Sukses Menghadapi Ujian Nasional*

Oleh: Kuswantoro

Artikel ini (akan) dipublikasikan di Majalah Pena, Riyadh, Arab Saudi.

 —

Bagi para pembaca yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah tingkat akhir, pastinya sudah tahu bahwa sebentar lagi Ujian Nasional (UN) akan dilangsungkan. UN bakal digelar usai pemilihan umum (pemilu), tepatnya mulai 14 April 2014 pada tingkat SMA/SMK/MA dan SMALB. Kemudian disusul UN SMP/MTs dan SMPLB pada 5 Mei 2014.

Pertanyaan adalah mengapa siswa/i harus mengikuti UN? Tentunya, hal itu dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional. Sebagaimana yang termaktub dalam UU No. 3 tahun 2003 tentang Sisdiknas, khususnya bab XVI tentang evaluasi dimana pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki kewajiban dalam melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan jalur, jejang dan jenis pendidikan.

Hingga saat ini UN menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan siswa dan kesuksesan guru mengajar. Meskipun sebagian kalangan berpendapat tidak demikian. Mereka berpendapat bahwa yang menjadi tolok ukur keberhasilannya adalah nilai-nilai akhlak dan karakter yang baik dari seorang anak. Dengan kata lain bahwa masyarakat akan melihat perilaku seorang anak, bukan melihat nilai di sekolahnya. Jadi, meskipun seorang anak itu memiliki nilai ujian yang bagus tanpa diimbangi dengan perangai yang baik, maka itu sama saja dengan nihil.

Sebagai seorang siswa/i, tidaklah perlu memusingkan diri dengan pro dan kontra tentang pelaksanaan UN. Biarlah para pemerhati pendidikan dan pemerintah yang menanganinya dalam upaya mencerdaskan generasi penerus bangsa. Tugas utama seorang siswa/i dalam hal ini adalah mempersiapkan datangnya UN sebaik mungkin. Agar kelak tidak menyesal di kemudian hari.

Untuk itu, penulis ingin berbagi kiat sukses dalam menghadapi UN sebagaimana berikut ini:

1. Mantapkan niat

Niat adalah kekuatan pertama seseorang dalam melakukan sesuatu. Niat yang kuat akan menjadikan seseorang mampu melewati setiap rintangan. Niat yang mantap akan mengubah sesuatu yang awalnya sulit menjadi mudah.

2. Meminta doa kepada orang tua dan keluarga

Ketika seorang anak meminta doa kepada orang tua dan keluarga, berarti ia telah memberitahukan bahwa UN akan tiba. Pastinya, orang tua tersebut akan merasa senang memiliki anak seperti itu, sehingga dengan ikhlas mereka akan memaafkan segala kesalahan dan mendoakan dengan kesungguhkan demi kesuksesan anaknya. Dengan begitu kesuksesan itu akan mudah diraih.

3. Berdoa dan tingkatkan ibadah

Jika seseorang mendekat kepada Allah sejengkal maka Allah mendekat kepadanya sehasta. Jika seseorang mendekat kepada Allah sehasta maka Allah mendekat kepadanya sedepa. Jika seseorang datang kepada Allah dengan berjalan maka Allah datang kepadanya dengan berlari-lari kecil. Dengan kata lain bahwa bila seorang siswa/i ingin sukses dalam menghadapi UN, maka perbanyaklah berdoa dan tingkatkan ibadah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.

4. Mengatur waktu belajar

Setidaknya dua bulan sebelum hari ujian, seorang siswa/i sudah membuat jadwal waktu belajar yang tepat. Kurangi waktu bermain dan menghabiskan waktu yang tak berguna. Namun bukan berarti tidak memiliki waktu untuk bersantai. Akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk rileks dan santai. Selebihnya, seorang siswa/i harus konsisten dengan jadwal waktu belajarnya.

5. Belajar yang smart

Belajar yang smart bagi setiap orang akan berbeda metodenya. Ada yang tipe pendengar sehingga ia lebih mudah menangkap isi buku setelah mendengarkan dari seseorang atau dengan media elektronik. Ada pula yang tipe pembaca, dan ada pula yang tipe penulis. Hal ini semestinya disesuaikan dengan karakter masing-masing orang.

6. Mengikuti les atau pendalaman materi

Kegiatan les atau pendalaman materi adalah hal yang dapat menunjang kepahaman seorang siswa/i. Karena sebagian besar waktunya dipergunakan hanya untuk beberapa materi yang akan diujikan. Sehingga diharapkan siwa/i tersebut akan lebih menguasai.

7. Menenangkan pikiran sehari menjelang ujian

Sehari menjelang ujian, sebaiknya seorang siswa/i tersebut tidak disibukkan dengan setumpuk buku yang harus dibaca bahkan dihapalkan. Karena bila itu terjadi, maka rasa stress akan bertambah. Pikiran pun menjadi tidak tenang. Namun untuk bisa melakukan kiat ini, seorang siswa/i harus melaksakan penjadwalan waktu belajar yang tepat terlebih dahulu.

8. Fokus dalam mengerjakan soal-soal ujian

Pada saat hari H, upayakan tidak terlambat hadir di tempat ujian. Agar pikiran kita tak terganggu dengan kondisi fisik yang lelah dan tergesa-gesa. Apalagi ditambah dengan rasa malu karena keterlambatannya disaksikan oleh guru maupun teman-temannya.

9. Optimis sukses UN

Kiat terakhir adalah optimis lulus UN. Apapun kondisinya, yakinlah bahwa kita akan sukses melewati UN dengan hasil yang baik. Selanjutnya adalah pasrah kepada Allah atas segala usaha yang telah dilakukan.

Sumber gambar: soal-un-sma.blogspot.com

Sumber gambar: soal-un-sma.blogspot.com

***sekian***

//

Advertisements

Tamparan Habibie Buat Bangsa Indonesia (Repost)

Repost
2429978_20130225100910

Sudah membaca buku kisah “Ainun dan Habibie” atau bahkan sudah menonton filmnya? Mungkin kebanyakan anda lebih tertarik dan tersentuh dengan kisah romantis kesetiaan sepasang suami istri, namun justru yang saya rasakan di sepanjang tulisan dalam buku dan film, adalah sebuah pertunjukan “peperangan” dari seorang anak bangsa kepada kebijakan pemerintahnya yang tidak berdaulat dan “tamparan” bagi budaya bangsanya yang tidak mandiri di atas tanah airnya sendiri.

TS contoh-kan, bagaimana tidak mandirinya indonesia yg menjadi budak ditanah airnya sendiri.

2429978_20130330052046

Pada paruh tahun 80an akhir, sosok Habibie menjelma menjadi idola dan simbol sosok intelektual yang shalih. Seorang intelektual yang mumpuni diakui dunia barat, yang secara material sudah kaya karena royalti dari rancangan sayap pesawat terbang yang terus mengalir seumur hidup, dan digambarkan sebagai sosok yang taat dan rajin beribadah, bahkan tidak pernah meninggalkan puasa sunnah hari Senin dan Kamis.

Pada masanya bahkan masih sampai kini, sosok ini menjadi model bagi banyak sekolah dan lembaga pendidikan Islam, dengan jargon “mencetak cendekiawan yang berotak Jerman dan berhati Mekkah”. Beberapa pihak bahkan menyebut sekolahnya sebagai lembaga yang mencetak Ulil Albab. Bisa jadi karena sedikit banyak sosok Habibie waktu masa itu dianggap pantas sebagai model Ulil Albab dalam perspektif cendekiawan.

Begitulah, “ruh intelektual” dari sosok Habibie nampaknya lebih kental dikenal dari “ruh pejuang”. Makna Ulil Albab pun menyempit menjadi makna seorang cendekiawan pandai yang memiliki kesalihan personal.

Efeknya adalah lahirlah konsep2 pendidikan Islam yang berupaya memadukan kedua sisi itu dengan nama “IMTAQ dan IPTEK”, dengan ciri khas bergedung hebat, berorientasi mecusuar dan elitis alias terpisah dari masyarakatnya, sebagaimana pusat menara gading para intelektual.
Logo_manic

1
Apa yang salah? Mungkin tiada yang salah, namun yang kurang adalah memunculkan “ruh perlawanan” untuk membebaskan bangsanya dari penindasan bangsa lain dan memperjuangkannya menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri. Sesungguhnya itulah esensi semangat dari Habibie muda.

Benarkah Habibie hanya seorang Intelektual atau Cendekiawan saja?

Sejak menginjakkan kaki di Jerman, yang ada di kepala Habibie adalah membuat pesawat untuk Indonesia, untuk mensejahterakan bangsanya, untuk keadilan sosial di negerinya. Hanya itu! Bukan sebagaimana cita2 para mahasiswa hasil gemblengan pendidikan berorientasi kelas pekerja, yaitu bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar.

