh kakinya yang terasa perih, nyeri; lehernya yang sering kaku; seringnya badan tidak enak, lemas, pusing, melayang, membuatku berpikir-pikir mencari pengobatan alternatif yang alami dan sangat manjur.

Sebelumnya pernah beberapa kali berobat ke dokter dan meminum obat dari resep dokter A. Karena dianggap resep yang diberikan dokter A kurang pas, maka ibuku coba berobat ke dokter B dan diberikan resep baru. Namun begitulah, dianggap masih kurang pas juga coba beralih ke dokter C dan meminum obat yang diberikan. Alhamdulillah sembuh.

Setelah beberapa bulan kemudian, penyakitnya kambuh lagi. Menurut hasil pemeriksaan, kandungan asam urat dan diabetes ibuku lumayan tinggi. Sehingga itu yang menyebabkan ibuku seperti itu.

Telusur punya telusur via internet, aku menemukan informasi tentang adanya pengobatan alternatif sedot lintah yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumahku yakni di Bangka dekat Pancoran Jakarta. Lalu beberapa hari kemudian aku mengaja ibu untuk melakukan sedot darah dengan lintah. Alhamdulillah, kata ibuku dampaknya sangat terasa. Badannya yang sebelumnya kaku, tidak karuan, nyeri-nyeri panas di kaki dan leher telah hilang dan makan nasi menjadi lebih nikmat. Perubahan itu dirasakan sampai berbulan-bulan, tanpa minum obat apapun. Lalu setelah 2 bulanan, aku mengajaknya lagi untuk melakukan terapi sedot lintah yang kedua kalinya. Hasilnya, alhamdulillah sampai sekarang ibuku sehat wal ‘afiat.

Untuk mengetahui tentang apa itu lintah dan apa manfaatnya, aku coba mengutip beberapa sumber informasi yang menegaskan bahwa lintah merupakan binatang yang sangat bermanfaat bagi kesehatan kita.

The medicinal leech, as its name suggests, has historically been used for medicinal purposes, mainly to remove “bad blood” from the diseased. Around 1850 this practice fell into disrepute, but H. medicinalisis again becoming of value in medicinal practices. Today this species is used to relieve pressure and restore circulation in tissue grafts where blood accumulation is likely such as severed fingers and ears. The anticoagulant of leeches is also a fertile ground of research for surgeries in which an incision must be kept open. In addition, leech saliva is found to contain powerful antibiotics and anaesthetics which no doubt will prove useful in future medicinal practice (Sawyer, 1986). http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/accounts/information/Hirudo_medicinalis.html

Penyakit yang paling banyak disembuhkan dengan terapi lintah ini adalah penyakit jantung koroner, gagal jantung, kebocoran jantung, pembengkakan jantung dan migrain. Bapak Alie terapis lintah yang ditemui detikhealth, Minggu 12 Juli 2009 mengatakan “Lintah dapat meregenerasi syaraf yang mati sehingga terapi ini sangat bagus untuk mengobati penyakit syaraf dan kardiovaskuler, jadi tidak semua penyakit bisa sembuh dengan terapi lintah.” Lintah yang dipergunakan untuk terapi ini adalah lintah jenis Medicinalis yang berasal dari hutan atau sungai di daerah Aceh, karena di daerah tersebut lintah ini masih steril, sedangkan lintah yang terdapat di sawah ataupun lumpur sudah tidak steril lagi. Bisa juga menggunakan lintah Medicinalis yang telah diternakkan. http://www.jimmyzakaria.com/kesehatan/terapi-lintah-dapat-menyembuhkan-penyakit

Ancol Beach, Indonesia

 

Saya yakin semua warga Jakarta pasti mengetahui salah satu tempat wisata yang satu ini, sebut saja Taman Jaya Ancol. Sebuah tempat wisata yang yang dikelola oleh pemerintah DKI sebagai salah satu sumber pendapatan daerah maupun Negara. Lokasinya di pesisir utara DKI Jakarta dan berdampingan dengan Pelabuhan Tanjung Priok.

