Why did I choose Jeddah as my study’s destination (Seri 2)

Kenapa saya pilih KAU? Setelah check and re-check masing-masing universitas, ternyata bidang ilmu yang saya inginin itu cuma ada di KAU aja, Hydrology and Water Resource Management. Itu bikin saya lebih cepat ambil keputusan karena gak banyak pilihan. Saya yakin Allah telah kasih jalan buat saya buat bisa kuliah di universitas yang jaraknya gak jauh dari Mekkah (70 kiloan) maupun Madinah (350 kiloan), juga termasuk jajaran universitas populer di Saudi Arabia, bahkan di Timur Tengah, menurut salah satu website.

Keesokan harinya, saya langsung ngontak salah seorang dosen via email yang sekaligus sebagai sekretaris departemen Geografi FMIPA UI, namanya Dr. Rokhmatulloh yang akrab dipanggil dengan Mas Rohmat, untuk kasih kabar tentang beasiswa S2 di KAU beserta persyaratan yang dibutuhin. Alhamdulillah senangnya bukan main, respon beliau positif dan mau membantu nyiapin surat rekomendasi (recommendation letters) dari tiga orang dosen. Thanks a lot Mas Rohmat yang pernah kuliah S2 dan S3 di Jepang, semoga kebaikannya diganjar Allah sama kebaikan yang lebih besar lagi.

Cihuy..

Kurang lebih setelah sepekan lamanya, Mas Rohmat mengirimi saya 3 buah surat rekomendasi via email. Itu membuat semangat menggelora untuk meng-apply dokumen persyaratan ke KAU sesegera mungkin.

Gak pake lama lagi, besok harinya saya apply dokumen-dokumen itu ke alamat email profesor yang tertulis, Prof. Amro Elfeki. Pake segala jurus dan doa supaya bisa diterima. Dan beruntungnya saya, proses seleksi itu gak pake tes wawancara dulu, jadi udah seperti jalan tol aja, bablas lancar. Dan setelah sekitar sebulan lamanya menunggu, akhirnya ada respon begini,

Dear Kuswantoro,

I would like to inform you that you are accepted from the department council, and your papers has been submitted to the board of the university for final acceptance. I will let you know any further details.

Amro

Alhamdulillaaah.. sujud syukur sebagai tanda terima kasih dan senang yang tak terhingga atas semua yang Allah kasih. Rasanya bagaikan ada di samping bidadari yang cantik di tengah-tengah taman bunga nan indah. Pingin rasanya memeluknya hehe,,

Dan pada saat itu, saya masih di Belanda dengan segala kesibukan kuliah dan tugas laboratorium yang gak ada henti-hentinya. Tepatnya di bulan ketiga. Tapi, dengan diterimanya saya di sebagai calon mahasiswa S2 Saudi Arabia, gak ngurangi semangat kuliah saya di fakultas ITC, Universitas Twente, Belanda. Dan saya belum mau kasih kabar ke keluarga yang ada di rumah, tunggu tanggal mainnya aja nanti kalau sudah tiba di Jakarta.

Mimpi oh mimpi.. Apakah saya lagi bermimpi atau ini realita?

Mekkah dengan Masjidil Haram-nya dan Madinah dengan Masjidun Nabawi-nya seakan-akan sudah ada di depan mata saya. Pingin rasanya cepat-cepat meninggalkan Kota Enschede dan buruan masuk Jeddah. Tapi, pertanyaannya adalah apakah gampang masuk Saudi Arabia?? Tunggu cerita selanjutnya di postingan yang akan datang yah guys..

Advertisements

Why did I choose Jeddah as my study’s destination (Seri 1)

Seri 1:

Kegundahan selama berada di Belanda saya rasakan saat menjalani summer course. Gundah bukan karena jauh dari keluarga. Of course, pasti kangenlah sama keluarga di rumah. Tapi bukan itu penyebab utama kegundahan saya. Tau kan gimana suasana kehidupan di Belanda yang liberal dan benar-benar bebas dari aturan agama.  Mungkin buat teman-teman lain itu gak masalah, tapi buat saya itu benar-benar cukup mengganggu stabilitas keimanan, maklum aja iman saya sangat rapuh hehe.. Terlebih, saya masih single, gak ada orang yang bisa ngejaga saya. Saya khawatir iman saya tergadaikan dengan kenikmatan dunia sesaat itu. Bukannya sok suci yah, tapi memang itu yang benar-benar saya rasakan saat itu.

Beberapa bulan menjalani summer course saya punya keinginan untuk bisa berkuliah di tempat yang dekat dengan kota Suci Mekkah maupun Madinah. Karena dengan begitu masa-masa single saya itu bisa dihabiskan selain untuk belajar juga untuk ibadah supaya lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Keinginan itu setiap saat saya curhatin di hadapan Sang Khalik terutama di setiap sujud lima waktu.

Pada suatu malam, saya mencoba mengetuk pintu Om Google untuk bertanya mengenai informasi beasiswa master yang ada di Saudi Arabia. Awalnya saya lihat terlebih dulu nama-nama universitas teratas yang ada di Saudi Arabia. Setelah klik, keluarlah beberapa nama, antara lain King Abdullah University Science and Technology (KAUST), King Fahd University Petroleum and Mineralogy (KFUPM), King Saud University (KSU), Ummul Quro University (UQU),  dan terakhir adalah King Abdulaziz University (KAU). Satu persatu saya cari tahu mengenai lokasinya, setelah itu saya coba search menggunakan kata kunci nama universitas dan gak lupa kata ‘scholarships’. Muncullah beberapa website tentang beasiswa master, tapi masih terlalu umum. Sehingga saya coba mempertajam pencarian dengan menggunakan kata kunci “Water Resource Management Scholarships King Abdulaziz 2010”, dengan akses internet yang begitu cepat di hotel mahasiswa itu sehingga setelah saya enter muncullah website yang benar-benar saya inginkan.

Om Google mengatakan bahwa ada lowongan beasiswa di King Abdulaziz University (KAU) yang berlokasi di Jeddah untuk bidang Water Resource Management tahun ajaran 2009/2010. Wow, alhamdulillah,, bukan main senangnya hati saya, gak sia-sia malam-malam bangun hanya buat tanya Om Google aja.

Kenapa saya lebih memilih KAU daripada kampus lainnya? Nantikan pada postingan selanjutnya ya guys,,