Habibie muda sadar dengan potensinya di masa depan. Ia mendatangi pemerintah dan menawarkan untuk membangun Industri Pesawat sendiri. Mental demikian mustahil lahir dari jiwa2 yang tidak merdeka dan tidak mencintai Indonesia.

Soekarno dan pemerintahannya tidak mendengar jelas suara itu. Maka, habibie muda melakukan perlawanan. Ia bekerja di negeri Jerman, hasil karyanya begitu dihargai. Bahkan sindiran2 tentang Indonesia, seakan sirna dengan karya-karya yang dibuat oleh Habibie.

2429978_20130813081231

Dikisahkan, kritik terhadap permainan Korupsi terlihat. Bagaimana mudahnya cara-cara tender kotor sering dilakukan. Habibie mengkritik itu semua. Siapa yang tidak tahu semua Partai dan Pengusaha menghalalkan konspirasi tender proyek pemerintahan untuk logistik pemilu mereka.

Jujur, Indonesia tidak pernah kekurangan para Teknokrat yang memiliki kapasitas keilmuan di atas teknokrat barat. Indonesia memliki pula para Politikus ulung yang bersahaja, taqwa bahkan jenius dalam membuat kebijakan pro-rakyat. Indonesia memiliki para ahli kesehatan yang sangat konsen dalam menyelesaikan krisis kesehatan dan penyakit. Bahkan, bila diberikan keleluasaan dan peluang bisa jadi Obat HIV/AIDS itu dapat ditemukan.

Potensi Indonesia ini begitu besar. Sangat besar sebesar luasnya wilayah teritorial Indonesia. Inilah pentingnya ruh perjuangan dan pembebasan atas penindasan dan penguatan kemandirian bangsa ditanamkan di sekolah-sekolah. Lihatlah bagaimana ruh intelektual berpadu dengan ruh pembebasan atas penindasan ini nampak pada sosok HOS Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, Ki Hadjar Dewantoro, M. Hatta, Kartini dsb.

Alangkah jahatnya (bukan lucunya) para pemimpin negeri ini. Mereka kurang bersahabat dengan nurani dan tidak mensyukuri karunia ilahi atas Indonesia. Politik kotor telah jadi kebiasaan dan dihalalkan atas nama kepentingan kelompok. NeoKapitalisme telah subur dan mencengkram. Diperparah oleh sekolah dan lembaga pendidikan yang hanya berorientasi melahirkan intelektual atau kelas pekerja. Padahal sejatinya pendidikan melahirkan jiwa-jiwa pembebas penindasan negeri ini melalui beragam potensi yang dimiliki anak-anak Indonesia, teknologi adalah salah satunya.

Alhasil, sampai kapanpun maka Indonesia akan jalan ditempat. Kita tidak sekedar butuh banyak habibie baru, tetapi mereka yang berani berkata benar, memberikan kemampuannya dengan keseriusan dalam membangun negeri, dan tentu negeri yang besar tidak akan melupakan Tuhannya. Maka, sepatutnya lahir para birokrat, politikus, teknokrat, ilmuwan dan akademisi serta kaum muda yang mau berjuang untuk membebaskan negeri ini karena Allah SWT

Lihatlah bagaimana Habibie dengan kecintaannya pada Technology berhasil memadukannya dengan kecintaan pada Indonesia, kecintaan pada bangsa Indonesia dan kecintaan pada keluarganya. Semuanya adalah karunia Allah swt yang mesti disyukuri secara terpadu dengan perjuangan sampai mati. Bukan kecintaan pada kelompok dan golongan, dengan mengatasnamakan cinta pada Indonesia.

Kita semua yang masih mencintai negeri ini tentu merasa sedih dan terpukul ketika menyaksikan Habibie ditemani Ainun masuk ke dalam hanggar pesawat di PTDI, menyaksikan pesawat CN235. karya anak bangsa yang diperjuangkan dengan jiwa dan raga, teronggok bagai besi tua. Tiada yang berteriak membela, tiada yang peduli. Semua bungkam masa bodoh. Sambil memegang tangan Ainun, Habibie berkata: “Maafkan aku untuk waktu-waktu mu dan anak-anak yang telah kuambil demi cita-cita ini”

35701_620

Sesungguhnya kita tidak sedang menangisi Habibie, tetapi sesungguhnya kita seolah sedang ditampar oleh Habibie, kita sedang menangisi diri sendiri, menangisi ketidakmampuan kita untuk menjadi seperti Habibie atau membuat pendidikan yang banyak melahirkan Habibie.

Menjadi seperti Habibie, bukan untuk menjadi intelektual seperti Beliau, namun untuk memiliki cinta murni yang sama, yaitu Cinta pada potensi unik pribadi kita, Cinta pada Bangsa ini, Cinta pada Alam Indonesia, Cinta pada Keluarga, Cinta pada Allah Swt, Cinta pada semua karunia yang ada lalu kemudian memadukannya dalam Perjuangan di Jalan Allah untuk membebaskan bangsa dan manusia demi Peradaban yang lebih adil dan damai. Habibie menyebutnya keterpaduan ini dengan Manunggal.

Habibie berkata:
”Manunggal adalah ”Compatible” atau kesesuaian, Karena dalam cinta sejati terdapat empat elemen berupa, Cinta yang mumi, cinta yang suci, cinta yang sejati dan cinta yang sempurna”

800px-TNI-AU_Airtech_CN-235_MPA_Persuader_Pichugin

Kalau memang inspiratif, jangan segan-segan untuk men-SHARE ya.. Trims.

Sumber:

http://www.kaskus.co.id/thread/511a20e0601243d127000008/tamparan-habibie-buat-bangsa-indonesia–nyesek-ane-bacanya/

Sebotol Air Minum di Arab Saudi*

Oleh Kuswantoro van Marco**
Negeri Arab Saudi yang sebagian besar merupakan padan pasir tandus dan bukit bebatuan.

Negeri Arab Saudi yang sebagian besar merupakan padang pasir tandus dan bukit bebatuan.

Arab Saudi (KSA) merupakan salah satu negara termiskin akan ketersediaan sumber daya airnya. Sebagian besar bentang alamnya berupa padang pasir yang tandus dan sebagian permukaan lainnya berupa batuan keras yang sulit ditembus oleh air maupun vegetasi. Iklimnya sangat kering (arid). Curah hujan rata-rata tahunannya hanya 90 mm dan jumlah hari hujannya kurang dari 20 hari dalam setahun [1]. Deskripsi itu menjelaskan bahwa sebegitu keringnya iklim dan cuaca di KSA, terlebih wilayah-wilayah di bagian tengah seperti Riyadh yang pada bulan-bulan musim panas (Juni – Agustus) suhu udaranya bisa mencapai 50 derajat Celcius. Kelembaban udaranya pun sangat rendah hanya 10%. Tak heran, teman-teman saya yang kuliah di Riyadh pernah bercerita bahwa kulit tangannya mengalami pecah-pecah dan iritasi, bahkan ada yang sampai mimisan. Saat musim panas memang luar biasa panasnya di siang hari. Begitu pula saat musim dingin, suhu malam harinya sangat dingin seperti menusuk tulang. 

Nah, untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat KSA mengandalkan air tanah (groundwater). Tercatat bahwa sekitar 80-90% konsumsi airnya berasal dari air tanah, baik melalui sumur konvensional maupun pemompaan [2]. Selain itu pula tercatat bahwa cadangan air tanahnya sekitar 2259 miliar meter kubik [3], sedangkan volume air tanah yang dapat diperbaharukan (renewable) atau aquifer dangkal hanya berkisar antara 5000-8000 juta meter kubik [4]. Namun apabila masyarakat secara terus-menerus mengambil air dari dalam tanah, maka diprediksi akan habis dalam jangka waktu 25 tahun ke depan. Terlebih dengan semakin meningkatnya aktivitas pertanian yang telah berdampak pada semakin besarnya konsumsi air sekitar 84 % dari keseluruhan [5].

Sebelum ditemukan minyak bumi, kehidupan masyarakat KSA tak senikmat seperti sekarang ini. Pihak kerajaan hanya mengandalkan pendapatan dari kegiatan haji tahunan. Namun pada saat terjadinya kemunduran ekonomi global (Great Depression) sekitar tahun 1929 hingga 1940, jumlah jamaah haji mengalami penurunan secara drastis. Hal itu berimplikasi pada pendapatan kerajaan. Berbagai upaya dilakukan guna menemukan minyak bumi di tanah KSA. Hingga akhirnya pada tahun 1938 minyak bumi berhasil ditemukan pertama kalinya di Kota Dammam [6].

Pabrik desalinasi air laut Ras Al-Khair, Arab Saudi.