Pantai di sepanjang TIJ Ancol merupakan pantai landai yang didominasi oleh batuan pasir yang berwarna coklat kehitaman. Pantai tersebut merupakan muara dari sungai besar yang ada di tengah-tengah Jakarta yakni Ci Liwung. Sebagaimana yang kita ketahui, Ci Liwung dari segi kualitas airnya sungguh memprihatinkan. Warnanya yang hitam, bau yang sangat tidak sedap, dan banyak membawa sampah/endapan/sedimen yang berasal dari daerah hulu. Tentunya hal tersebut akan sangat mempengaruhi kualitas air laut di sekitar TIJ Ancol.

Memasuki kawasan TIJ Ancol sungguh terasa sejuk. Walaupun bau tidak sedap tercium hingga menusuk ke pangkal hidung. Bau-bauan tersebut berasal dari genangan-genangan air di setiap saluran air dengan warna yang hitam keruh. Namun angin laut tiada henti-hentinya membisikkan telinga dan nyiur melambai-lambai tanda ajakan kepada setiap pengunjung untuk segera mendekati pantainya.

Dengan biaya sebesar Rp.13.000 rupiah pengunjung bisa memasuki kawasan wisata tersebut. Biaya tersebut tidak termasuk tempat-tempat wisata seperti Sea World, Atlantis, dsb. Di dalamnya setiap pengunjung akan mendapatkan fasilitas wisata gratis seperti bus wisata yang berhenti di setiap shelter yang tersedia, bermain air di pantai walaupun air lautnya keruh dan tidak sebersih Pelabuhan Ratu, parkir kendaraan gratis tapi hati-hati dengan helm motor Anda, WC umum yang lumayan bersih tapi sayang jumlahnya kurang memadai dan terkadang airnya habis, dan biasanya ada hiburan musik di Pantai Indah (dekat Dufan) seperti dangdutan dan musik band.

Bila cuaca tidak hujan, suasananya akan sangat romantis. Semilir angin yang bergerak tiada henti sehingga ombak pantai pun turut berlarian kian kemari. Sebagian besar sepanjang tepi pantainya sudah dibuat tanggul buatan dari bebatuan yang ditumpuk, namun ada beberapa bagian yang tidak ditanggul yang sengaja dibuat untuk sarana bermain pasir dan berbasah-basahan. Pengunjung yang sudah tidak bersabar untuk bermain air laut, akhirnya basah juga. Pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih, hanyut dalam buaian angin laut (awas banyak syetan). Sebuah keluarga bahagia tengah duduk asik di atas bebatuan besar sambil mengulurkan kail pancingnya ke laut. Beberapa orang sedang jogging dengan earphone di telinganya. Sesekali pasangan expatriat berlalu lalang sehingga menambah kekhasan wisatanya. Menghabiskan waktu di tepi pantai untuk membaca buku dan merenung rupanya dilakukan juga oleh beberapa orang guna mendapatkan inspirasi dan spirit baru.

Bila objek wisata pantai tersebut dirasa monoton, pengunjung bisa beranjak ke tempat yang lebih menarik lainnya seperti naik perahu kayu seharga Rp. 10.000, atau pergi ke Gelanggang Samudera, Taman Lumba-lumba,Sea World, Gelanggang Renang Atlantis, Taman Anaik-anak, Putri Duyung Cottage, Ancol Glof Course maupun Dunia Fantasi. Tempat-tempat tersebut dapat pengunjung nikmati asalkan harus merogoh kocek yang dalam terlebih dahulu (hehe…).

Taman Mini Indonesia Indah (TMII), East Jakarta

Alhamdulillah..rumah saya tidak begitu jauh dengan tempat wisata yang sangat terkenal di Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Konon dosen saya pernah bercerita, di era Orde Baru sebelum krisis moneter, banyak turis asing yang berkunjung ke Jakarta untuk mengenal Indonesia dari dekat. Biasanya paket yang ditawarkan adalah di pagi hari ke TMII dan sore harinya ke pantai Ancol sekitarnya. Kenapa demikian? Katanya, kalau pagi harinya ke pantai Ancol kemudian sore harinya ke TMII, bisa-bisa turis-turis asing itu akan kapok untuk datang ke Indonesia lagi. Itu dikarenakan pemandangan pantai Ancol di pagi hari dipenuhi dengan sampah dan bau-bauan yang super tidak sedap (silakan dicoba), dan di siang/sore hari panas matahari sungguh akan melelehkan kulit kita apabila kita berada di areal TMII. Jadi, buat kamu-kamu yang mau jalan-jalan ke TMII, sebaiknya harus sudah direncanakan matang-matang mengenai waktu (timing) tempat-tempat yang akan dikunjungi selama di dalam areal TMII.