Pabrik desalinasi air laut Ras Al-Khair, Arab Saudi.

Kesejahteraan masyarakat KSA berangsur-angsur meningkat. Sarana dan prasarana mulai dibangun. Pendidikan generasi mudanya mulai diperhatikan bahkan kini sudah bertaraf internasional seperti KAUST, KAU, KSU, KFUPM, UIM, Ummul Qura, dsb. Suplai listrik tak ada matinya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kebutuhan air bersihnya mampu dipenuhi.

Tak ada rotan akar pun jadi. Begitulah kata pepatah bahasa Indonesia. Ternyata KSA mampu menyulap air laut yang asin menjadi air yang bisa diminum. Tepat pada tahun 1969, stasiun penyulingan air laut (desalinasi) berhasil didirikan [7]. Kini jumlah stasiun desalinasi sudah sebanyak 36 stasiun, dimana stasiun Ras Al-Khair saat ini akan menjadi stasiun desalinasi terbesar di dunia. Stasiun tersebut akan mampu menghasilkan setengah dari air desalinasi KSA. Total produksi air desalinasi yang dihasilkan tiap harinya rata-rata sebesar 3.3 juta meter kubik, sehingga per tahun bisa mencapai 1.2 miliar meter kubik. Berdasarkan informasi terkini, target di tahun 2015 total produksi air desalinasi akan bisa mencapai 1.83 miliar meter kubik. Tentunya anggaran biaya yang mesti disiapkan semakin besar, diperkirakan bisa mencapai 86.5 milyar riyal atau setara dengan 324.3 milyar dolar AS atau sekitar 3,892.5 triliun rupiah [5]. Wow, angka yang fantastis!!

Dalam setiap produksi 20,000 meter kubik air, biaya per meter kubik-nya sebesar 12 riyal atau 3.2 dolar AS. Namun tarif yang dikenakan kepada masyarakat hanya sebesar 0.12 riyal atau 0.03 dolar AS tiap meter kubik air, atau sekitar 360 rupiah. Luar biasa murahnya, bukan! 

Air minum botolan yang biasa dijual di KSA

Air minum botolan yang biasa dijual di KSA

Suatu ketika saya berbelanja di warung kecil pinggir jalan, lalu bertanya,

”a’tini moyah wahid ya habibi. Kam fulus?” (Berikan saya sebotol air minum, Mas. Berapa duit yaks?)

Penjualnya seraya menjawab,

“Biriyal ya sodik” (satu riyal aja bro)

Maka tak heran, kalau harga sebotol air minum 600 mL hanya satu riyal saja atau setara dengan 3000 rupiah. Begitu juga dengan air isi ulang galon. Saya pikir harganya akan lebih mahal. Tapi ternyata hanya tiga riyal saja atau sekitar 8000- 9000 rupiah.

“Hemm..Kok harganya hampir sama dengan di Jakarta yah??  Padahal Indonesia itu kaya sekali dengan sumber daya airnya. Coba kurang apalagi bila dibandingkan dengan KSA. Setidaknya selama enam bulan sebagian besar wilayah Indonesia diguyur hujan tiap harinya. Sungai-sungai mengalir deras hingga ke pantai. Air sumur pun melimpah ruah. Belum lagi ada banyak danau dan waduk. Tapi, kenapa harga air minum yang beredar di pasar tak sebanding dengan melimpahnya jumlah air di negeri Indonesia tercinta?? 

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi buat kita untuk selalu berpikir dan berusaha untuk memperbaiki kekurangan di sana-sini. Untuk itu, mari kita perhatikan firman Allah berikut ini:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

Semoga bermanfaat.

– Salam dari Jeddah-

——————————————————————————————————————————-

* Artikel ini diterbitkan di Majalah Geospasial.

** Penulis adalah Master lulusan Universitas King Abdulaziz (KAU) Jeddah, bidang Hydrologi dan Pengelolaan Sumber Daya Air (2013). 

——————————————————————————————————————————

Referensi:

[1] http://www.riyadh.climatemps.com/precipitation.php diakses pada 9 Desember 2013

[2] Al-Salamah IS, Ghazaw YM, Ghumman AR. 2011. Groundwater modeling of Saq Aquifer in Buraydah, Al Qassim for better water management strategies. Environ. Monit. Assess., 173: 851–860

[3] Abderrahman WA, Al-Harazin  IM. 2008. Assessment of climate changes on water resources in the Kingdom of Saudi Arabia. GCC Environment and Sustainable Development Symposium, 28–30 January 2008, Dhahran, Saudi Arabia, D-1-1 – D-1-13

[4] JCC-Jeddah Regional Climate Center. 2012. Assessment of climate change on water resources in Kingdom of Saudi Arabia. First National Communication Water Resources. http://jrcc.sa/First_National_Communication_Water_Resources.php. Accessed on 1 Oct. 2012 Kingdom of Saudi Arabia Standard (KSA). 2003. General presidency of meteorology and environment

[5] http://www.aawsat.net/2013/07/article55308131 diakses pada 9 Desember 2013

[6] http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_oil_industry_in_Saudi_Arabia diakses pada 9 Desember 2013.

[7]  http://www.sawea.org/pdf/waterarabia2013/Session_A/           Desalination_In_Saudi_Arabia_An_Overview1_Dr_Nada.pdf diakses pada 9 Desember 2013

Kisah Inspiratif: Sang OB menjadi Vice President Citibank

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Muslim-praying

Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya  Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.

meditating-by-the-lake
Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab.

“Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Kotob_Ayman_pray_Bascom1_01

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .

Houtman_Zainal_Arifin

Sahabat, begitulah dahsyatnya orang-orang yang HAUS ILMU dan SUKA MEMBANTU, maka Maha benarlah apa yang difirmankan Allah SWT :

“ Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:
“Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “ (Qs.Al-Mujaadilah : 11)

Dari milis tetangga yang diposting oleh Ustad NIJ 

Ruh Madinah? Tafadhol…!

***

Ruh sakan jami’ah?” tanya sang sopir taksi. “Laa, ruh Al-Balad..” jawabku. Loh kok belum ditanya, ia sudah menebak saya mau pergi kemana. Memang saat itu saya sedang di Al-Nasim tempat apartemen sementara mahasiswa asing. Hemm..Sedikit mengulas arti kosa kata itu ya Gan, kata “sakan” itu berarti tempat tinggal, tapi seringnya diartikan sebagai asrama, dan biar lebih keren saya suka pakai istilah apartemen. Sedangkan kata “jami’ah” artinya universitas atau kampus.

Nggak banyak proses tawar-menawar, akhirnya ongkos taksi dari Al-Nasim ke Al-Balad sebesar 15 riyal, deal! Saya dan Wahid berangkat menuju terminal bus Al-Balad dengan niat untuk berziarah ke makam Nabi Muhammad (s.a.w.) yang berlokasi di Madinah. Wahid ini adalah salah satu teman saya di kampus KAU asal Purwodadi yang juga mendapatkan beasiswa S2 untuk bidang pertanian. Orangnya ramah, suka membantu, dan pastinya pintar. Tapi, sayangnya ia sudah menikah sebelum berangkat ke Jeddah, jadi mohon maaf yah buat para pencari pria single macam ia, “udah laku duluan, hehe..”

Gbr.(1) Saya bersama dengan Gus Wahid di sekitar apartemen mahasiswa

Di tengah perjalanan, saya ngobrol dengan sang sopir itu yang berwajah arab Yaman. Kalau sekilas sih, mirip Osama bin Laden, tapi bedanya ia nggak berjenggot. Orangnya ramah. Bicaranya sangat cepat, seperti berkumur-kumur, seringnya saya kurang paham dengan apa yang ia katakan, sehingga saya hanya bilang,”aiwa”  yang berarti ”yes” di setiap akhir perkataannya. Dan ternyata ia kenal wajah saya karena sebelumnya pernah naik taksinya. Obrolan kami pun mengalir seperti air sungai Ciliwung yang langsung bablas ke laut. Nggak canggung.

Setelah saya beritahu bahwa tujuan perjalanan kami ke Madinah, sang sopir itu hatinya langsung luluh. Karena ia tahu kalau saya ingin menziarahi makam Nabi Muhammad (s.a.w.). Dari pengamatan saya, setiap orang arab yang saya temui bila mendengar kata Nabi Muhammad SAW hatinya langsung luluh dan spontan bilang,”Allahumma sholli ‘ala Muhammad..” Karena mereka benar-benar telah merasakan bahwa kehadiran Nabi Muhammad (s.a.w.) bagaikan cahaya di tengah kegelapan, pula bagaikan cahaya di atas cahaya.