Kembali ke topik utama..

Buat para pecinta olah raga pagi, TMII merupakan tempat olah raga yang sangat tepat. Jauhnya dari lalu lintah kendaraan umum, hijaunya pepohonan yang menghiasi di setiap sudut tempat, penuh dengan warna dan aroma, dikelilingi oleh bangunan-bangunan unik, khas, cantik, mempesona, elok, anggun, dan tertata rapih. Udara yang tidak terlalu dingin yang sangat segar berhembus membelai tubuh dan rambut setiap pecinta olah raga. Kabut tipis yang menampakkan dirinya di atas danau buatan yang memanjang di bagian tengah TMII turut menghiasi pandangan sepasang bola mata.

Lekas subuh, berduyun-duyunlah para pecinta olah raga mulai dari balita, anak-anak, remaja, hingga kakek dan nenek memasuki pintu utama TMII, baik itu pintu I, II, maupun III. Dengan merogoh kocek yang murah Rp. 6.000, pecinta olah raga bisa masuk dan menikmati apa saja yang sudah tersedia di areal TMII. Asalkan sebelum jam 7 pagi.

Biasanya para pecinta olah raga melakukan joging bersama mengelilingi danau buatan yang di dalamnya terdapat pulau-pulau Indonesia, sebagian lainnya melakukan senam porpi maupun aerobik, sebagian lainnya yang sambil membawa anak dan keluarga melakukan olah raga sendiri di tempat-tempat yang mereka sukai misalnya di halaman rumah-rumah adat Indonesia, atau pun di halaman museum-museum.

Selepas berolah raga, orang-orang akan menuju pasar kaget pagi yang sudah stand-by di dekat pintu-pintu masuk/keluar. Badan kita bisa di-charge lagi dengan berbagai makanan dan minuman yang dijual bebas, mulai dari bubur ayam, aneka roti, aneka soto, ketoprak, bakso, aneka nasi, buah-buahan, sayur-mayur, perlatan rumah tangga, hingga aneka minuman.

Bagi saya, berada di dalam areal TMII amat sayang untuk dilewatkan tanpa hunting foto. Bergegaslah saya menuju tempat-tempat khas dan unik seperti rumah-rumah adat, museum, taman burung, istana anak-anak, keong mas, dan tugu TMII yang berlokasi di bagian barat sambil menggenggam sebuah kamera saku merek BenQ dengan resolusi 6 megapixel. Walaupun belum memiliki kamera DSLR, kamera saku saya telah menjadi teman setia di setiap tempat yang saya kunjungi. Mungkin dari pembaca ada yang ingin menghadiahkan saya sebuah kamera DSLR, ribuan terima kasih akan saya ucapkan, hehe…

WISATA KOTA TUA JAKARTA

“Neng neng neng….” suara itu berbunyi berulang kali membuat aku bergegas menuju loket karcis stasiun kereta api Pondok Cina Depok. Suara itu menandakan bahwa kereta api akan segera tiba di stasiun. Setibanya aku di stasiun itu, waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, aku bertemu dengan temanku, Novan, yang akan pergi menemaniku. Ketika kereta api ekonomi tiba di stasiun, kami segera menaikinya dengan penuh kehati-hatian. Penuh dan ramai. Itulah suasana yang kami rasakan saat berada di dalam kereta api. Walaupun hari itu adalah hari Minggu, ternyata tidak menurunkan gairah masyarakat untuk bepergian dengan kereta api.