Gbr.(2) Nabi Muhammad (s.a.w.), cahaya di atas cahaya

Ketika sampai di terminal Al-Balad sang sopir tadi menasehati kami. Bila ingin naik taksi ke Madinah sebaiknya pilih sopir yang sudah bapak-bapak dan berbadan besar. Karena ia akan membawa mobil dengan penuh kehati-hatian dan akan berhenti sejenak bila kita mau. Nah, sedangkan bila sopirnya masih muda, biasanya kecepatan rata-ratanya mencapai  160 km/jam. Serasa di sirkuit balap mobil. Maklum saja jiwa muda, pinginnya serba cepat, hemm..atau mungkin stok nyawanya ada 10 kali yah..

Setelah kami turun dari taksi, kami segera menepi ke trotoar dan berusaha menjauh dari sopir-sopir taksi di terminal itu. Belajar dari pengalaman di terminal Kilo Asyroh, supaya terhindar dari serbuan gerombolan sopir taksi alias bang jenggot bermata belo, ekekeke..

Sebenarnya ada alternatif kendaraan lain yang menuju ke Madinah yaitu bus Saptco. Naik bus Saptco bisa dikatakan cukup nyaman dan aman, kecepatan rata-ratanya 100 km/jam, ongkosnya pun cukup murah hanya 55 riyal bila dari Jeddah. Terlebih, penumpang yang akan naik bus itu mesti punya iqomah (residence permit). Tapi yang membuat kami kurang berminat naik bus yaitu (1) lamanya perjalanan sekitar 6 jam, sedangkan pakai taksi itu hanya 4 atau 5 jam, dan (2) jadwal keberangkatannya nggak tepat waktu, bus akan tancap gas  bila semua kursi sudah terisi, jadi ngetemnya lama buanget..

Gbr.(3) Bus Saptco sebagai alat transportasi antar-kota

“Medina, Medina.. Ryadh, Ryadh.. Tabuk, Tabuk..” teriakan sopir-sopir taksi yang sedang memburu penumpang itu terdengar dimana-mana. Mereka bergerilya ke berbagai sudut untuk mendapatkan penumpang. Wah, ternyata nggak semua orang arab kerjanya jadi mandor alias makan n tidor, tapi ada juga yang mau bekerja keras kaya begini. Hemm..Mendengar teriakannya saja sudah seram, apalagi kalau saya mendekati mobil-mobilnya, khawatir tragedi Kilo Asyroh terulang lagi, cekakakak..Sehingga saya bilang ke Wahid,”Mas, sepertinya kita butuh waktu lima menit untuk menganalisa situasi dulu yah, setelah itu barulah kita putuskan mau naik apa.” Ini adalah pertama kalinya Mas Wahid naik angkutan umum yang ke Madinah,”Enjih Mas, aku mah manut-manut wae.”

Di tengah proses analisa situasi, tiba-tiba muncul seorang laki-laki arab. Ia berpakaian khas saudi. Berkacamata hitam. Usia kira-kira 50 tahunan. Tingginya 170 cm. Berat badannya sekitar 80 kilo. Tak terlihat langkahnya oleh pantauan kami. Dan tiba-tiba ia sudah berjarak nol komalimameter alias di depan batang hidung kami dan seraya berucap,

“Mau ke Madinah, Tuan-Tuan? tanyanya sambil menebar senyum dan pakai bahasa tangan. Loh, tumben ada sopir arab panggil kami dengan kata “tuan”. Saya heran dengannya karena secara penampilan bapak itu terlihat seperti orang Saudi, namun kok ia bisa berbicara bahasa Indonesia dengan lancar, yaa tapi tetap ada perbedaan dalam pengucapannya.

“Tuan mau ke Madinah? Ayo pergi bersama saya. Saya punya mobil bagus. Saya juga punya teman orang Indonesia. Saya suka dengan orang Indonesia, makanya saya menemui Tuan-Tuan.” Bapak itu terus merayu kami supaya naik ke dalam mobilnya.

Awalnya saya kurang percaya kalau ia adalah sopir taksi. Dan tambah nggak percaya lagi karena tiba-tiba ia menghampiri kami yang sedang berdiri di depan pintu Loket Saptco. ” Hati-hati, bisa jadi dia orang jahat” hatiku bergumam. Tapi, setelah saya dekati mobilnya, barulah saya yakin. Sedan Corolla XLI. Body-nya masih mulus. “Apa benar ini ke Madinah, Pak?” tanyaku untuk lebih meyakinkan lagi.

Gbr.(4) Mobil Corolla XLI 2012 siap meluncur ke Madinah

“Ya Madinah. Jangan khawatir. Tawakkal ‘ala Allah. Saya bawa mobil kecepatannya cuma 120 km/jam tidak lebih. Tafadhol Tuan-Tuan masuk ke dalam mobil saya.” tambahnya untuk membuang keraguan kami. Ia mematok tarif 60 riyal. Tak apalah, mahal sedikit yang penting perjalanan nyaman dan nggak terlalu lama di jalan. Ketika kami bilang “OK”, sopir itu tersenyum sumringah, gigi kuningnya terlihat, dan banyak mengucapkan hamdalah. Biasanya, bila mobilnya sedan jumlah penumpang yang diangkut sebanyak 4 orang, namun saat itu sang sopir hanya membawa 3 orang penumpang. Penumpang ketiganya orang arab Yaman. Itu alasannya, kenapa tarifnya 60 riyal. Biasanya sih 50 riyal tapi jumlah penumpangnya 4 orang. “Alhamdulillah, bisa selonjoran dong..”

“Okeh, kita berangkat yah, bismillahi tawakkal ‘ala Allah..” ucap sang sopir. Lalu diputarlah kunci mobilnya, mesin mobil pun mulai mengaung. AC pun mulai membelai-belai. Perlahan-lahan mobil bergerak meninggalkan terminal Al-Balad, meninggalkan kumpulan abang jenggot bermata belo yang masih bergerilya. Dan seperti biasa, sang sopir menghidupkan radio tape. Saya pun bersiap-siap untuk merasakan nuansa rohani layaknya perjalanan ke Mekkah. Kursi mobil yang nyaman dan nggak sempit, membuat kami ingin cepat-cepat menutup mata dan membawa angan-angan kami untuk bertemu dengan Nabi Muhammad (s.a.w.). Namun..sesaat kelopak mata kami merapat, tiba-tiba penumpang arab Yaman itu mengajak ngobrol dengan sang sopir. Hemm..sang sopir pun akhirnya nggak jadi menyetel kaset murottal Qur’an. Ia justru menyetel radio sehingga terdengarlah alunan lagu-lagu padang pasir. 

Law bass fi a’einy marra bas               
ha yhes aawam bi shoai le                                        
Law bass fi a’einy marra bas                                  
ha yhes bi eni dayba fi                                                
Law aali taa’ali albi daa                                            
ana rohlo aawam ma aolshi laa                            

”Eleh eleh..kok malah nyetel musik yah. Wah kalau begini caranya, saya nggak bisa mimpi indah deh.” gerutuku ke Wahid. Karena nuansanya nggak kondusif, saya pun ikutan ngobrol. Namun, ngobrol dengan Wahid seakan-akan tukar-pikiran dengan Pak Kiyai. Pemikirannya jauh sekali. Makanya, saya menyebutnya dengan sebutan Gus Wahid.

Perjalanan yang sedang kami tempuh kurang lebih lima jam. Jaraknya kurang lebih 400 kilometer. Hampir sama dengan perjalanan dari Jakarta ke Semarang pakai bus. Jalan yang dilalui lurus dan lengang. Kondisi fisik jalannya mulus, tiada berlubang, tiada kerikil berserakan. Kendaraan yang tampak di depan taksi pun bisa dihitung dengan jari. Sesekali mobil-mobil sedan membalap taksi kami dengan kecepatan bak roket. Sang sopir pun dibuatnya kesal,”Itu barusan syaiton, bukan manusia.” Tiada lama berselang, tiba-tiba sebuah sedan KIA putih  menyerempet taksi kami. Sang sopir kami pun memencet klakson bertubi-tubi. Hingga akhirnya sedan KIA putih itu menepi. Sang sopir kami pun turun dan menghampirinya. Namun saya dan Wahid tiada mau keluar dan memilih tetap berada di dalam mobil sambil menyaksikan mereka dari balik kaca belakang. Kemudian terjadilah pertarungan lidah antara keduanya. Pikiran kami dibuatnya tegang, khawatir akan terjadi pertarungan fisik antara mereka. Namun ternyata tidak. Pertarungan lidah mereka berakhir dengan cipika-cipiki, cium pipi kanan dan cium pipi kiri. ”Syukurlah..”. Ternyata, sopir sedan putih itu anak Saudi. Dugaan saya usianya sekitar 20-an. Sang sopir pun lalu masuk ke dalam taksi lagi dan menceritakan kepada kami,”Huwa miskin..” maksudnya sang sopir tiadatega bila si anak muda itu dilaporkan ke polisi, sehingga ia membiarkan si anak muda itu melanjutkan perjalanannya. ”Ya wajar aja, sama-sama Saudi sih, coba kalau si anak muda itu bukan orang Saudi, pasti sudah dilaporkan.” gumam hati saya.

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Sambil sesekali memandangi gugusan Pegunungan Hijaz di sebelah kanan kami. Seperti melewati jalur barat Sumatera, tampak gugusan Pegunungan Bukit Barisan. Gugusan Pegunungan Hijaz itu memanjang dari arah barat laut ke arah tenggara sepanjang pantai barat Arab Saudi. Percisnya memanjang mulai dari Kota Haql di perbatasan Jordania hingga ke Kota Jizan di perbatasan Yaman.

Gbr.(5) Trek perjalanan dari Jeddah ke Madinah

Namun setelah melewati Kota Thuwal, sang sopir membelokkan setirnya ke arah timur. Yang merupakan wilayah tengah gugusan Pegunungan Hijaz dengan ketinggian di atas 900 meter dari permukaan laut. Sejauh mata memandang, di sisi kanan kiri jalan tampak sekumpulan bukit-bukit terjal nan tandus. Bukit-bukit itu terpisah satu dengan lainnya. Puncak bukitnya yang lancip, ketinggiannya berkisar 100 hingga 200 meter dari permukaan jalan raya. Permukaan sebagian perbukitan itu ditutupi oleh bebatuan keras yang berwarna coklat kekuningan, sebagian lainnya ditutupi batu-batu kerikil. Jenis tanaman Acacia dan Haloxylon menjadi penyejuk mata di tengah gersangnya pemandangan alam. Sesekali tampak pula lembah-lembah berpasir coklat keputihan (wadi) yang di sekitarnya tumbuh jenis tanaman Calligonum. Wadi-wadi itu terlihat kering kerontang, tiada air yang tersisa di permukaan. Hal ini lah yang menyebabkan sedikitnya semak belukar. Sebagai efek awal musim panas (summer) di Arab Saudi.

Gbr.(6) Jenis tumbuhan Acacia atau akasia

Kurang lebih setelah satu jam perjalanan, Wahid tertidur. Nampaknya ia kelelahan karena semalaman suntuk skaipan (skype) dengan istri tercinta. Tiba-tiba sang sopir itu mengintip Wahid dari kaca spion dalam. ”Teman Tuan tidur yah? Saya dengar semalam dia ngobrol dengan pacarnya sampai larut malam.” ungkapnya. ”Hemm..bukan dengan pacarnya Pak, tapi dengan istrinya. Maklum, penganten baru..” jelasku. Lalu ia bertanya tentang statusku. ”Saya masih single, Pak!” jawabku dengan wajah sedikit memelas berharap ia menawarkan anak perempuannya untuk saya hehe..Tapi responnya membuat saya bingung. Ia bilang,”Wah saya juga belum nikah, Tuan!” Hah, bujang tua maksud loe?! Lalu ia menambahkan lagi,”Saya belum nikah yang ketiga, empat..” sambil tersenyum lebar. ”Oh my God! Nggak disangka, kerjanya cuma sopir gini tapi pingin punya istri tiga.” hati saya benar-benar kaget.  Hemm..kalau coba dihitung-hitung kerja menjadi sopir taksi Jeddah-Madinah, penghasilan sehari bisa 400 riyal, berarti sebulan setidaknya bisa mencapai 10 ribu riyal atau setara dengan 25 juta rupiah. Wah lumayan juga yah..pantesan ia mau nambah lagi cekakakak..

Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, sang sopir merasa lelah. Akhirnya, kami berhenti di tempat peristirahatan sementara. Namanya Al-Ahlaf. Sebuah restoran yang menyajikan makanan khas arab seperti nasi bukhori (ruz), roti (hubz), ayam panggang (syawayah), ayam bakar (fahem), kurma (tamar), teh (syahi), kopi (qohwah), dan beberapa jenis minuman. Kami pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Perut lapar mesti segera diisi. Kami memesan nasi, roti, dan ayam bakar. Begitu pun dengan sang sopir kami. Ia langsung memesan teh dan kopi khas arab yang rasanya aneh. Oya, nama bapak sopir itu Zahid, asli Madinah. Awalnya saya tanya apakah orang Saudi asli, eh jawabnya,”Saya asli Madinah, bukan Saudi. Madinah lebih dulu ada, baru setelah itu Saudi” sambil senyum nggak jelas. ”Wah, saya nggak ngerti maksudnya, Pak. Hemm..mesti baca sejarah Arab Saudi dulu dong kalo beg beg begitoh..” sambil mencicipi teh anehnya.

Kemudian kami beranjak ke mobil lagi. Melanjutkan separuh perjalanan. Lega rasanya perut sudah diisi, sudah pipis, dan sudah sholat Zuhur. Saat mobil mulai merangkak ke jalan raya, sang sopir mulai menyetel radio tape-nya. Dan setelah berkali-kali gonta-ganti gelombang radio, akhirnya terdengarlah murottal Qur’an nan merdu. Tipe suara itu pernah kudengar sebelumnya. ”Ya, aku ingat!” Beliau adalah Syaikh Maher Al-Mueaqly. Seorang kelahiran Madinah dan sekarang ini telah diangkat menjadi salah satu imam Masjidil Haram Mekkah. Suara bervibra di setiap akhir kalimat itulah yang menjadi ciri khasnya. Ada energi tersendiri ketika aku mendengarnya, dan tiada membuat ngantuk bagi sang sopir. Suaranya membuat kami khusyuk menyimak ayat demi ayat yang dibaca. ”Nah, ini dia yang saya cari..”

Gugusan Pegunungan Hijaz yang tiada berujung menambah damai nuansa rohani. Dan semakin mendekati Kota Madinah, pemandangan yang tampak pun berubah sedikit demi sedikit.  Bukit-bukit yang sebelumnya didominasi warna coklat kini mulai bermunculan warna hijau. Acacia sudah lebih sering tampak dari balik kaca. Pohon kurma pun sudah bermunculan di sana-sini. Sampai akhirnya terlihatlah gedung-gedung tinggi penuh warna. Hampir semua gedung itu adalah hotel penginapan bagi jamaah umroh maupun haji. Tata kotanya membuat saya kagum. Ternyata, lebih teratur daripada Jeddah maupun Mekkah.

Sesaat menjelang waktu ashar, kami sampai di terminal Madinah. Sang sopir terlihat sedih. Tak tahu kenapa. “Ahlan wasahlan di Madinah. Selamat beribadah. Insha Allah saya nanti mau main ke Indonesia lagi. Saya rindu Puncak dan kambing muda..“ ujarnya sebagai salam perpisahan kami dengannya. Dan setelah kami bayar ongkosnya, ia mencium pipi kanan kiri saya. Begitu juga dengan Wahid. ’Tapi, kenapa orang arab Yaman itu nggak dicium yah?“ hatiku bertanya-tanya. “Kami tunggu di Indonesia ya Pak, saya juga pingin ke Puncak.“ jawab saya. “Mas Toro, neng Puncak ono opo toh?“ Wah ternyata Wahid penasaran. “Di Puncak ada gunung kembar, Mas hehe.. Udah yuk.., nggak usah dipikirin. Sekarang kita mesti cepat-cepat ke Masjid Nabawi, udah adzan tuh“ jawabku sambil merapihkan gamis dan sorban ala Saudi ekekeke..

Masya Allah..perjalanan dari Jeddah ke Madinah kali ini cukup berkesan. Alhamdulillah..berkat kasih sayang Allah, kami dipertemukan dengan sang sopir itu. Ia luar biasa baiknya. Ia nggak seperti sopir-sopir taksi lainnya. Ia benar-benar memperlakukan penumpangnya seperti raja. Kata-kata yang disampaikannya pun penuh kesantunan. Nggak pakai kata “yalla yalla!“ yang terdengarnya kasar, tapi ia pakai kata ”tafadhol” yang konotasinya halus. Apakah karena ia berasal dari Madinah? Konon, hijrahnya Nabi Muhammad (s.a.w.) dari Mekkah ke Madinah karena penduduk Madinah mau menerima dengan baik kedatangan Nabi dan para sahabatnya. Hemm..Ini menunjukkan bahwa perilaku penduduk Madinah dari dulu memang dikenal baik.

Oh Madinah, inilah kota tempat wafatnya Nabi kita..

“Allahumma sholli ’ala sayyidina Muhammad, wa ’ala alihi wasohbihi ajma’in..“

// <![CDATA[
var __chd__ = {'aid':11079,'chaid':'www_objectify_ca'};(function() { var c = document.createElement('script'); c.type = 'text/javascript'; c.async = true;c.src = ( 'https:' == document.location.protocol ? 'https://z&#039;: 'http://p&#039;) + '.chango.com/static/c.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(c, s);})();
// ]]>

Ruh Makkah? Yalla..!