Kurang dari sejam, kami pun tiba di stasiun Kota. Legalah hati kami karena bagaimanapun setelah keluar dari pintu kereta api, berarti telah terbebas dari sesaknya tempat, pengapnya udara, ramainya suara pedagang eceran, bahkan terbebasnya diri dari lirikan mata-mata jahat dan manuver tangan-tangan jahil. Begitulah kondisinya manakala kami menaiki kereta api ekonomi jurusan Bogor-Kota. Bagaimana tidak ramai, loh wong harga tiketnya saja cuma Rp 1.500, apalagi gratis buat para pedgang sehingga mereka menggantungkan hidupnya pada kereta api. Aku dan Novan tidak banyak membuang-buang waktu untuk mendiskusikan hal itu, karena sudah menjadi pemandangan sehari-hari, terlebih bagi Novan yang setiap hari menaiki kereta api itu. Jadi sudah menjadi maklum bahwa inilah kondisi negeri kami, Indonesia. Kami pun berjalan menuju pintu keluar stasiun Kota.

Museum Bank Mandiri

Tepat di sebelah barat stasiunKota, terlihat dengan jelas gedung kuno, Museum Bank Mandiri. Lalu lalang mobil, bus, dan motor membuat kami ragu untuk menyeberangi jalan raya itu, karena di lokasi tersebut tidak ada fasilitas penyeberangan. Namun bagaimanapun juga kami harus bisa. Lalu menyeberanglah kami dengan penuh hati-hati.

Sesampainya di depan pintu masuk Museum Bank Mandiri kami bertemu dengan salah seorang petugas keamanan, satpam. Kami diarahkan untuk melakukan registrasi terlebih dahulu di bagian penerima tamu. Hanya dengan menunjukkan kartu tanda mahasiswa (KTM) atau kartu ATM Mandiri, kami bisa langsung menikmati suasana kuno tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Kuno. Yah begitulah nuansa yang kami rasakan saat memasuki ruangan satu demi satu. Kami cukup dibuat penasaran dengan isi museum itu. Namanya juga museum bank, makanya barang-barang kuno yang dipamerkannya adalah barang-barang yang digunakan untuk keperluan bank seperti ruang kluis yakni sebuah ruangan yang dibangun dengan konstruksi dari baja yang berfungsi untuk menyimpan uang kas dan surat-surat berharga. Di dalam ruang kluis ini terdapat koleksi brandkast yang berjumlah 31 buah dari berbagai merk. Di ruang lainnya terdapat mesin branch seminar yang digunakan sebagai transaksi di teller menggunakan kartu microchip; perforator; stempel bank; mesin teleprinter; mesin ketik; dan ada banyak yang lainnya. Sesuatu yang menarik yakni adanya sepeda kuno yang dapat kami naiki walaupun hanya di tempat sambil berfoto-foto ria.

Museum Bank Indonesia

Lokasinya bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri, tepatnya di sebelah utaranya. Kami hanya berjalan sebentar, tibalah di depan Museum Bank Indonesia (MBI). Dari luar memang nampak seperti bangunan tua dan kuno, namun saat kami coba memasuki gedung itu, ternyata ada suasana yang berbeda seperti museum sebelumnya. Megah dan antic. Megah, layaknya hotel berbintang. Karena saat kami memasuki gedung tersebut, pintu masuknya terbuat dari kaca dengan system buka tutup otomatis (menggunakan sensor), arsitektur interior bangunannya cukup modern. Ada dua orang penerima tamu layaknya kami sedang bertemu dengan customer service bank yang sesuangguhnya.

Konon menurut sejarahnya, gedung tua tersebut merupakan peninggalan dari De Javasche Bank, yang kemudian dimanfaatkan menjadi kantor Bank Indonesia sejak tahun 1953. Namun sudah lama sudah tidak digunakan lagi. Gedung tersebut merupakan gedung bersejarah dan terancam punah. Oleh karenanya, pemerintah menetapkannya sebagai bangunan cagar alam.

Guna memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai fungsi dan peran Bank Indonesia mulai dari awal berdirinya, maka benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah terkait dengan kegiatan Bank Indonesia di masa lampau dirawat dan dikelola.

Setelah gedung tersebut ditetapkan sebagai bangunan bersejarah MBI, maka dilakukanlah renovasi bangunan termasuk bagian interiornya. Hasilnya sangat mengagumkan. Pada tanggal 15 Desember 2006 lalu, telah dilakukan pembukaan museum. Ada sebuah perubahan yang tadinya terkesan kuno, tradional, pengap, dan berdebu, kini gedung tersebut telah disulap menjadi Museum Bank Indonesia dengan nuansa yang modern, ber-AC alias dingin, bersih, penuh warna, unik tanpa menghilangkan nilai-nilai historisnya.