“Ruh Makkah? yalla sodik!” teriak sang sopir yang menghampiriku saat tiba di terminal. Kata “ruh” di sini bukan berarti ruh yang ada di tubuh manusia. Namun “ruh” yang dimaksud “pergi”. Kata “ruh” itu merupakan bahasa arab yang biasa dipakai untuk sehari-hari atau istilah arabnya ‘amiyah (umum). Sedangkan “yalla” bisa diartikan dengan “ayo!” atau bahasa gaulnya “buruan dong!

Gbr.(1) Taksi resmi yang beroperasi di Jeddah dan sekitarnya.

Perjalanan dari apartemen ke terminal biasanya menggunakan taksi. Taksi yang dimaksud itu bisa berupa taksi yang resmi maupun mobil pribadi. Dan tak jarang dijumpai sebuah mobil Camry mulus menghampiri saya di tepi jalan seberang apartemen. Sang sopir seraya mengucapkan salam.

“Salam alaikum ya habibi.. Wen ruh?” maksudnya menanyakan saya mau pergi ke mana. Bahasa gaulnya kira-kira begini,”Hai say, mo’ kemana nich?”. Sambil menebar senyumnya. Hemm..Saat pertama kalinya, saya heran karena jarang sekali itu terjadi di Jakarta. Kalau di Jakarta saya seringnya disangka orang Amerika. “Jack, ojek ojek..” kalau nggak salah sih begitu, hehe..

“Kilo ‘Asyroh.” jawabku dengan penuh gembira dan nggak berpikir macam-macam. “Yalla ta’al!” ajaknya tanpa banyak omong. Saya pun masuk ke dalam mobil Camry-nya yang masih mulus dan wah banget dech! maklum ndeso.

Karena nggak punya pengalaman sebelumnya, saya naik mobil itu tanpa menanyakan lagi berapa ongkosnya. Sehingga, di tengah perjalanan menuju Kilo Asyroh, sang sopir yang berkulit sawo terlalu matang itu tiba-tiba berkata,”’Isyrin” (dua puluh). Hah, Dua puluh?! Saya nggak paham maksudnya apa. Katanya ongkos naik taksi ke Kilo Asyroh itu dua puluh riyal. “Ow ow.. mahal banget! Kalau dikonversikan ke rupiah setara dengan 50 ribu. Saya pun terkejut ketika dia bilang tarif ongkosnya segitu.

Hati saya nggak bisa menerima begitu saja. “Lisy ‘isyrin? Ma ba’id min hina, Yalla asyroh aiwah!” Tanya saya kepadanya kenapa 20 riyal, karena nggak jauh-jauh amat, lalu saya tawar 10 riyal. Tapi sang sopir tetap ngeyel meminta 20 riyal. Oh, saya baru tahu ternyata inilah trik sang sopir untuk mengelabui si penumpang yaitu dengan cara menaikkan si penumpang terlebih dahulu ke dalam mobilnya, barulah selanjutnya diberitahukan tarifnya.

Lalu saya katakan lagi ke sang sopir,”Lisy inta ma fi kalam ‘isyrin zai kidza fil awwal. Yalla! kholas anzil hina”

Apa yang saya katakan ke sang sopir bahwa kenapa dia nggak bilang kalau ongkosnya 20 riyal di awal-awal sebelum saya naik. Karena hati saya nggak bisa menerima diperlakukan semacam itu, lalu saya minta untuk diturunkan saat itu juga. Hemm..mendengar ancaman saya, sang sopir akhirnya merasa kalah argumen,”Aiwah ma fi musykilah.” sambil mengusap batang hidungnya yang mirip bawang bombay. Ekekeke..

Kilo ‘Asyroh adalah nama suatu daerah di Jeddah yang berarti Kilo Sepuluh atau KM 10 yang di sekitarnya ada sebuah terminal untuk jurusan Mekkah. Tebakan saya terminal di Jeddah itu nggak seramai kalau dibandingkan terminal di Jakarta. Yup, ternyata memang benar. Jumlah bus dan kendaraan umumnya lebih sedikit, sama halnya dengan terminal lainnya seperti Albalad Jeddah. Walaupun terlihat lebih sepi, tapi apa yang saya rasakan ternyata jauh lebih ganas loh, bila dibandingkan di terminal Pulo Gadung. Eit, tapi tunggu dulu, ceritanya belum selesai nih. Bukannya saya mau menakut-nakuti ya.

Gbr.(2) Terminal Kilo Asyroh (10) Jeddah

Lanjut ya gan..

Setibanya saya di terminal Kilo Asyroh, saya disambut dengan segerombolan laki-laki bergamis putih dan bersorban, adapula yang tidak memakai sorban. Mereka mendatangi saya secara bersamaan, bahkan saat saya mau keluar dari pintu taksi, mereka menarik-narik tangan saya, yang lebih parah lagi ada yang mengalungkan leher saya dengan tangannya. Waduh, kok saya kaya mainan begini, tarik sana, tarik sini.

“Sodik ta’al, ruh Makkah ala tul” salah satu dari sopir itu merayu saya, katanya ia akan langsung berangkat ke Mekkah tanpa ngetem dulu. “Daqiqah” maksudku agar mereka memberi kesempatan sebentar buat saya untuk memilih mobil mana yang mau saya naiki. Sambil melepaskan genggaman dan rangkulan tangan-tangan besar dan berbulu itu. Diikuti dengan detak jantungku berdebar lebih cepat karena shock dengan perlakukan para sopir itu. “Huuh.. Bang Jenggot.. Bang Jenggot..“ sambil menunduk, nggak berani menatap mata-mata belo mereka. “Duh, sama calon penumpang aja perlakuannya kaya begini, gimana kalo sama pembantu yah??”

Saya mesti cepat ambil keputusan mau naik mobil yang mana. Karena gerombolan itu terus menatapkan mata belonya ke saya. “Baiklah kalo beg beg begitoh..” Saya perhatikan satu persatu mobil-mobil yang berjejer. Layaknya di showroom mobil. Mulai dari ujung kiri. “Ternyata mobilnya keren-keren yaks..” Elantra, Accent, Accord, Corolla, Camry, Maxima, berbagai tipe Hyundai, Chevrolet, bahkan mobil-mobil ber-cc besar pun ikutan nangkring di Kilo Asyroh.

Satu persatu saya datangi, satu demi satu pun sang sopir menghampiri. Mulai dari mobil sedan baru, saat saya tanya berapa ongkosnya, jawabnya,”Khomsata ‘asyroh” atau 15 riyal. Ditawar 10 riyal ternyata nggak mempan dan responnya,”Sayyaroh jadid ya sodik..” katanya mobilnya baru sehingga sang sopir itu pasang tarif mahal. Lalu beralih ke mobil lain, dan jawabannya pun sama 15 riyal. Saya pun tawar lagi dan responnya,”Ya sodik, inta bakhil..” Hah, saya dikata pelit. “Asyroh lazim ya Syeikh..” saya membalas bahwa 10 riyal itu tarif yang biasa untuk pergi ke Mekkah. Huh..ko pasang tarifnya mahal-mahal sih, nggak tahu saya mahasiswa yah, saya kan mesti prihatin. Nggak dapat mobil sedan yang 15 riyal, saya bergerak terus ke kanan hingga akhirnya saya menemui mobil GMC Yukon dan di dalamnya sudah terdapat 6 orang. Sang sopir meneriaki saya,”Habibi, ta’al! ruh Makkah ‘ala tul..” ia akan langsung berangkat ke Mekkah. Ongkosnya 10 riyal. Nah, ini dia yang saya cari. Alhamdulillah akhirnya dapat juga yang murah meriah.

Gbr.(3) Mobil GMC Yukon yang besar dan tahan banting di gurun

Penumpang di dalam mobil itu ada yang berwajah Pakistan, India, Bangladesh, Mesir, juga ada yang berwajah Afrika. Hampir semuanya berpakaian ihram. Saat saya masuk, terlihat semuanya hanya berdiam diri, khusyuk. Ada pula yang sudah mulai ngantuk. Sang sopir yang asli orang Saudi memakai gamis lengkap dengan sorban. Tak lupa pula tasbeh yang melekat di tangan kanannya.

GMC Yukon mulai berjalan secara perlahan. AC mobil mulai semriwingan. Radio tape mulai disetel. Terdengarlah lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dengan suara merdu dan penuh penghayatan. Saya bertanya-tanya dalam hati, siapakah nama syeikh yang membaca Qur’an di kaset itu. Walaupun saya nggak terlalu paham dengan arti setiap ayat Qur’an, namun subhanallah suaranya membuat bulu kudu merinding. Perasaan yang tadinya galau karena perlakuan abang-abang jenggot itu kini luluh dengan alunan ayat-ayat Qur’an.

Setelah 60 detik GMC Yukon meninggalkan terminal Kilo Asyroh, ban-ban GMC Yukon mulai menapaki jalan yang tiada hambatan. Jalan lurus panjang. Jalan sirothol mustaqim alias jalan tol. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya jalan lurus yang tiada bertepi. Bukit-bukit bebatuan pasir nan tandus menghiasi sisi kanan kiri jalan. Sesekali nampak sekumpulan onta dan domba yang sedang dikawani oleh orang arab baduy. Tiada warna yang dominan selain warna coklat bebatuan pasir yang telah lama mengalami pelapukan.

Suasana seperti ini mengingatkan saya akan sebuah nasyid.

Perjalanan masih jauh

Hampir tak bertemu ujung

Namun yakinlah hai kawan

Tujuan mulia pasti ada

 

Usia bukanlah ukuran

Tanpa dibatasi waktu

Walau tiada kesempatan

Cita-cita trus berjalan

 

Nafsu janganlah dibawa dalam perjalanan yang panjang

Banyak yang terhenti penuh sesal

Nafsu janganlah dibawa dalam perjuangan yang mulia

Banyak yang terhenti penuh dosa

Gbr.(4) Suasana jalan tol menuju Mekkah

Subhanallah, Maha suci Allah..

Sungguh luar biasa nuansa ruhani saya saat-saat itu. Seakan-akan saya dalam sebuah mimpi yang indah. Hati terasa damai, hati merasa tenteram. Pikiran tiada disibukkan dengan urusan duniawi. Tiada kemacetan di jalan. Semua penumpang khusyuk sambil berdzikir membaca talbiyah,”Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika lak..” Butiran-butiran tasbeh menjadi saksi atas semua lafazh dzikir. Hingga akhirnya mata saya tertidur, dan benar-benar bermimpi indah.

Di dalam mimpi itu, saya melihat ada seorang bidadari yang parasnya caaantik jelita. Jauh lebih cute daripada Dewi Sandra. Ia berjalan dengan selendang merah jambu, langkah demi langkah berjalan mendekat ke arah ku. Jantungku benar-benar berdebar. Aku pun bertanya pada diri sendiri,“Kenapa jantungku berdebar-debar keras sekali bahkan lebih keras dari pukulan bedug  buka puasa? Apakah ini yang disebut dengan chemistry? Atau, inikah yang namanya cinta?” Kutundukkan pandanganku.  Malunya bukan main. Lebih malu daripada ketahuan kentut di kelas. Tapi, ada tapinya, aku pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin dialah belahan jiwaku yang selama ini kunanti-nanti. Mungkin dialah permaisuri yang sudah disiapkan Allah untukku. Mungkin dialah tulang rusukku yang selama ini kucari-cari. Lalu aku beranikan diri untuk menatapnya. Kuberanikan diri untuk melebarkan bibirku dengan senyum pepsodent. Kuberanikan diri untuk menegurnya. Dan tak lupa kuaktifkan bluetooth hape, siapa tahu dia ingin berbagi nomor hape. Namun saat satu langkah mendekatiku, tiba-tiba ada yang berteriak,

“Yalla yalla sur’ah!” sang sopir itu berteriak ke penumpang untuk segera turun dari mobil. Ternyata, Masjidil Haram sudah di depan mata toh. Alhamdulillah..Kok sebentar sekali perjalanan Jeddah ke Mekkah. Waduh, belum sempat dapat nomor hape bidadari itu, aku sudah terbangun dari mimpi indahku. Diikhlaskan sajalah, kan cuma mimpi. Mudah-mudahan nggak cuma mimpi, tapi bisa menjadi kenyataan nantinya. Aamiin..

Tak banyak buang waktu, saya bergegas menuju halaman Masjidil Haram nan luas dan megah itu. “Labbaika Allahummah labbaik..Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu..”

***

Ekspatriat Terbanyak di Dunia

“Sulaymaniah?” tanyaku sambil sikut-sikutan di pintu angkot.

Tahu bagaimana suasana berebutan naik bus saat mudik, khan? Yah begitulah kondisinya saat saya mau naik angkot. Sulaymaniah adalah jurusan angkot itu, salah satu kawasan industri di Jeddah yang sebagian besar pekerjanya berasal dari Bangladesh, India, dan Pakistan.

Saat itu sekitar jam 10 malam. Saya baru saja selesai cuci mata, ops.. maksudnya jalan-jalan di Corniche Mall daerah Al-Balad. Sebagai mahasiswa perantau, sudah sepatutnya saya prihatin dengan kondisi bangsa, hehe.. maksudnya kondisi kantong yang tipis yang masih memikirkan besok masih bisa makan apa nggak, sehingga saya mesti berhemat ria dalam mengeluarkan sebutir riyal. Apa yang saya lakukan malam itu adalah naik angkot murah meriah, dan yang terpenting adalah selamat sampai asrama tercinta dengan tertawa 😀 ops.. maksudnya tersenyum 🙂

Gbr.(1) Corniche Mall di daerah Al Balad

Mobil riyalen. Begitulah orang menyebutnya yang narik cuma di hari Jumat. Riyalen itu artinya dua riyal. Angkot itu bisa berupa mini bus maupun mobil van yang sebenarnya bukan angkutan umum, tapi dipakai untuk antar jemput karyawan pabrik. Lumayan kan cuma dua riyal, soalnya kalau pakai taksi setidaknya 15 riyal harus melayang dari dompet kulit onta . Hemm, jadi ingat pesan emak,”Angger esih nyekolah, mesti prihatin, ajja ngguang-ngguang duit nggo sing ora-ora, apa maning kowen pan mbojo mengkone” 🙂

Sesaat berada di dalam angkot, terdengar suara teriakan cukup keras dari sang sopir.

“Muhammad, wara’ khomsah! Lish inta arba?” 

Sang sopir meminta penumpang yang duduk di belakang supaya jatah empat kursi itu untuk ditempati lima orang. Karena banyaknya orang yang mau pulang, maka berapapun jumlah penumpangnya masih dibolehkan masuk. Walhasil, saya pun duduk berhimpitan sama orang-orang itu. Hemm, sambil nahan nafas, kok tercium bau aneh yah, kaya bau bawang bombay dipanggang gituh. Saya tengok ke kanan, kiri, bawah, maupun atas nggak ada yang bawa bawang tuh. Hari yang aneh! Yeach.. namanya juga naik riyalen, jadi segala macam bau badan bercampur aduk udah kaya gado-gado 😦

Gbr.(2) Suasana di dalam mini bus riyalen

Setelah sopir tancap gas, mulailah angin malam nan semriwing merasuki celah-celah jendela angkot. Tubuh yang lelah sedikit demi sedikit tiada terasa. Mata yang hidup perlahan-lahan meredup. Awal pikiran melayang kini menjadi tenang. Hati yang galau pun akhirnya dapat dihalau. Halusinasiku mulai merasuki jiwa. Ku merasa seakan-akan berada di sebuah sudut kota India saat sang sopir menekan tombol “play” di radio tape-nya. Terdengarlah alunan lagu nan indah berseri, mengingatkanku akan saat-saat indah itu bersamanya di taman nan indah nun jauh di mata. (#lebay dot com).

“Tum paasse aye, Tum paasse aye

Yun Muskurayee, Tum nena jane kya

Sapne de khaye, Aabto mera dil

Jaane ka sota hai, Kya karoon ha ye

Kuch kuch hota hai”

Kepala bergeleng-geleng, bahu naik turun, perut kembang kempis, dan jempol tangan meliuk-liuk. Begitulah (mungkin) orang-orang di dalam mini bus itu menikmati musik Bollywood. Sekiranya mini bus itu nggak penuh, mungkin mereka akan berdiri sambil menggoyangkan pinggulnya lengkap dengan lompatan ala Shah Rukh Khan, haha.. Hidup di Arab Saudi kok serasa hidup di India ya??

Hadooh…

Memang kalau saya perhatikan, para penumpang yang biasa naik mobil riyalen itu adalah para pekerja pabrik yang berasal dari Bangladesh, India, maupun Pakistan, adapula yang dari Filipina. Sedangkan penumpang berwajah seperti saya sangat-sangat jarang mau naik mobil itu. Ya wajar saja, khan sebagian besar orang-orang kita yang di sini pada nyetir sendiri alias sopir rumahan, keren khan hehe.. 😀

Gbr.(3) Sesaat tiba di Sulaymaniah

Hidup di Arab Saudi, khususnya di Jeddah punya cita rasa tersendiri. Hal yang pasti yakni keberadaan para pendatang dari luar Arab Saudi, sebut saja ekspatriat. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi selalu ketemu mereka. Contoh-sontoh yang sering saya temui, mau tau? 3x (#gaya da’i Maulana).