Tanpa banyak berpikir lagi, kami coba memasuki ruangan satu demi satu. Dimulai dari Ruang Peralihan, di dalamnya kami dapat menikmati atraksi permainan interaktif memalui proyektor khusus seperti mata uang yang melayang dan memberikan informasi ketika kami ‘manangkap’ salah satu mata uang tersebut; Ruang Teater yang di dalamnya akan diputar film sejarah Bank Indonesia; Ruang Sejarah Pra-Bank Indonesia didalamnya terdapat peta kuno pada dinding, panel perdagangan, panel static dan plasma TV yang memutarkan film-film sejarah; Ruang Sejarah Bank Indonesia  yang di dalamnya terdapat banyak panel yang menceritakan sejarah Bank Indonesia sejak tahun 1953 hingga tahun 2005; Ruang Numismatik yang berisikan sejarah uang di Indonesia yang ditampilkan dalam berbagai jenis uang unik; terakhir adalah ruang auditorium yang digunakan untuk menyelenggarakan seminar atau diskusi ilmiah.

Wah, kami benar-benar puas menikmati MBI. Mungkin apabila museum-museum yang ada di Indonesia dibuat seperti MBI, minat masyarakat untuk mengunjungi museum akan meningkat. Apalagi tidak dipungut biaya sepeser pun.

Museum Fatahillah

Waktu sudah semakin sore, kami bergegas menuju museum lainnya yang sangat terkenal dan sudah lama berdiri, yakni Museum Fatahillah.

Museum ini sudah lama dikenal dengan nama Museum Fatahillah, namun saat ini pemerintah menamakannya Museum Sejarah Jakarta. Lokasinya di sebelah utara MBI, dan untuk mencapainya, kami cukup berjalan kaki beberapa menit. Di sekitar Museum Fatahillah terdapat bangunan kuno lainnya yang tidak dimanfaatkan lagi. Dahulunya bangunan tersebut merupakan kantor dagang, seperti PT. Kerta Niaga yang kini kosong dan terkesan angker.

Berikut ini sejarah singkat mengenai Kota Jakarta yang informasinya berhasil kami dapatkan.

Zaman prasejarah wilayah Jakarta dan sekitarnya (3000 SM-500 M)

Daerah Jakarta dan sekitarnya (Jabotabek) merupakan daerah endapan alluvial yang tebentuk sejak 5000 tahun yang lalu. Di atas daerah endapan alluvial yang subur ini tersebar sekitar seratus buah situs prasejarah yang meninggalkan ribuan temuan artefak ini membuktikan pula bahwa pada zaman prasejarah di daerah ini telah terdapat tempat-tempat permukiman penduduk. Sebagian besar situs prasejarah di daerah Jakarta dan sekitarnya terletak di daerah aliran sungai. Situs-situs permukiman prasejarah ini dapat dikelompokkan menjadi:

A)    situs-situs Masa Bercocok Tanam (3000-1000 SM)  yang terutama menghasilkan alat batu neolitik, dan

B)    situs-situs Masa Perundagian (1000 SM-500 M) yang terutama menghasilkan alat-alat logam (perunggu dan besi).

Beberapa tempat permukiman merupakan pula pusat-pusat kegiatan industri (perbengkelan). Situs Kelapadua merupakan sebuah contoh situs perbengkelan neolitik yangmenghasilkan alat-alat berupa beliung persegi yang diupam. Daaerah Buni, Bekasi, merupakan situs perbengkelan pusat pembuatan benda-benda gerabah. Sedangkan situs Pejaten, Pasarminggu, merupakan sebuah situs perbengkelan logam yang terutama menghasilkan kapak perunggu.

Tatanan kehidupan berbudaya masyarakat prasejarah di daerah Jakarta dan sekitarnya tampak telah memberikan landasan dan peranan yang penting ketika proses akulturasi antara unsur-unsur kebudayaan setempat dan unsur-unsur kebudayaan luar (khususnya kebudayaan India) berlangsung di daerah ini.

Jelaskan informasinya….sampai jumpa lagi.