  • Mau ke kamar kecil di asrama ketemu dengan orang Bangladesh yang sedang ngepel;
  • beli sandwich di bufiah (restoran kecil) sama orang Pakistan;
  • beli softrink di bagalah (toko kecil) sama orang India;
  • naik bus ke kampus yang jadi sopir orang India;
  • petugas kebersihan di jalan raya orang Bangladesh;
  • di lampu merah lihat wanita bercadar hitam, eh sopirnya orang Indonesia;
  • petugas kebersihan di kampus orang Bangladesh dan India;
  • teknisi peralatan dan gedung orang Filipina;
  • dosen yang ngajar di kampus orang Mesir, Turki, Tunisia, dan India;
  • makan di kantin kampus dilayani sama orang Filipina, India, dan Bangladesh;
  • beli sayur mayor dan buah-buahan sama orang Yaman;
  • suster di rumah sakit orang Filipina, India, juga Indonesia;
  • dokternya orang Mesir, India, Filipina, dan Turki;
  • beli laptop sama orang Pakistan atau India;
  • mau makan nasi bukhori sama orang Afganistan atau Pakistan;
  • sopir taksi kebanyakan orang Bangladesh, Pakistan, dan India;
  • beli bensin di pom bensin sama orang Bangladesh dan India;
  • yang jadi SPB (Sales Promotion Boy) di mall orang Filipina dan Mesir;
  • mau bayar belanjaan, kasirnya orang Mesir atau India.
  • pekerja bangunan di kampus kebanyakan orang Sudan atau Somalia;
  • pekerja pabrik di sekitar Sulaymaniah kebanyakan orang Bangladesh dan India;
  • dan mau pesan tiket pulang ke Indonesia pun yang melayani orang India.

Saya penasaran sekali, sebenarnya berapa sih jumlah pendatang dari tiap-tiap negara itu. Tahun 2007, Andrzej Kapiszewski seorang sosiolog dan diplomat, sekaligus professor di universitas Jagiellonian, Polandia telah melakukan penelitian. Di dalam penelitiannya tercatat bahwa ekspatriat terbesar yang tinggal di negara-negara Teluk terutama Saudi Arabia adalah India, kemudian diikuti oleh negara Pakistan, Mesir, Yaman, Bangladesh, Filipina, Sudan, Sri Lanka, Jordan/Palestina, Indonesia, dan Nepal. Silakan klik Table 1.

Tabel 1. Jumlah ekspatriat terbanyak di negara-negara Teluk (x 1000)

Lagi, di tahun 2010 juga dilakukan penelitian tentang perbandingan antara penduduk asli dan epkspatriat di negara-negara Teluk. Hasilnya cukup mengejutkan. Negara-negara yang luas wilayahnya kecil dan penduduk sedikit seperti UAE, Qatar, dan Kuwait ternyata persentase jumlah ekspatriatnya jauh lebih besar daripada jumlah penduduk aslinya. Tapi, bila dilihat dari jumlah ekspatriat di tiap-tiap negara Teluk itu, Arab Saudi merupakan negara yang paling banyak  memiliki ekspatriat, yakni 7.7 juta jiwa. Silakan klik Tabel 2.

Tabel 2. Perbandingan penduduk asli dan ekspatriat di negara-negara Teluk

Jadi, sampai saat ini, Arab Saudi adalah negara yang jumlah ekspatriatnya terbanyak di negara-negara Teluk. Lalu apakah jumlah itu terbesar di dunia? Hemm.. ternyata nggak. Ada negara-negara lain yang jumlah ekspatriatnya jauh lebih besar. Silakan klik gambar berikut ini.

Gbr.(4) Perbandingan jumlah ekspatriat di dunia

Ow ow.. ternyata jumlah ekspatriat terbanyak di dunia terdapat di Amerika Serikat, lalu Rusia, Jerman, Ukraina, Prancis, dan barulah Arab Saudi. Hemm.. topik ini sebetulnya sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam, suwer dech! apalagi melalui sudut pandang geografi kependudukan. Namun, tanpa mengurangi minat para pembaca, saya membatasi pembahasan ekspatriat di blog ini hanya pada tataran jumlah dan sebaran secara umum saja, terlebih lagi nggak bermaksud untuk mendiskriminasikan suku, bangsa, maupun agama tertentu. Kalau kata orang yang pernah ada di dekat saya mengatakan saya seperti ini,”Kamu itu orangnya cinta damai kokceilahhh..narsis abis dech! 🙂

Kembali ke cerita mengenai keberadaan para ekspatriat di Arab Saudi. Keberadaan mereka di tengah-tengah kehidupan saya bagaikan tujuh warna pelangi. Me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Ada rasa keingintahuan untuk mempelajari budaya mereka. Setidaknya belajar bahasanya. Hemm.. dipikir-pikir kalau mau belajar tujuh bahasa dunia akan mudah banget dong.

Semisal, “apa kabar?” jawabannya,“baik” atau sejenisnya yah.

– Bahasa Arab formalnya,“Kaifa haluk?” jawabannya,“bikhoir”.

– Bahasa Arab gaulnya,“Kif halak?” atau singkatnya,“Kifak?” jawabannya,”kuways”.

– Bahasa Arab Mesirnya,“Zayya ahwalak?” jawabannya,“miyah miyah”.

– Bahasa Inggris,“How are you?” jawabannya,“fine”.

– Bahasa Urdu (India/Pakistan),“Kiya hal he?” atau “Ab kase he?” jawabannya,“Thike”.

– Bahasa Bengali,“Kamunacen?” jawabannya,“Balo ce”.

– Bahasa Filipino,“Kumusta ka?” jawabannya,“Mabuti”.

– Bahasa Turkish,“Nasilsin?” jawabannya,“ince”.

Kan ada istilah “Learning by doing” yaitu belajar dengan melakukan secara langsung atau dipraktekan. Cara itu dinilai efektif dalam memberikan pemahaman kepada si pembelajar. Apalagi diulang-ulang setiap hari bila kita bertemu dengan para ekspatriat itu. Sehari satu kosakata, kira-kira kalau setahun sudah berapa kosakata ya?? Ratuusaaan…

Luar biasa deh tinggal di Jeddah. Keberadaan para ekspatriat dari berbagai negara itu bisa membuat kita lebih mengenal lebih banyak tentang keunikan manusia yang berlatar belakang berbeda-beda. Kalau tinggal di Indonesia, kita akan merasakan keanekaragaman suku bangsa, seperti Jawa, Sunda, Madura, Minang, Batak, Betawi, Ambon, Bugis, Dayak, Papua, dan ribuan suku lainnya. Tercatat, Indonesia punya 1.128 suku bangsa loh. Nah, di Jeddah yang kita jumpai adalah keanegaraman suku bangsa di dunia. Kalau mau tahu lebih aneka ragam lagi, coba saja ke Corniche Mall di Al-Balad, terutama di malam Jum’at (weekend). Tombo ngantuuukk..!! (#tukul mode on) dan dijamin malam itu akan terasa sangat singkat dech, bahkan nanti nggak mau pulang ke rumah 😀 ckckck…

Saya jadi teringat dengan firman Allah SWT dalam Qur’an surat Al-Hujurat (49) ayat 13, tertulis dengan jelas pesan-Nya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Berbedanya diri kita dengan lainnya dari segi suku bangsa bukan menjadi perbedaan tingkat kemuliaan kita di mata Tuhan. Walaupun orang itu kulitnya hitam, kerjanya mencari butir-butir kurma yang tercecer atau mengumpulan tumpahan minyak buminya, namun bila hatinya baik dan ibadahnya rajin, justru dialah yang lebih baik daripada orang-orang yang putih kulitnya, mancung hidungnya, Land Cruiser mobilnya, 4 lantai rumahnya, direktur pekerjaannya, tapi pelit dengan hartanya, sombong perangainya, bahkan nggak mau mengenal adanya Tuhan.

Alangkah bahagianya bila sudah ganteng/cantik, banyak hartanya, baik hatinya, dan ia mau mengenal Tuhannya bahkan rajin ibadahnya. Pastilah Syurga balasannya di akhirat nanti. Hemm.. udah dapet syurga dunia, eh dapet syurga akhirat juga, manteb coy..!!

—————————–

Sumber:

1. Gambar (1), (2), (3) dari   dokumentasi pribadi

2. Gambar (4) dari   http://www.nationmaster.com/..

3. Tabel 1 dari   http://www.un.org/esa/population/..

4. Tabel 2 dari   http://www.eida.gov.ae/userfiles/..

5. Kutipan ayat dari     http://quran.com/